PUISI: ABRAHAM

Tentang Hari Raya Qurban

0 33

Rebahlah ia di tepi mesbah.

Dikunyahnya perintah

dari Dzat nan jauh,

tak kasat di matanya,

tersembunyi dalam sejarah nenek moyangnya,

yang lama jadi benih api di dasar hatinya,

yang lambat laun lembut dikenalinya.

 

Satu-satu nya benih yang ditetaskannya

bakal jadi rimbunan pasir di pantai, gurun, bukit-bukit  yang akan disinggahinya.

Meski ia tak tahu bagaimana ia masih beranak-pinak dari benih uzurnya.

 

Tiba-tiba hatinya dihentak petir.

Si bocah ontang-anting kecintaannya

dipapah mendaki bukit terjal.

Semak duri menjerat kaki-kaki, menusuk-nusuk hatinya.

Kehilangan menggerogoti,

menahan tangis bapa.

Dipelupuk mata disembunyikannya sedu-sedan rapat-rapat.

Kisah apa mesti kubawa kembali ke pangkuan ibunya petang nanti?

Bisiknya lirih pada telinganya sendiri.

 

Iman Abraham pasrah

pada Yang Widi,

yang belum menjelma cahaya, yang belum seberapa dikenalnya.

Cintanya yang pasrah

segera tumpah di mesbah.

 

Bukan sekedar kambing domba dan darahnya saja yang ingin diwariskannya pada ismael,

pada ishak yang datang kemudian,

kepada suku-suku turun temurun,

melainkan cinta dan pasrahnya pada Ilah tunggal yang masih asing itu.

 

Entah seberapa besar duka ditanggungya,

sebab dalam bab-bab terpanjang sejarah yang diwartakan

bani ishak dan ismail tak lagi duduk makan di satu meja.

Lalu kita bertelingkah siapa yang paling pantas dikorbankan di atas mesbahmu.

Lupa bahwa belas kasih lah intisari upacara korban sembelihan itu,

yang mesti diwariskan kepada anak cucu cicit berabad kemudian.

 

Cinta Ilah itu mestinya mengatasi cemburu dan ketakutan Sarah

yang menyingkirkan Hagar dan Ismail ke padang kerontang demi Ishak putra barunya.

belas kasih Ilahi itu

menjemput dua sahaya,

sampai lahir bangsa-bangsa besar di wilayah-wilayah lain yang sama tinggi nilainya dengan anak cucu cicit Sarah juga.

 

Kita yang jauh berabad-abad tali-temalinya,

apa perlunya menerima warisan pertelingkahan itu?

Tanpa pertalian darah,

pun kita cuma kenal sedikit remah-remah yang ditapis, ditulis ulang berabad-abad,

ditafsir jadi dogma,

kita kupas kulitnya.

malanglah kalau kita tak mampu memetik CINTA & BELAS KASIH sebagai intinya.

 

F.S. 28.07.2020

*Menjelang hari raya qurban.

Selamat merayakan hari raya korban, membagikan cinta yang adil dan merata akhir pekan ini.

 

 

Warga Indonesia, bekerja sebagai konselor bersama Tenaganita, sebuah organisasi masyarakat sipil di Malaysia yang bekerja untuk perlindungan hak-hak pekerja migran dan pengungsi. Puisi-puisinya bisa dibaca pada https://allpoetry.com/Fajar_Santoadi

Leave A Reply

Your email address will not be published.