Yuk, Bijak Kelola Uang di Usia 20 Tahun!

Hadirnya e-commerce atau media sosial menjadi satu alasan generasi Z makin konsumtif. Mereka sulit membedakan kebutuhan dan keinginan serta belum bisa mengelola keuangan dengan maksimal.

0 27

Katolikana.com—Menabung menjadi salah satu langkah awal yang dapat dilakukan untuk menciptakan kondisi keuangan yang stabil dan terjamin. Namun, tidak semua orang bisa dengan mudah mengelola keuangan.

Sebagai mahasiswa, kita bisa mendapatkan uang dari orang tua maupun penghasilan atau gaji sendiri. Namun, uang tetap harus digunakan dengan benar dan bertanggung jawab.

Hal ini disampaikan oleh dosen Ekonomi Universitas Sintuwu Maroso Lefrand Mango, S.E., M.Si. dalam #LiveTalkshow #KatolikanaMuda bertajuk “Bijak Mengelola Uang di Usia 20 Tahun” yang tayang di kanal Youtube Katolikana dan Radio Katolikana, Minggu (2/5/2021) pukul 13.00 WIB, dipandu oleh Laurencia Eprina dan Maria Nariswari.

Talkshow ini juga menghadirkan mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Atma Jaya Yogyakarta angkatan 2017, Irlita Thania Millenia yang pernah bergabung di Kelompok Studi Pasar Modal di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Lefrand Mango

Kelola Uang dengan Baik

Menurut Lefrand Mango, mengelola uang yang baik dilakukan dengan cara memahami bagaimana uang tersebut digunakan.

“Setiap rupiah yang dikeluarkan harus tercatat dan terkontrol dengan baik. Hal ini penting untuk dilakukan sebab jika tidak tercatat dengan jelas, maka akan memengaruhi perencanaan keuangan ke depan akan sulit untuk dilakukan,” ujar Lefrand.

Lefrand menambahkan, “Saya sebagai orang tua mengamati generasi milenial saat ini soal catat mencatat apa yang digunakan, apa yang dikeluarkan itu sulit dilakukan.”

Irlita Thania mengisahkan bagaimana cara dia mengelola keuangannya. Menurut Lita, hal utama yang harus dilakukan dalam mengatur keuangan adalah menerapkan skala prioritas.

“Hal ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan keuangan masing-masing orang, misalnya menerapkan pembagian uang yang akan digunakan untuk keperluan apa saja,” ujar Lita.

Lita menambahkan, “Jangan sekali-kali ada mindset menabung atau berinvestasi kalau ada sisa. Bagaimana kalau tidak ada sisa? Lebih baik menabung dan investasi itu diatur sebagai prioritas, sisanya baru aku gunakan.”

Tantangan dalam Menabung

Menghadapi tantangan menabung bagi anak muda, Lefrand memaparkan sebenarnya hal tersebut bukan kelemahan anak muda saja, melainkan orang tua pula.

Kelemahan yang kerap dijumpai adalah tidak disiplin dan tidak konsisten.

“Memang kedisiplinan melakukan hal yang sama berulang kali tampaknya sangat membosankan dan membuat jenuh. Namun, jika dilakukan untuk sesuatu yang menghasilkan manfaat maka itulah yang akan mendorong kita,” papar Lefrand.

“Karena itu, disiplin untuk menabung dan menyisihkan pendapatan kita merupakan sebuah kewajiban dan benar-benar dilakukan,” tegasnya.

Menurut Lefrand, menabung dapat dilakukan secara bertahap dan berulang kali. Jumlah uang yang ditabung pun tidak perlu besar, tetapi dengan jumlah kecil yang dilakukan setiap hari maka hasilnya akan besar.

“Kita sebetulnya menghargai yang kecil namun dilakukan dengan frekuensi yang banyak maka akan menghasilkan sesuatu yang besar juga,” tegas Lefrand.

Mindset dalam Menabung

Usia muda 20 tahun, sebagai mahasiswa, bukan berarti harus menghabiskan uang. Namun mahasiswa dilihat sebagai sebuah investasi sumber daya yang besar.

Menurut Lefrand, banyak aplikasi hadir di tengah-tengah mahasiswa seperti m-banking, OVO, Dana, dan lain-lain mampu memudahkan mahasiswa untuk menabung dengan mudah karena tidak perlu pergi ke bank.

“Itu semua fasilitas yang memudahkan kita karena bisa digunakan kapan saja dan di mana saja, sesuai kondisi yang kita hadapi,” ujar Lefrand.

Lefrand menjelaskan, bahwa perilaku disiplin merupakan hal penting dalam upaya menabung agar dapat terlaksana dengan baik.

Namun, jika tidak dimulai dengan semangat dan niat di dalam diri kita sendiri, maka menabung tidak akan bisa tercapai.

Irlita Thania Millenia

Kebutuhan atau Keinginan?

Sebagai anak muda yang mulai punya berbagai macam kebutuhan, baik makanan, pakaian, atau pun hiburan kadang susah membedakan apakah dengan uang yang dikeluarkan, semata-mata kebutuhan atau hanya keinginan saja.

Lita menjelaskan cara membedakan kebutuhan dan keinginan adalah dengan tidak melihat brand secara spesifik sebagai suatu keharusan untuk didapatkan.

“Misalnya, lagi di kampus terus lapar mau makan ayam goreng tepung. Kan tinggal beli yang ada di kantin saja, paling 10.000. Tapi, maunya yang spesifik ‘KFC’. Itu sudah keinginan, bukan kebutuhan lagi,” papar Lita.

Menabung di Masa Pandemi

Masa pandemi menjadi situasi yang serba tak menentu. Orang bisa kehilangan pekerjaan, penghasilan berkurang, dan mengalami tekanan. Dalam menghadapi pandemi, mengelola keuangan merupakan hal yang perlu dilakukan.

Lefrand menjelaskan, di masa pandemi kita harus melakukan evaluasi keuangan dan memikirkan hal-hal apa saja yang dapat diperkecil sehingga tidak mengalami tekanan yang terlalu berat.

Contohnya, mahasiswa saat ini tidak pergi ke kampus sehingga tidak ada uang jajan dan biaya laundry bisa ditekan.

Menurut Lefrand, perilaku seperti ini bisa ditekan dan mengurangi pengeluaran, sehingga uang yang dimiliki bisa disisihkan untuk menabung.

“Berapa pun penghasilan kita, kita tetap bisa hidup. Begitu juga dengan penghasilan besar, kita tetap bisa hidup,” tegas Lefrand.

Sebagai mahasiswa di masa pandemi ini, Lita cenderung mengurangi pergi keluar rumah dan menghabiskan uang.

Baginya, membuat suasana rumah serasa cafe bukan hal sulit, sehingga semua cara dapat dilakukan untuk mengelola keuangan agar tidak habis sia-sia.

“Dengan uang yang aku punya, aku merasa cukup. Kadang uang itu bisa aku tabung dan investasiakan,” ujar Lita.

Lita menjelaskan, bila uang yang kita miliki dirasa kurang, sebagai mahasiswa kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat sesuai kemampuan. Misalnya berjualan, buka online shop, atau bekerja sesuai kemampuan.

“Sebenarnya banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan uang dengan cara kita sendiri,” tegas Lita.

Investasi

Selain menabung uang melalui bank atau dimasukkan ke celengan, banyak orang bicara tentang investasi. Menurut Lita dan Lefrand, investasi merupakan satu hal yang patut untuk dicoba oleh generasi muda.

“Meski jumlahnya bisa kecil, tapi investasi itu sangat aman. Selain itu, dengan investasi itu kita mengharapkan bahwa uang yang kita tanam dalam sebuah kegiatan tertentu, nantinya akan memberikan manfaat sebesar-besarnya,” ujar Lefrand.

Investasi merupakan hal yang sangat aman dan berisiko kecil karena dijamin oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga apa yang didapatkan pasti memberikan manfaat yang sangat baik.

Lefrand berbagi pengalaman, anaknya dikirimi uang setiap hari sebesar Rp 50.000. Ia dapat memutar uang saku yang diberikan. Setelah seminggu dikumpulkan, lalu dimasukkan ke dalam reksa dana.

“Selesai kuliah di Fakultas Kedokteran, anak saya tidak menghabiskan uang, namun justru punya tabungan sendiri. Saya sebagai orang tua sangat mengapresiasi keputusan tersebut,” ungkap Lefrand.

Lita sebagai mahasiswa ekonomi dan belajar secara detail mengenai investasi melalui Kelompok Studi Pasar Modal, saat ini mulai menyimpan uang yang didapatkan dalam sebuah investasi.

“Kalau aku sekarang dapat uang ditabung, ketika sudah terkumpul baru berpikir mau buat beli saham apa, nanti aku beli di minggu atau bulan ke berapa,” jelas Lita.

Namun, tidak dimungkiri investasi-investasi yang beredar di internet kadang tak terjamin keamanannya atau investasi bodong.

Sebagai awam atau orang yang baru belajar investasi, harus melihat secara detail dan teliti terkait investasi yang dipilih.

“Investasi bodong ini memang sangat menggiurkan karena pasti memberikan rate yang sangat besar, namun tidak terjamin oleh OJK,” tutur Lefrand.

Lefrand menjelaskan investasi bodong sangat mudah diketahui ciri-cirinya, yaitu bunga yang diberikan kepada nasabah lebih besar daripada nilai yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Di akhir talkshow Lefrand mengajak Sobat Katolikana untuk belajar mengelola keuangan sejak sekarang karena menurutnya akan sangat membantu dalam menghadapi masa depan.

“Ayo kita mulai saving dari apa yang kita dapatkan. Bagi yang sudah melakukan, ayo dilanjutkan dan dikembangkan terus,” ajak Lefrand.

Lita membagikan pesan bahwa uang itu bisa menjadi hamba yang baik sekaligus tuan yang jahat.

Jika uang dapat dikelola dengan baik maka kita yang menguasai uang itu. Tetapi jika kita tidak bisa menguasai uang itu, maka uanglah yang akan menguasai kita.

“Mungkin sekarang kita belum menyesal, tetapi 10 atau 20 tahun ke depan kita akan menyesal tidak cepat mengelola keuangan yang mungkin dampaknya di kemudian hari bisa menyusahkan orang lain,” tegas Lita.

Kontributor: Maria Nariswari, Laurencia Eprina Dian, Kevin Aditya (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.