Toleransi Beragama di Era Modern, Romo Antonius Hermanto CDD: Kita Tidak Boleh Menyesat-sesatkan Orang

Dari awal gereja menolak paham indifferentisme yang mengatakan semua agama itu sama.

0 230

Katolikana.com—Keberagaman menjadi anugerah terindah bagi bangsa Indonesia. Di era modern ini, sikap toleransi tidak mudah dilakukan. Ada saja hambatan yang muncul.

Fenomena ini dibahas dalam Live Talkshow #KatolikanaMuda dengan tema Toleransi Beragama di Era Modern, Minggu (8/8/2021) di kanal YouTube Katolikana.

Live Talkshow ini menghadirkan Geby, pendiri Community Saint Virgin Mary dan RP. Antonius Hermanto, Formator di Seminari Tinggi Malang.

Menurut Geby, toleransi mempunyai arti bagaimana kita mampu menghargai dan menghormati orang lain, bahkan bisa mencintai orang tersebut.

“Toleransi itu kita bisa menghargai orang lain, menghormati orang lain, bahkan mencintai orang tersebut. Namun kita tidak mengikuti orang lain, tidak mengikuti keyakinan mereka, tidak mengikuti kepercayaan mereka, tapi menghormati. Jadi kita tidak larut seperti mereka tapi tetap menghargai,” ujarnya.

Geby melihat ada dua tipe orang dalam melakukan toleransi. Pertama, orang yang melakukan toleransi secara bijaksana.

Kedua, mereka yang mempunyai motivasi yang salah dalam melakukan toleransi, yaitu bukan untuk kasih, tapi mempunyai maksud yang lain, untuk mencari penghormatan.

“Tidak mengenal toleransi, sama dengan tak mempunyai kasih. Tapi toleransi yang berlebihan mengabaikan sumber kasih itu sendiri,” ujarnya.

Menurut Geby, toleransi itu mempunyai batasan. “Jika kita ingin menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mengerti apa standar dari toleransi itu sendiri,” tambahnya.

Toleransi dan Indifferentisme

Menurut Romo Anton, toleransi dengan indifferentisme itu berbeda.

Indifferentisme adalah sebuah paham bahwa semua agama adalah sama atau tidak berbeda, namun ada kaitannya dengan toleransi.

Romo Anton menjelaskan pandangan gereja mengenai paham indefferentisme. Dari awal gereja menolak paham indifferentisme yang mengatakan semua agama itu sama.

“Karena paham indifferentisme ini mengaburkan makna gereja Katolik. Tentu, kita semua tahu nanti akan merujuk pada dogma di luar gereja tidak ada keselamatan. Di satu sisi gereja memandang dirinya sebagai yang benar, tapi di sisi lain ada paham yang mengatakan semua agama itu sama,” tegasnya

Dalam sudut pandang Katolik, indifferentisme itu sama saja dengan kesesatan lainnya.

“Jika orang menganggap semua agama sama saja, untuk apa kita menjadi orang Katolik? Toh, semua agama akhirnya akan menuju pada surga dan kebenaran yang sama, seperti pada orang indifferentisme percayai.

“Kesesatan itu kalau dilihat dari sudut pandang kita ya. Tapi kalau orang lain, belum tentu menganggapnya sesat. Tapi kalau dari sudut gereja Katolik, paham ini seperti ajaran sesat,” ujar Romo Anton.

“Cuma, kita tidak boleh lalu menyesat-sesatkan orang. Harus diteliti lebih dalam, karena orang yang menganut paham indifference itu pun sebenarnya belum tentu paham betul apa yang dia yakini,” tambahnya.

Menurut Romo Anton, Extra Ecclesiam Nulla Salus bukanlah paham intoleran karena toleransi itu lebih dikenakan pada tindakan, bukan pada paham.

“Jadi toleransi bukanlah soal hidup beragama, tapi dalam kehidupan sehari-sehari dengan orang sekitar kita,” katanya.

Romo Anton menambahkan, kita harus tetap berpegang bahwa Yesus Kristus penyelamat dalam gereja Katolik, supaya identitas kita sebagai orang Kristen punya makna, justru orang Katolik ini punya makna lebih besar.

“Kita sudah ada dalam gereja, sudah ada iman dalam Kristus. Tapi kalau kita tidak memanfaatkan rahmat kesempatan ini, maka penghakiman kita akan menjadi lebih besar,” lanjutnya.

“Toleransi itu berada dalam wilayah tindakan, tapi dalam paham tetap sama. Diri kita benar, namun dalam praktiknya kita tidak boleh memaksakan kehendak kita ke orang lain,” pungkas Romo Anton.**

Kontributor: Laura Lim, tim Katolikana Muda.

Pribadi yang terus belajar dan berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Mahasiswa asal Pandaan, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.