Kisah Tragis Mantan Buruh Migran

Pahit manis mengadu nasib di negeri rantau.

0 65

Katolikana.com – Memperingati Hari Buruh Internasional, 1 Mei 2021, Komunitas SEPEKita mengadakan “Pelatihan Pengolahan Hasil Potensi Lokal NTT bagi Mantan Pekerja Migran dan Keluarga” di Noelbaki, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini adalah serial dari proyek panjang Komunitas SEPEKita untuk memberdayakan warga kecil.

Komunitas SEPEKita adalah sayap sosial karitatif dari para Misionaris Claretian yang berbasis di Kupang. Meskipun berada di bawah naungan para Claretian, anggota komunitas ini terdiri dari aneka latar pekerjaan, usia, dan agama.

Kegiatan pemberdayaan ini dihadiri oleh sebelas mantan buruh migran. Mereka memiliki kisah dan pengalaman hidup berbeda-beda saat bekerja menjadi buruh di luar negeri. Di antara mereka tak semuanya merasakan ‘manisnya’ sebagai pekerja migran, pengalaman pahit justru sering dialaminya.

Ana Rofina Dacosta adalah salah satu peserta pelatihan. Perempuan kelahiran 1981 itu menjadi buruh di Malaysia sejak Maret 2018 hingga Juni 2020. Ana direkrut oleh perusahaan yang memiliki sebuah kantor cabang di Kupang.

Selama menjadi buruh di Malaysia, Ana bernasib untung. Majikan mempekerjakan dan membayar Ana sesuai kontrak kerja.

“Hanya dua bulan awal saya beberapa kali mendapat marah karena majikan belum mengenal baik saya”, ujar Ana.

Ia mengenang memori indah bersama sang majikan, yang membelikannya pakaian, handphone, dan kebutuhan lain.

Kisah Ana adalah cerita langka. Ia beruntung punya majikan baik, namun tak sedikit di antara teman-temannya yang bernasib tragis.

 

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal bagi Mantan Buruh Migran di Kupang pada Hari Buruh Sedunia (1/3/21). Foto: Benevides/Katolikana

Kisah Vivin: Cerita Pilu dari Majikan ke Majikan

Dian Viviana, salah satu mantan buruh migran, yang ikut dalam kegiatan SEPEKita. Ia terpaksa menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW, sebutan lama sebelum diganti Pekerja Migran Indonesia) pada tahun 2004.

Kala itu Dian Viviana putus sekolah saat baru duduk di kursi SMP kelas III. Impian bersekolah tinggi rupanya terganjal masalah ekonomi. “Saya putus sekolah karena orangtua tidak bisa membiayai lagi,” ujar Dian Viviana.

Vivin, begitu ia dipanggil, direkrut dan diberangkatkan oleh sebuah agen (perusahaan) pada saat berusia 16 tahun. Semua dokumen keberangkatannya dipalsukan. Calo mengurus KTP dan dokumen lainnya untuk mengelabui petugas kepolisian.

Vivin bersama beberapa buruh berusia belasan tahun bahkan diajari teknik untuk bersandiwara di depan petugas. “Kami diajari untuk mengatakan dengan berani kalau sudah berusia 20 tahun”.

Vivin lolos dari sensor kepolisian. Seorang temannya ditahan karena tidak pandai berkata bohong seperti dirinya. Rencananya Vivin dan para buruh lain akan mendapat training dari agen perusahaan di Jakarta selama tiga bulan. Rupanya sebelum genap sebulan, Vivin diterbangkan lebih dulu ke negeri jiran.

Vivin, perempuan kelahiran 1992 ini lantas dipekerjakan sebagai petugas cleaning service di sebuah perusahaan. Menurut kontrak kerja dengan beban kerja yang berat, Vivin seharusnya dibayar 500 hingga 600 ringgit sebulan. Kenyataannya, Vivin hanya mendapat 300 ringgit/bulan. Berbeda dengan Ana yang mendapat bayaran penuh tanpa potongan, separuh gaji Vivin dipotong untuk membayar agen.

Vivin berniat memprotes pemotongan gajinya, namun ia tak bisa melakukannya karena sejak awal semua dokumen diambil oleh majikan. Vivin lantas harus bertahan memikul beban kerja selama dua tahun dan kembali ke Indonesia dengan membawa uang sekitar satu juta rupiah.

Tak patah arang. Vivin masih berharap dibantu dewi keberuntungan. Ia memutuskan kembali mendulang nasib ke Singapura pada 2007. Kali ini Vivin direkrut oleh seorang calo yang juga seorang warga eks-Timor-Timur seperti dirinya. Selama di Singapura, Vivin dua kali berganti majikan. Ia hanya bertahan delapan bulan pada majikan pertama lantaran sering dicaci-maki tanpa alasan yang jelas. Vivin meminta untuk pindah ke seorang agen lain.

 

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal bagi Mantan Buruh Migran di Kupang pada Hari Buruh Sedunia (1/3/21). Foto: Benevides/Katolikana

Di agen kedua, Vivin mendapatkan gaji sesuai kontrak kerja, tetapi beban pekerjaan tidak sesuai kontrak. Ia hanya memiliki waktu tidur 1-2 jam sehari. Di surat kontrak, pekerjaan Vivin adalah pembantu rumah tangga.

Namun de facto, Vivin diminta menjadi dukun karena majikan yakin Vivin memiliki kekuatan supranatural. Vivin menghasilkan banyak uang untuk majikannya sebagai seorang dukun yang mampu mengobati banyak pasien.

Vivin hendak berpindah majikan, tetapi apa daya semua dokumen berada di tangan majikan. “Capek. Saya sudah mengeluh, tapi majikan tidak ijinkan saya pulang,” ujarnya.

Vivin dan Ana berbeda nasib di tanah rantau. Keduanya terhimpit secara ekonomi. Tidak ada cara lain untuk bertahan hidup selain mengadu untung tak pasti di negeri orang. “Tidak ada lagi yang bisa kami buat di sini (di tempat asalnya)”.

Editor: Basilius Triharyanto

Staf Pengajar Filsafat dan Teologi Pra-Novisiat Claret, Kupang

Leave A Reply

Your email address will not be published.