Rita Wahyu: Keyakinan Teologis Harus Dikonfirmasi dengan Keyakinan Historis

Apakah denominasi gereja Kristen yang beragam menjadi berkat bagi kekristenan di Indonesia, khususnya anak muda?

0 2,514

Katolikana.com—Agama Kristen memiliki sejumlah kelompok atau denominasi, yang terbesar di antaranya Lutheran, Anglikan, Presbytarian dan Baptis. Sementara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur tidak menganggap dirinya sebagai denominasi.

Kadang, karena perbedaan denominasi gereja tak jarang orang muda Kristen tidak saling memahami bahwa mereka satu tubuh, yaitu tubuh Kristus.

Di dunia digital banyak isu tentang kekristenan yang harus di urai jawabannya di luar denominasi. Bagaimana seharusnya orang muda Kristen harus menyikapi banyaknya denominasi?

Rita Wahyu, pegiat di Israel Bible Center Lecturer in Biblical Hebrew Studies.

Tim Produksi Katolikana mewawancarai Rita Wahyu yang sekarang bergiat di Israel Bible Center Lecturer in Biblical Hebrew Studies. Rita Wahyu (R) sering mengajar orang muda Kristen antar denominasi di dunia digital. Walau suka dengan sastra dan filsafat Ibrani, ia tidak berniat membentuk denominasi baru.

Melalui gerakannya, ia mencoba melengkapi literatur kekristenan yang fondasinya sudah di pelihara oleh Bapa Gereja Apostolik dengan rantai suksesi yang tidak putus di gereja Katolik, Ortodoks dan sebagian denominasi Protestan. Dengan mengkaji Alkitab secara Peshat (harafiah) untuk memperkaya literatur di dunia kekristenan.

Singkatnya, Rita Wahyu ingin merefleksikan bahwa tidak mungkin bisa memahami epos Ramayana Jawa tanpa bergumul dan menghidupi Sanskerta yang lahir dalam budaya Sungai Indus di India.

Begitu juga Yesus, Alkitab itu hidup dan ditulis kemudian di tengah persimpangan budaya atau kekayaan kebahasaan. Rita Wahyu sebagai pegiat mengajak membuka pikiran bahwa kekristenan itu kaya dan anak muda adalah pilarnya di zaman digital ini.

Apakah ada perbedaan per huruf atau makna tertulis antara Alkitab yang dipegang Katolik dan Protestan dari Kejadian sampai Wahyu?

Tidak ada, hanya di Katholik ada bagian Deuterokanonika saja.

Bisa diceritakan awal mula tertarik dunia Bible Center Lecturer Hebrew Studies ini?

Awalnya, tahun 2000-2002, saat itu ada satu situs yang terkenal sekali yakni situs apologetika (membela iman) bahkan cocok disebut sebagai situs debat agama Faith Freedom International, kalau di Indonesia Faith Freedom Indonesia.

Saya mencoba menjawab tuduhan-tuduhan dari para polemikus tentang Alkitab itu porno, Alkitab sudah tidak asli lagi beserta isu-isu lainnya, sekitar dua tahunan.

Tetapi akhirnya saya merasa tanggapan dari kedua belah pihak kok kurang sehat dalam menyikapi isu yang ada, yang saling menyerang keimanan masing-masing.

Lebih baik kalau berapologetika menjawab apa yang dipersoalkan dan tidak perlu menjawab keimanan mereka. Kita hanya menjawab sebatas apa yang ditanyakan, itu yang dijawab.

Kemudian saya tidak selaras dengan teman-teman lain, maka saya membuat situs Sarapan Pagi Biblika. Waktu itu hostingnya masih pakai gratisan.

Sampai awal 2006 konsep saya mulai agak berubah, tidak hanya berpolemik dengan para polemikus Muslim seperti terjadi hingga kini di tempat lain, tapi lebih membahas Biblika atau bahasan-bahasan asli naskah Alkitab.

Saya berpikir saya harus sekolah dan punya guru karena sastra bahasa Alkitab menarik dan belum populer dibanding belajar teologi. Belajar sastra dan naskah asli  itu menarik.

Apa ada detil lain ketika mengejar keinginan sastra dan naskah bahasa asli ini?

Saya melihat di Sekolah Tinggi Teologi (STT) pelajaran bahasa Ibrani dan Yunani masing-masing diberikan 3 SKS saja, menurut saya tidak bisa sambilan. Kalau belajar sastra bahasa asli harus secara penuh yang belajar sastra bahasa asli saja.

Saya kemudian mengambil non degree program dan lanjut ke Israel Baruch Center. Waktu itu yang jadi dekan New Testament adalah Profesor Eli Lizorkin Eyzenberg, pendiri institusi Israel Bible Center. Professor Eli pernah datang ke Indonesia dua kali dan menunjuk saya sebagai Lecturer Biblical Hebrew Studies.

Situs Sarapan Pagi Biblika membahas Biblika dengan translasi bahasa asli dan yang saya dapatkan dari studi naskah bahasa asli yaitu bagaimana membaca Alkitab secara Peshat, apa adanya, jujur dan lurus. Waktu itu banyak orang yang memadang kok Alkitab dipandang secara harafiah, ribet tapi di situ keindahannya, the Beauty of the Bible.

Bisa dijelaskan Peshat atau The Beauty of The Bible?

Perjanjian Lama yang di tulis menggunakan Bahasa Ibrani di Alkitab tidak hanya berbicara tentang kata atau kalimat tetapi berbicara tentang huruf.

Setiap huruf dalam kata dalam bahasa Ibrani memiliki simbol dan maknanya sendiri. Wow, menarik menurut saya dan itu yang saya coba tularkan di situs Sarapan Pagi Biblika.org sejak awal 2006.

Awalnya saya belum berani tampak muka sampai suatu saat mungkin sudah jalan Tuhan, saya tidak bisa mengelak lagi dan atas persuasi teman saya: The best way to learn is to teach. Maka saya mengajar dan membuka kelas sastra Ibrani elementary secara daring. Waktu itu orang jarang pakai zoom tahun 2016 saya mencoba memulainya. Kini karena pandemi covid 19 orang sudah banyak pakai.

Sepertinya ciri khas Anda ada kerudung/tudung?

Tudung ini sebenarnya Katolik banget. Tudung yang saya pakai ini kalau di Gereja Katolik sebagai Mantilla. Jadi ini seperti yang di sebut oleh Rabi Saul dalam 1 Korintus 2 11: 2-16. Menggambarkan ketertundukan seperti seorang istri yang harus tunduk kepada suami yang juga jemaat tunduk kepada Kristus.

Saya sedang mengajar satu teologi yang berbeda dari kebanyakan orang di Indonesia. Tidak salah juga sih tapi kebanyakan teologi di Indonesia adalah penginjilan dari barat, apalagi kalau Natal, kan barat banget. Tetapi harus tahu bahwa kekristenan itu asalnya dari Timur Tengah dan Yesus bukan bule Eropa.

Natal sendiri di Israel itu tidak sedingin di Eropa tapi Israel lebih dingin dari Indonesia. Maka kerudung bagi saya bukan sekadar asesoris tapi ideologis dalam rangka pengajaran teologi yang mengarah ke timur untuk melengkapi orang Kristen Indonesia yang lebih condong ke barat.

Terkait revolusi Internet di kalangan anak muda Kristen dan isu-isu di internet, misalnya Alkitab itu banyak perubahan, Natal itu pagan, atau ramainya debat teologi dan agama. Menurut Anda?

Saya bersyukur karena pandemi orang akhirnya belajar daring dan mempunyai banyak pilihan untuk belajar dari Google atau YouTube sebagai platform baru untuk mencari sesuatu.

Melalui internet saya bertemu berbagai macam denominasi, termasuk saudara tua yaitu Kristen Ortodoks dan Katolik untuk saling belajar dan saya menaruh respek yang tinggi. Di dalam mengajar saya juga mengajak mengenal Bapa Gereja dan para rasul yang Apostolik.

Saya kira polemik Natal itu berawal dari seorang Paul Ernst Jablonski yang di jadikan perudungan musiman setiap bulan Desember tiba, Natal pagan selalu muncul.

Saya ingin mengingatkan semua orang Kristen ketika mengajar saya tidak bicara saya Protestan, Katolik dan Ortodoks bahwa kita adalah Gereja yang am, Katolik (universal) atau satu.

Memang ada kesalahan di masa lalu tapi juga ada denominasi Protestan yang anti Gereja Katolik Roma bahkan catatan-catatan Bapa Gereja abad ke dua yang mengatakan Natal itu 25 Desember dianggap sebagai produk Gereja Katolik dikaitkan dengan paganisme.

Saya menolak itu karena orang jika merudung harus belajar sejarah dahulu. Bahkan ada orang yang sekolah S-3 yang mengatakan Natal ada mulai abad ke empat Masehi, itu minim informasi sejarah dari Bapa Gereja yang Apostolik.

Jadi pelabelan bahwa Natal adalah produk Bapa Gereja Katolik Roma ini yang ingin saya hapus, karena bagaimana pun kita sebagai orang Kristen hari ini adalah jasa dari Bapa Gereja yang Apostolik, Irenaeus, Hyppolytus dan Tertulianus.

Perjanjian Baru yang ada adalah hasil suksesi Apostolik yang tidak putus dari mereka. Kitab Suci bukan saja buku iman tetapi juga catatan sejarah. Alkitab memiliki salinan bahasa asli Yunani ada 5700 dan 20.000-25.000 naskah terjemahan Perjanjian Baru dalam Bahasa Syria, Koptik, Ibrani, Armenia dan lain-lain.

Bahkan Bart D. Ehrman, seorang sarjana yang gigih menyerang Perjanjian Baru mengakui bahwa kesalahan salinan sangat manusiawi (hal: 36, Misquoting Jesus, 2006) karena zaman dulu tidak ada mesin foto copy, flashdisk untuk copy paste secara sama, dan sebagainya. Banyaknya salinan yang ada tidak mengubah doktrin.

Apa yang harus dilakukan oleh orang muda lintas denominasi agar dapat bergaul aktif tapi juga punya iman Kristen yang aktif dalam konteks Gereja yang kudus dan am di zaman internet?

Saya tidak melarang seseorang untuk bersikap skeptis dan itu baik. Tapi di luasnya internet ini harus ada pijakan untuk melihat kekristenan.

Kristen tidak lahir di abad 16 dan harus merujuk jauh ke belakang sampai zaman para rasul. Para rasul itu memuridkan siapa dan murid ini memuridkan siapa sampai ke Bapa-Bapa Gereja Apostolorum yang mewariskannya ke Bapa-Bapa Gereja sebagai garda depan.

Saya tidak melarang untuk kritis tapi harus dengan hati nurani yang benar. Seperti Albert Einstein mengatakan, “Science without religion is lame. Religion without science blind. Jadi jika kita mempercayai sesuatu atau keyakinan teologi kita harus dikonfirmasi dengan keyakinan historis. Nah, hari ini manfaatkanlah teknologi untuk pelayanan.

Bagaimana menghadapi tantangan dalam rangka beragamnya denominasi ini?

Banyaknya denominasi itu terjadi setelah era reformasi Protestan termasuk denominasi yang aneh-aneh. Jadi jangan menelan mentah-mentah apa yang dari barat, termasuk sekarang di banyak STT di Indonesia.

Saya tidak mengajak untuk bikin denominasi baru tetap saja di gereja anda masing-masing. Tetapi harus di ingat dan yang saya tekankan di kelas saya bahwa kekristenan tidak boleh tercerabut dari sejarah gereja, akar, budaya Yesus dan para rasul hidup dan konteks Alkitab ini ditulis.

Memang Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani tapi penulisnya adalah orang-orang Yahudi yang berpikiran Semitik bukan berpikiran barat dan saya tidak melarang orang berteologi barat.

Sastra Perjanjan Baru itu bukan Helenistik tapi Judeo-Greek yang ditulis orang Yahudi berbahasa Yunani. Kenapa bahasa Yunani, karena seperti kehendak Tuhan dalam Amanat Agung untuk memuridkan segala bangsa saat itu dan bahasa Yunani adalah lingua franca atau seperti bahasa Inggris sekarang sebagai bahasa internasional.

Apakah Ibu mempunyai pengalaman terkena dampak negatif ketika membicarakan spesialisasi ibu baik secara internal dan eksternal kekristenan?

Ya, ada. Seperti ketika saya menggunakan Mantilla ini saya dikira Muslim. Padahal, ini punya Gereja Katolik. Ketika saya mengajarkan filsafat Yahudi, saya di tuduh menggurui, sok pinter dan sikretisme antara kekristenan dan Yahudi. Saya kira waktu yang akan menjawabnya.

Pesan Anda untuk orang muda?

Penting bagi orang muda banyak baca buku dari yang nyeleneh sampai yang baik. Seperti di sampaikan Profesor Eli Lizorkin Eyzenberg, kamu tidak boleh punya satu guru karena akan menjadi seperti beo. When you listen read one thinker you become clown.

Ketika kamu punya dua guru kamu mulai bingung dan mulai menimbang. Ketika banyak guru kamu jadi bijak dan kamu mempunyai suaramu sendiri.

Jangan fanatik buta ektrim kiri dan kanan, itu tidak baik. Boleh belajar filsafat Ibrani, agama Yahudi tapi jangan mencerabut warisan Bapa Gereja Purba yang sudah melestarikan Perjanjian Baru, di sini pentingnya memahami kekayaan sejarah Kristen.

Jangan buru-buru bilang Bapa Gereja itu Greco-Romawi dan lupa penanggalan Semitik. Bapa Gereja Irenaeus masih melihat Yesus yang Yahudi.

Misalnya dalam menjelaskan mengenai Annunciation of Christ atau konsepsi Firman Allah atau Roh Kudus menaungi Bunda Maria menjadi Imanuel itu sangat Semitik konsepnya.

Hal itu terjadi pada penanggalan 25 Maret atau setara 14 Nisan perayaan Yahudi atau hari raya Paskah (Erev Pesakh). Kenapa Kristen pecah dengan Yahudi itu bisa di lacak sejarahnya di tahun 95 Masehi saat konsili Jamnia. Intinya, bahwa keyakinan teologis harus dikonfirmasi dengan keyakinan historis.**

Food traveler. Menulis Kajian Humaniora, Kuliner dan  Masalah Pembangunan. Tinggal di Denpasar, Bali.

Leave A Reply

Your email address will not be published.