David Millenov: ‘We Go East’ Angkat Derajat Masyarakat Indonesia Timur

Komunitas 'We Go East' berkarya kreatif dan menumbuhkan toleransi

0 214

Katolikana.comWe Go East, komunitas orang muda yang peduli pada masalah toleransi dan menghargai keberagaman dengan karya-karya kreatif. Kerja-kerja kreatif dengan pesan keberagaman itu terus berkembang dan mendapatkan apresiasi yang menggembirakan.

Komunitas ‘We Go East didirikan pada Maret 2021, komunitas ini kerap mewadahi masyarakat timur menyampaikan suara dan karya.

David Millenov mengungkapkan motivasi mendirikan We Go East berangkat dari pengalaman pribadi.

“Komunitas ini berawal dari pengalaman pribadi dan temanku Tata di kampus. Waktu itu aku sering melihat anak-anak dari timur masih sering berkelompok,” ujar David.

David Millenov. Foto: Instagram.

“Mereka kadang susah untuk berbaur dengan teman-teman yang bukan dari timur,” tambahnya.

“Dari situ aku coba riset kecil-kecilan untuk mengetahui lebih dalam isu toleransi dan kurangnya apresiasi terhadap masyarakat timur “, kata David kepada Katolikana, Kamis (28/10/2021).

David mengatakan ia secara pribadi tidak pernah membedakan ras atau pun merendahkan ras tertentu.

“Kalau emang orangnya asyik dan satu frekuensi, aku pasti tidak milih-milih teman, mau itu dari ras mana pun,” ujar David.

Berangkat dari situ David dan teman-teman mendirikan We Go East, sebuah komunitas yang membantu mengelaborasi masyarakat timur Indonesia.

“Kami berusaha menjadi wadah dari karya-karya masyarakat timur dan berusaha menaikkan derajat masyarakat timur,” ujarnya.

Hal tersebut tak seolah-olah menjadikan masyarakat timur makin beda dan jauh dari Indonesia.

“Justru kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat timur sama-sama merupakan bagian dari Indonesia,” tambahnya.

Menurut David isu rasisme masih ada di Indonesia.

“Aku pribadi tidak bisa bilang kalau isu ini makin berkurang atau bertambah. Yang pasti, isu ini masih ada di masyarakat kita saat ini,” ujarnya.

Tidak Berasal dari Timur

“Kami bisa dibilang komunitas atau creative hub. Saat ini kami beranggota tujuh orang,” jelas David.

Menariknya, hampir semua pengurusnya tidak berasal dari Indonesia timur.

“Itu dia yang unik. Anggota kami ada yang dari Bali, Probolinggo, Trenggalek. Cuma aku yang berdarah timur. Itu pun setengah Batak,” kata David.

Hal tersebut menjadi nilai tambah bagi komunitas ini, di mana orang-orang yang ingin memajukan masyarakat timur Indonesia justru bukan dari timur.

We Go East berhasil mendapat sponsor dari Paragon beberapa waktu lalu.

“Kebetulan waktu presentasi, mereka tertarik sama visi misi kami,” kata David.

Project We Go East

Sejak berdiri, mereka sudah melakukan sejumlah project. Mereka memiliki sejumlah rencana ke depan.

“Yang masih kami lakukan sampai sekarang yaitu repost karya masyarakat timur, lalu ada juga ilustrasi,” kata David.

“Aku terinspirasi Mojok.co. Akun Instagramnya selalu menyertakan ilustrasi yang keren, sehingga pembaca lebih tertarik dan terhibur,” tambahnya.

Dengan metode seperti itu ia ingin menarik pembaca melalui visual yang apik. Harapannya, mereka akan membaca caption kemudian.

“Kami sering membuat konten podcast yang membahas berbagai topik dengan sejumlah narasumber menarik. Konten podcast tersebut bisa ditemukan di kanal YouTube We Go East.

Saat ini mereka menyelenggarakan festival IG Takeover dan mengundang sejumlah narasumber dari timur untuk berbagi kemampuan, pengalaman, dan cerita.

“Ke depan akan ada webinar dan penggalangan dana untuk membantu salah satu komunitas di Papua untuk dapat lebih berkembang,” tambah David.

We Go East telah mendapatkan respon positif dari masyarakat Timur.

Kami dapat respon banyak banget dan semuanya positif. Ada berterimakasih, ada juga yang mengapresiasi,” kata David.

“Kita seharusnya tak lagi membedakan orang berdasarkan ras, budaya atau apa pun. Tak hanya masyarakat timur, tapi semua kelompok masyarakat dari etnis mana pun memiliki kesempatan yang sama sebagai satu kesatuan masyarakat Indonesia,” pesan David.

Kontributor: Brigitta Raras, Brigittha Pricilya, Candhik Ayu, Christian Patience (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama Katolikana dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.