Muhammad Firda Azil: Duta Generasi Berencana Menjadikan Pikiran Lebih Terbuka dan Menghargai Perbedaan

Rasa ingin tahu mengantarkan Muhammad Firda Azil untuk menjadi Duta Generasi Berencana Indonesia 2019 Provinsi Riau.

0 35

Katolikana.comMuhammad Firda Azil (20) merupakan salah satu perwakilan Duta Generasi Berencana (GenRe) Provinsi Riau.

Lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dan dibesarkan dengan cara yang keras membentuk diri Azil menjadi sosok yang kuat, pekerja keras, serta mandiri.

Azil lahir di kota Padang, namun tumbuh di Pekanbaru. Kota ini menjadi saksi perjuangan Azil menggapai mimpinya sebagai Duta Generasi Berencana.

Duta GenRe adalah program yang diluncurkan oleh pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang berperan untuk mensosialisasikan tentang kehidupan berkeluarga dan sejenisnya.

Azil ketika menjadi pembicara. Foto: Istimewa

Perjalanan Menjadi Duta GenRe

Perjalanan Azil dimulai sejak 2013. “Saya bergabung dengan GenRe tahun 2013, tepatnya saat saya masih berada di bangku SMP,” jelas Azil.

Awalnya Azil mengikuti program GenRe lewat organisasi Pusat Informasi dan Konseling Remaja atau PIK Remaja. PIK ini dibentuk BKKBN di sekolah-sekolah sebagai promosi atas program GenRe.

PIK Remaja membahas isu-isu GenRe, mulai dari informasi mengenai persiapan pernikahan dini, kesehatan reproduksi, seksualitas, hingga pemahaman tentang Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) dan informasi lainnya.

Melihat itu, Azil pun makin tertarik dengan organisasi PIK Remaja dan memutuskan untuk aktif di organisasi tersebut. Menurut Azil kesadaran akan isu GenRe, masih minim di masyarakat.

“Isu-isu tersebut masih dianggap tabu. Padahal, seharusnya sudah diajarkan sejak dini agar terhindar dari perilaku negatif,” tegas Azil.

Melalui program GenRe, ia dapat lebih mengenal dirinya dari segi fisik dan mental. Hal lain yang membuat Azil tertarik kepada Genre ialah sikap positif anak-anak remaja yang tergabung di dalamnya.

Menjadi duta GenRe sudah menjadi keinginan Azil sejak lama. Azil bahkan merasa kagum dengan gelar tersebut.

“Keren ya menjadi duta GenRe. Saya dapat kesempatan menjadi pembicara dan dikenal luas serta memiliki selempang gela,” ujarnya.

Saat itu Azil belum bisa mendaftarkan diri sebagai duta GenRe karena masih menempuh pendidikan SMP. Sedangkan duta GenRe hanya diperuntukan bagi mahasiswa.

Ketika masuk ke jenjang SMA, Azil mulai kurang aktif dengan hal yang berkaitan dengan isu-isu GenRe. Pada masa itu, Azil mulai lupa dengan niatnya untuk menjadi duta GenRe.

Hingga tahun 2016, Azil kembali terjun ke duta GenRe lingkup masyarakat dengan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) di kecamatan. Hal tersebut tak berjalan lama karena Azil mulai sibuk menjalankan berbagai aktivitas lomba sekolah.

“Saya sibuk dengan berbagai kegiatan, karena sewaktu SMA saya cukup aktif dalam perlombaan terutama debat Bahasa Inggris,” ungkap Azil.

Azil sempat memilih gap year sebab ingin berpindah dari jurusan Sains dan Teknologi (Saintek) ke Sosial dan Humaniora (Soshum).

Saat itu, Azil bertemu dengan pengurus PIK tempat ia pernah bergabung dan ditawarkan mengikuti ajang pemilihan duta GenRe Pekanbaru.

Azil akhirnya mengingat impiannya dulu dan menerima tawaran tersebut.

“Tanpa pikir panjang, saya langsung ikut ajang pemilihan tersebut dan akhirnya menang di kota, provinsi, hingga ke lingkup nasional,” ujar Azil.

Azil mengaku bahwa Ia tidak memiliki motivasi spesifik, namun murni karena kagum dan telah bercita-cita menjadi duta GenRe sejak di bangku SMP.

Pengalaman dan Kontribusi

Menjadi Duta GenRe memberi pengaruh dalam dirinya. Azil merasa pikirannya lebih terbuka dalam menghargai dan menerima perbedaan antara sesama, baik dari usia maupun latar belakang.

Hal ini dia rasakan ketika dia menjalankan tugas sebagai duta GenRe, terutama saat melaksakan program maupun penyuluhan kepada remaja. Tak hanya itu, duta GenRe melatih soft skill yang Ia miliki, seperti public speaking.

“Saya tak hanya belajar untuk bicara, tetapi juga belajar untuk menarik perhatian audiens, sehingga materi yang saya sampaikan diterima dengan baik,” tegas Azil.

Azil mengaku belum memberikan kontribusi signifikan. Namun, sejauh ini Azil dan teman-temannya telah menciptakan sebuah platfrom di Instagram dengan nama Baiq.id.

“Baiq.id merupakan platform yang kami bentuk untuk menjadi ruang berbagi cerita tentang pengalaman personal seseorang, khususnya mengenai kesehatan mental,” ujar Azil.

Lewat Baiq.id Azil dan teman-temannya berharap dapat membantu banyak orang dan menguatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.

Muhammad Firda Azil dan Medina. Foto: Istimewa

Sosok Azil dikenal sebagai pribadi yang ceria, mudah bergaul serta merupakan pendengar yang baik. Hal serupa diungkapkan oleh Raja Medina (20).

“Saya mengenal Azil sejak 2015 karena dipertemukan oleh kakak saya. Pertama kali bertemu saja, saya merasa Azil adalah sosok yang hangat dan baik,” ucap Raja.

Hubungan persahabatan Azil dan Medina masih terjalin hingga kini. Keduanya bahkan sering memberikan dukungan dan berkolaborasi dalam menciptakan konten di media sosial.*

Kontributor: Maria Fransiska Ayu Diva Yulita, Maria Friday Letisia, Maria Aufrida Ardhieawati,
Nicholas Feby Kurniawan (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.