Menjelaskan Allah Tritunggal

Hari Minggu setelah hari Raya Pentekosta, dalam kalender liturgi Gereja Katolik, adalah hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus. Bagaimana misteri Allah Tritunggal dijelaskan?

0 47

Inti perayaan pada Hari Raya Allah Tritunggal Mahakudus adalah misteri Allah Tritunggal. Semua elemen tata perayaan Ekaristi diarahkan pada inti iman Kristiani ini, termasuk khotbah atau homili.

Tentu bukan hal mudah berkhotbah tentang kodrat Allah Trinitas. Daripada pusing dan membingungkan umat, kita sering menjumpai imam yang khotbahnya mencari jalan pintas untuk menghindari kerumitan esensi Trinitas.

Lantas, bagaimana misteri Allah Tritunggal dijelaskan?

Sewaktu penulis belajar di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pada 2016 silam, seorang dosen pengampu mata kuliah Trinitas memberikan kami tugas yang menarik sekaligus menantang.

Kami dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diberi instruksi untuk menjelaskan misteri Allah Tritunggal yang super rumit dengan gaya populer. Tugas ini harus diperagakan, direkam, dan diunggah ke akun YouTube setiap kelompok.

Pendekatan analogis

Sebagaimana para mahasiswa Teologi umumnya, topik apa pun kami upayakan untuk dinalar dan diekspresikan dengan banyak cara.

Menyadari sulitnya memikirkan kodrat Allah Tritunggal di dalam dirinya sendiri, kebanyakan kelompok memutuskan untuk membahasakan misteri ilahi ini dengan logika analogi.

Analogi adalah satu satu cara membahasakan Allah dengan mencari konsep yang memiliki kesamaan sekaligus perbedaan. Cara ini lazim dipakai oleh para teolog skolastik dahulu kala.

Alhasil, muncullah beberapa alternatif penjelasan berikut. Allah Trinitas itu seperti Rapika three in one (pelicin, pewangi, pelembut). Ketiga kelebihan Rapika menyatu di dalam satu kemasan.

Adapun sodoran lain, Allah Tritunggal itu bak minuman kopi susu yang bercampur kental di dalam secangkir air.

Alternatif lain yang familiar sekali dengan dunia kehidupan para seminaris, yakni gitar, suara, dan tali gitar. Allah Tritunggal itu bagai bunyi harmonis yang dihasilkan paduan body gitar, talinya, dan suara yang dihasilkan.

Ketiga analogi di atas kelihatan membuka keran kebuntuan penjelasan atas misteri Allah Tritunggal. Namun, rupanya terdapat celah yang bisa menyesatkan.

Analogi Rapika, kemasannya dikemanakan? Analogi kopi, susu, dan air, apa fungsi cangkir?

Analogi bunyi gitar, bagaimana menempatkan peran para pemain gitar? Gitar tidak akan menghasilkan bunyian tertentu kalau tidak digerakkan oleh seorang pemain.

Logika analogi kelihatan memiliki kelemahan fatal. Pendekatan ini hanya mengantar orang pada reduksionisme: menyederhanakan objek hingga menjadi buram. Inti pembahasan dengan demikian tersingkirkan.

Pendekatan sistematis

Di antara popularitas pendekatan analogis yang simplikatif, ada pula kelompok yang bersikeras memakai tilikan Teologi Sistematis.

Salah satu pendapat yang sering dikutip berasal dari teolog Karl Rahner. Sederhananya, Rahner menjelaskan misteri Allah Tritunggal demikian. Allah Bapa, pribadi ilahi pertama, adalah pencipta dan perancang karya penyelamatan atas ciptaan.

Tuhan Yesus, pribadi ilahi kedua, diutus sebagai eksekutor proyek penyelamatan tersebut.

Allah Roh Kudus adalah pribadi ilahi ketiga yang berperan menyempurnakan dan menguduskan proyek penyelamatan Allah.

Ketiganya memiliki peran dan pribadi berbeda, tetapi miliki satu kodrat sebagai Allah.

Penjelasan sistematis di atas sejauh ini diterima sebagai kebenaran teologis, tetapi sangat spekulatif-abstrak.

Orang-orang yang tidak belajar Teologi akan mengalami kesulitan untuk memahami penjelasan Rahner.

Kalau demikian, apakah masih ada penjelasan yang benar, tetapi lebih mudah untuk dipahami banyak orang?

Pendekatan biblis

Alkitab Perjanjian Lama dan Baru adalah sumber legitimate dan paling dasariah dalam berteologi (menalar iman).

Alkitab, selain Tradisi Gereja, diterima Gereja Katolik sebagai kesaksian iman paling autentik tentang karya penyelamatan Allah yang beralur dari sejarah Bangsa Israel hingga fase hidup Yesus dan para Rasul yang dibimbing Roh Kudus. Karena itu, cara yang paling autentik adalah menjelaskan misteri Tritunggal dengan kitab suci.

Alkitab bukan traktat teologi atau akumulasi doktrin-doktrin moral dan dogma. Alkitab adalah narasi iman tentang Allah yang menyejarah di dalam pergulatan hidup manusia yang direpresentasikan oleh Bangsa Israel sampai pada para Rasul.

Pendekatan biblis dalam menerangkan misteri Tritunggal menggunakan gaya narasi. Bagaimana persisnya?

Dari mana kita mengenal Allah Bapa?

Kita mengenal sosok Allah Bapa karena Yesus berulang kali menceritakan kepada para murid-Nya dan para pendengar lain bahwa Ia memiliki Bapa dan ia diutus oleh Bapa (Bdk. Mat. 16: 27; 18: 10).

Sosok ilahi ini bukan Bapa Yesus sendiri. Yesus menyebutkan Bapa-Nya sebagai Bapa semua orang yang beriman (Bdk. Mat. 6: 9, 14-15, 18, 26, dan lain-lain).

Karena itu, kita juga menyebut sosok tersebut adalah Allah Bapa. Ada banyak teks Injil yang memberitakan Allah Bapa sebagai Bapa Yesus dan Bapa semua orang beriman.

Lalu, dari mana kita mengenal Allah Putra?

Kita mengetahui Allah Putra karena Yesus sering mengatakan Ia adalah Anak dari Allah Bapa yang mengutus diri-Nya (Bdk. Yoh. 1:14, 18; 6:57; 8:42). Tidak sedikit teks injil yang mengenakan kata Anak (dari Bapa) pada Yesus, sebutan tersebut entah berasal dari penulis injil, entah dari Yesus sendiri.

Terakhir, dari mana kita tahu bahwa terdapat Allah Roh Kudus yang patut kita sembah dan imani juga?

Tatkala hampir merampungkan petualangan misinya di bumi, Yesus berpamitan kepada para murid-Nya. Ia lantas berjanji kepada mereka Ia akan meminta kepada Bapanya untuk mengirimkan seorang Penolong yang lain (Bdk. Yoh. 14:16-17).

Sosok ilahi itu ialah “Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa, Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa.” (Bdk. Yoh. 15: 26, 16: 13). Pribadi Allah Roh Kudus sering diberitakan teks Injil dan teks-teks lain.

Bagian lain dari teks Injil berkali-kali membeberkan rahasia ketiga pribadi Allah, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat. 28:19).

Sebenarnya orang Kristen tidak kekurangan sumber biblis untuk memahami dan meyakini bahwa Allah di dalam satu kodrat memiliki tiga pribadi: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Meski demikian kita harus menerima bahwa kodrat Allah Tritunggal adalah sebuah misteri. Bila masalah memiliki jawaban, misteri tidak memiliki jawaban.

Selain itu, pengetahuan adalah kekuasaan. Bila manusia sudah mengetahui Allah secara total, membungkus Allah di dalam kotak intelektualitasnya, Allah tentu saja tidak lagi menjadi Allah. Yang menjadi Allah adalah manusia.

Karena dengan mengetahui tuntas tentang Allah, Allah tidak lagi mahakuasa atau misterius untuk manusia. Allah sudah dikuasai oleh pengetahuan manusia.

Maka, esensi Allah memang harus tetap tidak terjangkau secara total oleh fitrah intelek manusia baik secara ontologis maupun epistemologis.

Allah tetap sebagai Allah bukan hanya karena manusia tidak mampu memenjarakan Allah di dalam akalnya, tetapi memang akal dan bahasa terbatas untuk mengungkapkan Allah tidak yang terbatas.*

Staf Pengajar Filsafat dan Teologi Pra-Novisiat Claret, Kupang

Leave A Reply

Your email address will not be published.