Cerita Prapaskah: Pantang Kopi!

Pantang minum kopi. Sehari tanpa kenikmatan. Udah gitu aja.

0 153

Katolikana.com – Selasa malam, 16 Februari 2020, sebelum kami beranjak tidur, kami berkumpul bersama. Ini kebiasan rutin, bahkan jadi kewajiban. Salah satunya, menghantarkan putri bungsu untuk istirahat.

Kebiasaan ini sejak kegiatan bekerja dan sekolah dilakukan di rumah. Tak terasa, rutinitas berdoa bersama sebelum tidur malam, sudah berjalan 11 bulan.

Dalam momen ini, sebelum berdoa, yang kami lakukan adalah ngobrol. Putri bungsu yang banyak membuka obrolan. Ia punya banyak tema. Ada saja yang diobrolkan, dari masalah buku, kelas, belajar berhitung, masalah mimpi, burung tetangga, nulis cerita, bahkan drama korea pun dibahas seruu. Soal upil dan kentut pun bisa jadi obrolan seruu, bahkan jadi bahan canda, bisa bikin ketawa ngakak…

Janji jam sembilan malam masuk kamar dan tidur cepat sering tak terpenuhi, karena acara ngobrolnya tak putus, atau panjang. Kadang, satu jam kemudian, baru bersepakat doa dan tidur.

Malam sebelum Rabu Abu-awal masa prapaskah- yang diawali laku pantang dan puasa, menjadi satu topik obrolan kami. Pertama saling lempar pantangan makan dan minum. Aku, yang jadi sasaran, didapuk pantang kopi! Kopi disebut dari sekian makanan dan minuman kesukaan; pantang sambal, cemilan, kue. Yang berat-berat, si adik pantang nonton televisi, si kakak pantang media sosial. Si ibu…pantang apa ya…tiap hari sudah pantangan…haaa…(huss rahasia…).

Pantang minum kopi akhirnya aku iyakan. Kakak-adik dan pasanganku itu tahu semua, bahkan bapak-bapak sekompleks tahu kalau aku ‘candunya’ kopi…haa…Maklum, sebelum pandemi, geng ngopi selalu menanti kopi robusta yang dipanen dari kampung di perbukitan Muara Dua, Sumatera Selatan.

Kopi jenis robusta ini memang yang paling kuat bertahan, jadi idolaku sejak kecil. Ngomong-ngomong, kapan teman-teman minum kopi untuk pertama kalinya? Sejak usia remaja SMP, SMA, atau saat kuliah?

Aku pertama kali minum kopi sekitar usia 12 tahun. Sejak di bangku SD aku icip-icip kopi bapaku. Awalnya pahit, tapi minum berulang-ulang…haa… Masa itu pertama kali lidahku kenal rasa kopi.

Rasa kopi kampung tatkala om-om, kerabat, dan tetangga sering kumpul-kumpul yang selalu tersaji kopi hitam- sering disebut kopi asli.

Bubuk kopi asli itu karena tak ada campuran jagung. Kami suka mengeluh saat rasa kopi itu ada campuran jagung. Bubuk kopi asli itu dipesan oleh ibu atau bapak dari penggiling langsung. Kopi asli ini digemari orang kampung.

Wah, kalau cerita kopi nggak putus-putus, haa…kembali ke cerita pantang kopi ya.

Rabu Abu, 17 Februari 2021 datang pada musim hujan. Minum kopi dalam situasi ini kenikmatan. Namun, bagiku minum kopi itu menjadi ritual. Ritual yang abadi..haa..

Segala permasalahan, kepenatan, keruwetan pikiran, terurai dengan duduk sejenak di teras rumah dengan menyeruput kopi. Itulah muara bagi peminum kopi, menurutku. Menata hati, pikiran, rasa, dan harapan.

Dua minggu ini hidup begitu ketat dengan deadline. Aku menyunting dua buku yang harus selesai di bulan Januari dan Februari. Konsumsi minum kopi pun bertambah, dari satu cangkir per hari menjadi dua cangkir. Tentu, kopi pahit, hanya ditambahkan sedikit gula, itu sebaga syarat— kata ‘orang Jawa’ yang suka minum manis.

Prapaskah sudah dimulai dua hari lalu. Pantang dan puasa aku jalani. Orang Katolik puasanya, makan tiga kali, kenyangnya sekali, atau bisa juga disesuaikan dengan pribadi masing-masing. Lalu, pantang makan dan minum yang disukai atau betul-betul menjadi kenikmatan.

Jam 10 pagi, saatnya minum kopi. Ini jam-jam produktif. Kali ini aku benar-benar nggak ngopi. Gimana rasa lidah tanpai kopi? Bagiku, kopi adalah kenikmatan, boleh dibilang seperti ‘candu’. Jam kopi pagi sudah lewat, aku pun menghapus jadwal minum kopi dalam kepalaku.

Godaan kuat minum kopi datang sesudah makan siang. Satu hingga dua jam waktu ngopi untuk usir rasa kantuk atau ‘jam kritis’ saat tubuh dan mata mulai ngantuk. Kopi menjadi jalan keluar untuk mengatasi ‘jam kritis’ itu. Nah, karena sudah komitmen berpantang, aku pun berhasil melewatkan untuk tak menyeruput kopi robusta yang enak dan mantap.

Hingga malam, sekitar jam 21.30, kami berkumpul di ruang tidur. Seperti biasa, kami akan berdoa bersama, dan lagi-lagi kami buka dengan obrolan sana-sini. Cerita pantang dan puasa hari pertama jadi obrolan bersama. Saat itu aku baru menyadari, aku benar-benar nggak minum kopi!

Lalu, apa makna sehari tanpa merasakan kenikmatan minum kopi? Aku nggak mau jawab ah, terlalu dini bro and sist…perjalanan masih panjang, belum genap 40 hari…

Jurnalis dan editor. Separuh perjalanan hidupnya menjadi penulis. Menghidupkan kata, menghidupkan kemanusiaan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.