Rumah Singgah Pasien Anak (RSPA) Kasih Bunda, Pahlawan Bagi Anak Penderita Kanker

Uluran kebaikan Kristiana Ratna Wulan Ariani, pemilik RSPA Kasih Bunda serta para donatur dapat menolong puluhan anak penderita kanker dari berbagai daerah.

3 986

Katolikana.comRumah Singgah Pasien Anak ‘Kasih Bunda’ dibangun berawal   dari   keprihatinan   terhadap   anak-anak   yang   sedang   berjuang   melawan penyakit dan menjalani pengobatan di RS Sardjito, namun tidak memiliki tempat tinggal yang layak.

Sejak didirikan tahun 2019, RSPA Kasih Bunda telah membantu 75-80 anak yang terdeteksi kanker anemia, anemia aplastik, neuroblastoma, dan jenis penyakit kanker lainnya.

“Saat ini ada 30 anak yang masih menjalani pengobatan rutin. Rata-rata mereka berobat seminggu satu hingga dua kali. Ada yang pengobatan sinar, kemoterapi, maupun transfusi,” ujar Kristiana Ratna Wulan Ariani, pemilik RSPA Kasih Bunda.

Kristiana Ratna Wulan Ariani,biasa disapa Bunda Wulan, pemilik Rumah Singgah (kiri). Foto: Grace Kezia

Rumah Singgah yang beralamat di Jalan Popongan 2 No. 79, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini menyediakan fasilitas tempat   tinggal,  sembako,  antar-jemput  pasien  selama  berobat  di  RS.  Sardjito, ambulance gratis bagi pasien untuk kembali ke daerahnya. Sebagai balasan,  keluarga  yang  akan  kembali  ke  daerahnya  dapat mengisi infaq seiklasnya.

Pelayanan yang diberikan oleh RSPA Kasih Bunda kepada keluarga sangat baik. Selain itu Bunda Wulan juga tanggap menangani kondisi anak, serta memberikan jenis bantuan apapun yang dibutuhkan keluarga.

“Kami sangat terbantu dengan adanya Rumah Singgah Kasih Bunda. Selama berada di sini sekitar 14 bulan untuk menjalani kemoterapi saya mendapatkan fasilitas yang banyak,” ujar Nur Isnaini, orang tua dari Silmi.

Selain melakukan pengobatan di RS Sardjito, anak-anak memiliki kegiatan lainnya di rumah singgah.

“Mereka bisa bermain, belajar bersama, mewarnai prakarya, dan ada kegiatan mengaji juga,” ujar Lucky Eko Prasetyo salah satu relawan di RSPA Kasih Bunda.

Pemerintah Daerah khususnya Departemen Sosial pun telah memberikan tanggapan yang baik terhadap RSPA Kasih Bunda. Namun, tidak ada bantuan dana dari pemda karena RSPA Kasih Bunda tidak berbadan hukum yayasan.

Rumah Singgah Kasih Bunda. Foto: Grace Kezia

Syarat yang diberikan oleh Bunda Wulan kepada keluarga yang ingin meminta bantuan terbilang cukup mudah.

“Harus BPJS kelas tiga. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk kelas dua. Nanti kita cari tahu dulu pekerjaannya apa dan tinggalnya di mana, penyakit yang tidak menular, dan benar-benar dari keluarga yang tidak mampu dibuktikan dengan menunjukkan Kartu Indonesia Sehat (KIS),” ujar Bunda Wulan.

Sebagai pemilik rumah singgah, Bunda Wulan dibantu anggota komunitas sebagai donatur, di antaranya Komunitas Edelweis, Komunitas Kertas, Komunitas   Betari,   dan Komunitas   Pariwisata.   Komunitas-komunitas ini setiap bulan rutin berdonasi kepada Rumah Singgah Kasih Bunda.

Berbagai tantangan pun dirasakan Bunda Wulan saat membangun Rumah Singgah Kasih Bunda. Tantangan ini berasal dari pihak keluarga yang dibantu dan dari pihak warga setempat.

Siapa sangka, niat baik Bunda Wulan awalnya mendapat tentangan dari warga sekitar. Rumah Singgah Kasih Bunda dianggap sebagai rumah penampungan atau shelter orang-orang yang memiliki penyakit menular.

Hasil karya anak-anak RSPA Kasih Bunda. Foto: Grace Kezia

Dengan  adanya  pandemi  COVID-19  warga  yang  awalnya menentang  dibukakan  matanya.  Mereka  yang  terkena dampak pandemi turut dibantu oleh relawan rumah singgah, juga dari PMI dan BPBD.

Rumah  Singgah  Kasih  Bunda  memiliki  14 orang relawan,  rata-rata berdomisili di Kota Jogja.

“Setiap  relawan turut membantu melakukan pengecekan setiap pasien,  mengantar  dan  menjemput  pasien  dari rumah singgah menuju RS Sardjito, mencari donasi untuk pasien per-orangan dan RSPA Kasih Bunda, hingga menjadi tim mobil ambulans maupun jenazah RSPA Kasih Bunda,” ujar Lucky.

Manfaat rumah singgah tidak hanya dirasakan orang tua yang anaknya terkena penyakit kanker, namun juga turut dirasakan warga sekitar.

Rumah singgah memberikan bantuan untuk warga sekitar berupa sembako. Rumah singgah juga melakukan rukhti jenazah pada 15 warga Popongan yang meninggal dunia akibat COVID-19.

Fasilitas ambulance gratis juga diberikan kepada warga sekitar Popongan yang sedang membutuhkan.**

Kontributor: Grace Kezia Febriana Putri (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

3 Comments
  1. Gabriella says

    Menarik sekali informasi nya 🙏🏻

  2. Gabriella says

    Menarik sekali informasinya

  3. El says

    Wahh keren bgt nih beritanya jadi pengen bantu donasi buat rumah singgah

Leave A Reply

Your email address will not be published.