Wawancara Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid Setiadi (2): Jalur Rempah adalah Jalur Kebudayaan

0 61

Pandemi Covid-19 telah membuat perubahan sosial budaya kita dan mengubah perilaku dan interaksi kita, misalnya mulai dari: tidak bersalaman. Akibatnya, keintiman budaya kita yang sangat physical, pelan-pelan menghilang.  Lalu, bagaimana dampak perubahan ini dengan kehidupan lain, misalnya ekonomi ?

Penyiar Radio Katolikana Abraham Rahmat Adhie Pribadi atau Kang Mamat berhasil mewawancarai Direktur Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid Setiadi (52).

Bang Fay, demikian panggilan alumnus National University of Singapore (PhD) dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga mengulas tentang jalur rempah dan kaitannya dengan jalur sutra.

Berikut petikannya.

BACA JUGA: Wawancara Hilmar Farid (1): Pandemi Covid-19 Membawa Jenis Keintiman Baru

Mengenai jalur rempah yang digarap oleh Direktorat Kebudayaan? Itu apa sih sebenarnya?

Jalur rempah ini suatu narasi sejarah, sebuah kerangka berpikir tentang sejarah. Jika kita lihat sejarah perjalanan Indonesia sejak masa lalu yang sangat jauh itu di mana rempah-rempah itu memainkan peran yang sangat penting.

Kalau biasanya narasi sejarah tentang jatuh bangunnya kerajaan, muncul hilangnya orang besar, kita juga melihat bahwa sebetulnya ada satu proses yang mengalir di bawah itu yang berkenaan dengan rempah.

Rempah tentu bukan faktor determinan yang menentukan segalanya, tapi adalah komponen atau unsur yang sangat penting di dalam perjalanan sejarah yang panjang itu.

Jalur rempah sebetulnya adalah jalur kebudayaan. Kebudayaan dalam arti pemikiran dan praktik-praktik yang berkembang dalam interaksi orang di sebuah perjalanan yang sangat panjang terkait rampah.

Rempah bukan hanya diperdagangkan, tetapi bukan hanya rempah sebetulnya yang dibawa. Praktek kesenian, bahasa, agama, keyakinan dan macam-macam itu juga dipertukarkan, didalam proses yang sangat panjang.

Untuk waktu, mungkin ketika bicara tentang rempah-rempah orang langsung teringat: “Wah VOC, di abad ke 17 berkuasa di Maluku dan kemudian menguasai perdagangan rempah.”

Itu memang satu episode yang sangat penting. Tetapi jalur rempah jauh melampaui itu semua.

Jauh sebelum kedatangan Eropa sudah terjadi interaksi. Kalau kita lihat, Borobudur mempunyai rekaman, dan hampir semua candi-candi di Jawa punya rekaman visual dari penggunaan rempah bagi berbagai macam keperluan, entah makanan, obat dan seterusnya.

Kalau kita tarik mundur lebih jauh untuk melihat pelabuhan tua seperti Barus yang membawa kapur barus, itu sampai ke Mesir 3000 tahun lalu. Jadi, kita berbicara masa yang sangat panjang.

Jalur rampah ini adalah sebuah narasi untuk mengangkat kembali kenyataan sejarah ini. Kenapa? Karena kita melihat selama ini ada potensi luar biasa di Indonesia.

Indonesia adalah negeri dengan keanekaragaman hayati yang termasuk paling tinggi di dunia. Pada saat bersamaan termasuk dalam negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat tinggi.

Kita berbicara dengan tidak kurang 680-an bahasa yang terdiri dari begitu banyak kelompok etnis dan seterusnya.

Kalau ini saja dibuat matriks jadi keanekaragaman hayati dibuat ke samping dan keanekaragaman budaya dibuat ke bawah, maka kita akan mendapat matriks yang sangat kompleks.

Masyarakat kita tahu menggunakan tanaman, bahkan tidak ada sisanya: akarnya, batangnya, daunnya, kulit pohon dan segala macam itu semua kita pakai dengan macam-macam khasiat, keperluan yang pengetahuannya diwariskan secara turun temurun.

Kita selama ini—menurut pembacaan saya—belum mengolah dan memanfaatkan kekayaan intelektual secara maksimal. Ini kenyataan.

Industri farmasi itu, 25 persen dari yang diproduksi industri farmasi modern, sumbernya adalah sumberdaya genetik dan pengetahuan tentunya dari Amazon.

Indonesia sebetulnya kontribusinya tidak kecil. Kita punya rempah dan rimpang. Rimpang adalah yang tumbuh di dalam jahe dalam jumlah yang sangat banyak.

Kalau kita perhatikan, hampir semua komunitas kita punya ilmu mengenai itu yang diwariskan dalam tradisi lisan, tarian dan dalam berbagai macam bentuk.

Tugas jalur rempah yang kita gagas ini adalah merekam dan mendokumentasi itu semua, karena itu akan menjadi basis dari macam-macam praktek baru, pemikiran-pemikiran baru termasuk pemikiran dan praktek yang bisa menjadi solusi bagi keadaan kita sekarang ini.

Pandemik ini membawa satu problem baru bahwa kita berkontribusi terhadap kemunculan pandemik itu sendiri dengan rusaknya ekosistem, abai terhadap keanekaragaman hayati, lingkungan hidup dan semua isu itu.

Dengan jalur rempah kita coba mengingatkan bahwa kita duduk di atas kekayaan pengetahuan tadi. Keanekaragaman hayati di beberapa daerah yang masih bisa diselamatkan adalah sumber yang luar biasa.

Sekarang dunia tengah bergerak dari keuntungan ke keselamatan. Kalau dulu orang berpikir bagaimana untuk tumbuh menjadi lebih besar, lebih modern, lebih cepat dan seterusnya. Sekarang, diskursusnya mengalami pergeseran dan ini sudah menjadi bagian dari mainstream.

Anda mungkin akrab dengan Ensiklik Paus Fransiskus “Laudato Si”, tentang lingkungan hidup, tentang keselamatan umat manusia. Ketika disampaikan 2017, banyak orang mengatakan: “Oh, ya, bagus. Ini punya konsern terhadap lingkungan.”

Tetapi dunia sedang bergerak ke arah pertumbuhan kemajuan. Sekarang tiba-tiba semua orang menengok kembali kepada pemikiran seperti Laudato Si, bahwa ternyata ada yang kita abaikan.

Bahkan institusi-institusi mainstream yang biasanya pokoknya pertumbuhan kayak IMF, Bank Dunia, World Economic Forum, sekarang semua berbicara tentang pentingnya kita memperhatikan keselamatan lingkungan.

Banyak ide yang mungkin dulunya dianggap aneh, dianggap tidak mainstream, sekarang tiba-tiba mendapat tempat di dalam institusi-institusi yang sangat mapan ini.

Dunia sedang bergeser. Yang saya mau bilang bahwa dulu fokus kita adalah pertumbuhan, percepatan, kekayaan, kemakmuran. Sekarang orang berpikirnya nomor satu: keselamatan.

Jalur rempah, karena fokusnya kepada pengetahuan tradisional, kalau kita lihat keselamatan itu ada di dalam jantungnya pemikiran sepanjang jalur rempah. Ini menjadi sesuatu yang sangat relevan, sebagai solusi maupun alternatif, terhadap situasi yang kita hadapi sekarang.

Agar lebih konkret, pembangunan kita selama ini sangat bersandar pada industri ekstraktif: tambang, perkebunan, dan kita menarik manfaat dari fokus pembangunan itu. Tapi kita tahu pada saat bersamaan kerusakan lingkungan yang terjadi akibat itu juga tidak kecil.

Sekarang ketika melihat potensi yang ada pada sumberdaya genetik dan pengetahuan sumberdaya kita yang begitu besar, seandainya sekarang kita juga mulai melakukan pergeseran paradigma, dari yang serba pertumbuhan ke keselamatan, maka sebetulnya kita berada pada posisi yang sangat kuat.

Kenapa? Karena kita punya jalur rempah. Bukan hanya tanamannya, bukan hanya keanekaragaman hayatinya, tetapi juga gugus pengetahuan yang luar biasa kaya, tetapi selama ini belum kita dokumentasi, belum kita olah dan kita gunakan secara optimal.

Sebagai contoh, Cina ketika menghadapi pandemi Covid mengaku 98 persen dari pasien yang menderita Covid di-treat dengan apa yang mereka sebut dengan pengetahuan tradisional. Saya tidak bilang bahwa obat tradisional menyelesaikan segalanya, tetapi pengetahuan tradisional ini ternyata punya kontribusi tidak kecil.

Terhadap upaya untuk menyembuhkan orang, dan sekarang kita lihat salah satu yang ditonjolkan obat untuk melawan Covid ini adalah daya tahan tubuh kita. Bukan suatu obat atau vaksin dari luar, tetapi sebetulnya imunitas tubuh kita.

Jalur rempah pasti mengenai itu. Jadi, kekayaan pengetahuan dan kekayaan hayati kita itu akan berkontribusi sangat besar terhadap upaya penguatan tubuh.

Kalau hal ini kita terjemahkan, misalkan dalam bidang pariwisata, kita akan mendapatkan gambaran lain. Pariwisata mestinya tidak lagi pariwisata massal, tetapi pariwisata yang berbasis pada keingintahuan mengenai keanekaragaman hayati.

Kita bicara ecotourism, tentang kearifan lokal, tentang turis atau pariwisata yang datang untuk belajar. Belajar untuk apa? Belajar untuk selamat dari hidup sekarang ini yang tengah berubah.

Kalau 10 tahun lalu mungkin ini dianggap eksotik: “Oh, ya nih, kita pergi ke dunia ketiga untuk melihat hutan tropis.” Terus sudah, dan mereka kembali ke dunianya lagi. Sekarang bukan lagi kemewahan, jangan-jangan ini sudah menjadi kebutuhan baru: kembali berinteraksi dengan alam.

Jadi banyak hal yang bisa muncul dari jalur rempah yang kontibusinya berada di luar kebudayaan yang sangat spesifik. Masalahnya adalah penerjemahannya. Buat saya ini bukan sekadar kenangan pada masa lalu, ingin melihat, tetapi sebetulnya juga turut berkontribusi pada pemikiran tentang masa depan.

Saya punya keyakinan kalau kita fokus pada pengembangan jalur rempah, mengoptimalkan cultural resources, sumberdaya pengetahuan, sumberdaya genetik yang kita miliki di dalam masa pandemik ini, akan menjadi kekuatan luar biasa secara ekonomi. Secara sosial kita juga punya kontribusi membantu semua orang di seluruh dunia dengan pengetahuan yang kita miliki tentang daya tahan gitu.

Buat saya, menempatkan jalur rempah seperti itu. Sering saya bilang kepada teman-teman Bupati, Walikota, seandainya Anda fokus mengembangkan ini, semua sumberdaya pengetahuan yang kita miliki untuk mengembangkan daerah Anda, saya merasa jalannya akan lebih cepat dari pada fokus pada salah satu sektor yang konvensional, seperti tambang atau yang lain.

Banyak dari mereka yang sekarang mulai tertarik. Kita sudah berdiskusi lebih intens, misalnya buat Indonesia Timur. Menurut saya, kepulauan itu justru sekarang punya nilai strategis luar biasa karena dia bisa mengisolasi. Jadi, betul-betul bisa memutus rantai persebarannya karena sifat kepulauan itu.

Kalau sekarang kita bisa work from home sebetulnya kita bisa bekerja dari mana saja karena sekarang ada fasilitas yang cukup. Seandainya pulau-pulau yang jauh itu punya fasilitas dasar seperti internet, air bersih dan seterusnya, saya yakin orang akan banyak berpikir ‘udah deh, gue kerja di sana aja selama tiga bulan dari pada di Wuhan, Shanghai, atau Singapur’. Dengan sumberdaya lokal, makanan, semua untung. Itu mimpinya kearah sana.

Ada persamaan ‘jalur rempah’  dengan ‘jalur sutra’ yang ada di Cina?

Cina juga sama sebetulnya. Melihat Cina dengan hubungannya banyak sekali sampai ke negara barat melalui jalur perdagangan sutra. Yang banyak orang tidak tahu, di jalur sutra itu sebenarnya yang diperdagangkan juga banyak produk rempah.

Di jalur sutra itu sebetulnya bukan hanya sutra. Memang karena sutra itu asalnya dari Cina, maka dinamakan jalur sutra. Tetapi sebetulnya yang diperdagangkan banyak sekali, termasuk salah satunya rempah menjadi komoditi yang dominan dalam pertukaran itu.

Dengan logika yang sama, karena rempah sebagian besar berasal dari Maluku, dan merupakan  tanaman endemik dari Maluku, maka kita bikin yang sama.

Maka kita tahu sebenarnya ada hal yang lebih penting dalam dunia maritim. Kita tahu bahwa bangsa Eropa datang ke sini karena rempah. Pelaut-pelaut dari Arab, pelaut-pelaut dari India, abad 9-10 datang ke sini juga karena rempah, termasuk dari Cina datang ke sini juga dengan alasan sama.

Saya kira jalur rempah ini akan melengkapi gambaran tentang sejarah dunia, dan melihat kontribusi jalur ini terhadap perkembangan peradaban, bahwa kita berkontribusi sangat besar terhadap peradaban Eropa karena hubungan kolonial itu.

Kota-kota di Eropa seperti Amsterdam dibangun karena adanya hubungan perdagangan dengan kita di sini, perdagangan yang tidak seimbang tentunya. Karena lebih banyak kita diambil daripada dibeli.

Itulah saya kira tempat jalur rempah dalam perjalanan sejarah kita. Saya melihatnya dalam kerangka lebih besar secara waktu, secara temporal, lingkupnya lebih luas untuk melihat dampaknya terhadap kehidupan, dengan melihat perjalanan sejarah. Ya, mirip dengan narasi jalur sutra.

Mengenai upaya meminta pengakuan dari UNESCO, apa arti pentingnya?

UNESCO punya mekanisme, mereka punya daftar warisan dunia dan ada banyak sekali situs dan juga kawasan bersejarah yang masuk ke dalam daftar itu dan setiap negara punya kesempatan mengusulkan situs yang ada di negerinya untuk masuk ke dalam daftar tersebut.

Dari kita ada Borobudur, Prambadan, Subak di Bali, Sawahlunto dan juga Sangiran. Itu lima situs yang masuk dalam daftar warisan dunia. Kuncinya sebetulnya pada konsep yang mereka sebut outstanding universal value (nilai universal yang menonjol) dari situs itu karena punya arti penting bagi peradaban. Kurang lebih begitu. Peradaban tentu juga kemanusiaan.

Dengan berupaya mendaftarkan jalur rempah menjadi warisan dunia, kita justru ingin mengafirmasi bahwa jalur rempah ini bukan hanya menarik sebagai objek sejarah, tetapi memang punya kontribusi sangat besar terhadap peradaban.

Kenapa ini penting untuk disampaikan? Karena di dalam narasi sejarah yang dominan itu, cerita ini hilang. Jadi modernitas di Eropa itu dianggap sebagai misalnya perkembangan teknologi yaitu dewanya adalah James Watt penemu mesin uap.

Kita ingin memberi tahu bahwa jauh sebelum James Watt—dan sebetulnya James Watt bisa sekolah, bisa memikirkan segala perkembangan terknologi itu—ada basis perjalanan sejarah cukup panjang ketika rempah-rempah diperdagangkan dan membawa kemakmuran yang sangat besar bagi Eropa, dan kemudian memikirkan modernitas.

Ada beberapa studi menarik yang menggambarkan kontribusi sejarah non-Eropa terhadap perkembangan di Eropa. Buat kita di Indonesia ini sebuah nilai universal yang menonjol dari jalur rempah karena dia memengaruhi bukan hanya sejarah kita tetapi bahkan sejarah dunia.

Sudah sepatutnya kita juga masuk ke dalam daftar warisan dunia. Tentu pengakuan dari UNESCO berarti itu pengakuan internasional. Jadi, seluruh dunia yang menjadi anggota UNESCO sepakat bahwa ini adalah situs yang sangat bermakna dan sangat penting bagi kemanusiaan.

Dengan adanya pengakuan itu berarti narasi sejarah yang tadi saya ceritakan itu juga mendapat pengakuan. Tentu ini bukan karangan saya. Ada banyak ahli lain, teman-teman Arkeolog, Antropolog, Sejahrawan, Linguis dan segala macam yang terlibat di dalam proses ini. Tapi usaha bersama ini sebetulnya untuk menegaskan sebenarnya di mana kedudukan jalur rempah dalam sepanjang sejarah kita

Pengakuan itu bukan semacam reward yang membuat kita terlena, justru menjadi PR untuk kita memeliharanya?

Betul. Karena pengakuan itu juga mensyaratkan negara yang mengusulkan punya kemampuan untuk menjaga kelestariannya. Misalkan, dia tidak mampu menjaga kelestariannya, suatu waktu juga bisa dicabut dari daftar.

Maksud kita untuk mendapatkan pengakuan jalur rempah ini agar dia juga mendapat perhatian yang cukup di dalam negeri. Itu pasti akan melewati daerah-daerah. Ada kabupaten dan kota, ada provinsi, berarti ada Bupati, ada Walikota, ada Gubernur yang juga akan masuk sebagai stakeholder utama dari urusan ini.

Kita berharap itu kemudian bisa ditetapkan dan kemudian perhatian para pejabat daerah terhadap jalur rempah dan budaya secara umum meningkat. Sekarang ini masih sangat terbatas. Kita bisa melihat dari anggaran kebudayaan, biasanya kalau ada situasi kekurangan anggaran, yang pertama sekali dipotong pasti anggaran kebudayaan.

Itu seperti menjadi rumus di daerah, di pusat juga sebetulnya sama. Kita mau menunjukkan: ‘lho kok kamu potong sesuatu yang sebenarnya potensinya sangat besar dan bisa memberikan kontibusi yang sangat besar untuk menyelamatkan perekonomian juga.’

Ini perencanaan yang terus didiskusikan, baik di Bapenas, Bapeda, DPR, DPRD. Sekarang kita lagi sangat giat berusaha juga memperkuat argumentasi, garis kebijakannya, pemikirannya, sebenarnya sejauh in respon mereka cukup lumayan, cukup bagus.

Ada beberapa daerah yang committed, sangat mengerti kenapa ini menjadi penting dan punya komitmen untuk berkontribusi. Di samping itu, pengakuan dari UNESCO pasti membawa kebanggaan dengan sendirinya.

Saya kira ada situs yang dijadikan sebagai warisan dunia tentu punya nilai tersendiri dan itu tentu akan menjadi insentif yang kemudian membuat orang menjadi tertarik untuk terlibat.

Langkah konkret apa yang sudah diwujudkan berkaitan dengan jalur rempah?

Sekarang kita ada di dalam fase membangkitkan perhatian terhadap jalur rempah. Ini lagi masuk dalam fase kampanye, penyebaran informasi, menyelenggrakan kegiatan-kegiatan, sehingga perhatian dan juga pengetahuan publik mengenai jalur rempah itu bisa meningkat.

Salah satu kendaraan untuk meningkatkan perhatian dan pengetahuan itu adalah dengan Karavan Budaya. Ini adalah rangkaian kegiatan yang terjadi di tempat berbeda-beda sepanjang jalur rempah, tetapi diikat dengan pemikiran yang core atau inti pemikiran yang sama.

Soal rempah, interaksi budaya, pertukaran, toleransi, macam-macam hal yang terkait dengan itu. Agar lebih terasa jalurnya, kita memang mau berlayar.

Harusnya tahun ini kita berlayar dari Ternate sampai ke Oman, lalu kembali melewati pantai timur Afrika, Madagaskar, lewat Srilangka dan kemudian kembali ke Indonesia.  Jadi seluruhlah, lautan Hindia itu, mestinya kita berlayar.

Tahun ini sudah disiapkan semuanya bekerja sama dengan Angkatan Laut. Kita menggunakan kapal latih Angkata Laut Bima Suci,  kapal yang baru, untuk keliling wilayah. Kita sudah sempat bicara cukup jauh secara teknis, tapi datang Covid jadi berubah semua agenda.

Saya sudah dapat konfirmasi kalau tahun depan jika keadaan sudah lebih baik, kita akan tetap jalankan. Tetapi, mungkin kita di Indonesia dulu. Kita akan mengadakan perjalanan dengan kapal di 20 titik di Indonesia dan sepanjang jalur itu kita mengadakan kegiatan terkait dengan rempah-rempah.

Tentu melibatkan sebanyak mungkin kalangan terutama kalangan muda; pelajar, mahasiswa, yang menjadi sasaran program ini. Kita sedang melihat kemungkinan mereka ikut di kapal, jadi lebih seru juga ada satu tim yang mengikuti perjalanan itu adalah anak-anak muda, punya pengalaman berlayar.

Kita kan negeri maritim. Tapi, banyak orang di negeri kita takut air. Jadi ini semacam ironi. Kita ingin menunjukkan bahwa laut bukan sesuatu yang jauh secara mental.

Sekarang posisinya gitu kan? Meskipun kita di pesisir tetapi ketika bicara soal laut pasti jauh. Kita tinggal di Jakarta, tidak sadar bahwa kita tinggal di pinggir laut.

Jadi upaya mendekatkan kepada dunia maritim itulah yang kita sasar di tahun pertama ini. Tentunya akan ada seminar-seminar, terbitan, publikasi, pameran yang kita lakukan untuk membantu proses itu.***

BACA JUGA: Wawancara Hilmar Farid (1): Pandemi Covid-19 Membawa Jenis Keintiman Baru

Simak wawancara ini melalui Katolikana Podcast:

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.