Barangsiapa Paling Banyak Bicara Hendaklah Menjadi Pendengar Pertama

Menggali Pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56

0 156

Katolikana.com—Paus Fransiskus mengirimkan pesan dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56 bertepatan dengan pesta Santo Fransiskus de Sales, seorang pujangga gereja, Senin (24/1/2022).

Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia umumnya ditujukan bagi pelaku komunikasi sosial seperti jurnalis dan pekerja media lainnya.

Namun, pada era di mana media sosial berada dalam genggaman, bisa dikatakan hampir semua orang adalah pelaku komunikasi sosial. Aktivitas komunikasi sosial pun berlangsung sejak bangun tidur hingga kembali hendak tidur.

Peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia jatuh pada hari Minggu (29/5/2022). Bagi saya, rentang waktu sejak 24 Januari 2022 hingga 29 Mei 2022 merupakan kesempatan untuk memahami pesan Bapa Suci dan memahami relevansinya dalam kehidupan masyarakat.

Mendengarkan

Pesan Paus Fransiskus mengingatkan kita untuk ‘mendengarkan’. Kenapa bicara soal mendengarkan? Bukankah arti penting mendengarkan dalam komunikasi telah dipahami banyak orang, atau setidaknya telah berkali-kali didengar? Apa arti penting Paus Fransiskus mengangkat kembali hal tersebut?

Saya akan mencuplik beberapa bagian pesan Paus Fransiskus berjudul ‘Mendengarkan dengan Telinga Hati’.

Pada bagian awal Bapa Paus merefleksikan bahwa karena mendengarkan, Tuhan mewahyukan diri-Nya, Tuhan menyampaikan sabda-Nya. Akan tetapi seringkali justru manusia ‘menutup telinganya’.

Menguatkan pesan atas masalah itu, Bapa Paus mengutip ungkapan Santo Agustinus: “Jangan taruh hatimu di telinga, tetapi taruhlah telinga di dalam hatimu.”

Orang seringkali diam ‘mendengarkan’ dan pada saat gilirannya bicara mendesakkan gagasannya untuk diterima. Paus Fransiskus menegaskan ulang bahwa mendengarkan—dengan sungguh-sungguh—adalah unsur pertama yang amat penting dalam dialog.

Kesiapan dan kesediaan untuk mendengarkan—yang bahkan bisa sangat lama—amat dibutuhkan jurnalis (atau komunikator) untuk memberikan informasi yang padat, lengkap, dan seimbang. Dalam hal itu dibutuhkan kesabaran untuk mendengarkan.

Bapa Suci memberikan tips: mendengarkan seperti anak kecil! Semua indra anak kecil terbuka lebar ketika mengamati dunia (baru) di sekitarnya. Sikapnya tersebut akan membawa dirinya pada kejutan-kejutan baru, sekecil apa pun.

Kesediaan untuk menggunakan kerangka anak kecil tersebut akan membuat jurnalis dapat menepis asumsi-asumsi awal yang mungkin ia bawa saat sebelum mencari berita. Ia akan menjumpai realita di hadapannya. Beberapa hal di antaranya mungkin akan mengejutkannya.

Kegaduhan Komunikasi

Pada masa awal hingga pertengahan pandemi Covid-19, media sosial diwarnai kegaduhan luar biasa. Masyarakat sering mempertanyakan dan meragukan informasi yang disampaikan pemerintah. Pada sisi lain hoaks juga berseliweran tidak karuan.

Sub Direktorat Pengendalian Konten Internet Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo mencatat, dari pertengahan Maret 2020 hingga 26 Januari 2021, terdapat 1.387 isu hoaks yang tersebar di berbagai platform digital (detik.com, Kamis, 27/1/ 2021).

Melihat kegaduhan komunikasi di media sosial yang juga berlangsung secara global Bapa Suci mengatakan, “Kemampuan mendengarkan masyarakat sungguh semakin berharga pada saat ini ketika kita dilukai oleh pandemi yang panjang.”

Alih-alih pertama-tama menyalahkan masyarakat, Bapa Suci melihat bahwa, “Dunia informasi harus berjuang lebih keras untuk menjadi semakin kredibel dan transparan.”

Artinya, bila kredibilitas dan transparansi informasi terbangun, masyarakat akan semakin ‘tenang’. Kegaduhan media sosial dapat semakin dikurangi.

Paus Fransiskus: “Sebelum berbicara, mendengarkan.” Foto: instagram.com/springfieldop

Mendengarkan Umat

Ada yang menarik terkait dengan masalah mendengarkan ini, khususnya apa yang dibuat oleh Paus Fransiskus. Pesan ‘mendengarkan’ ini ternyata digaungkan secara konsisten oleh Bapa Suci.

Pada 10 Oktober 2021, Paus Fransiskus membuka Sinode Biasa XVI Para Uskup di Roma. Sinode ini sesungguhnya akan digelar pada Oktober 2023. Lantas mengapa dua tahun sebelumnya telah dibuka?

Waktu-waktu sebelumnya, kegiatan sinode semacam ini dihadiri ‘hanya’ oleh para uskup terpilih dari berbagai penjuru dunia dan perwakilan waligereja di berbagai negara. Kegiatan umumnya berlangsung di Roma.

Tahun 2015 lalu misalnya, para uskup mengadakan Sinode Biasa XIV yang mengolah tema mengenai keluarga Katolik. Seluruh kegiatan terpusat di Roma. Sinode yang yang dihadiri para uskup dengan Ketua Sinode Paus Fransiskus menghasilkan beberapa dokumen. Menurut Ketua KWI Mgr. Ignatius Suharyo, pertemuan tiga pekan tersebut menyepakati 94 pernyataan.

Apa yang terjadi pada Oktober 2023 nanti? Paus Fransiskus memberi waktu dua tahun agar para uskup di seluruh dunia mendengarkan apa kata umat.

Menurut data yang dirilis Vatikan Februari 2022, diperkirakan umat Katolik di dunia pada tahun 2020 berjumlah 1,36 milyar dan jumlah uskup 5.363 orang (katolikku.com).

Dengan penyederhanaan banyak hal, dalam Sinode Biasa XVI Paus Fransiskus sebagai pemimpin umat Katolik sedunia ingin mendengarkan apa kata umat. Melalui dan bersama para uskup, Paus Fransiskus ingin mendengar kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan umat mereka.

Gambaran teknisnya kurang lebih demikian. Di Keuskupan Purwokerto yang berada di Jawa Tengah bagian barat, umat mengolah tema Sinode Para Uskup dalam pertemuan-pertemuan Pra Sinode Para Uskup (dalam masa pra Paskah).

Ketika sebuah topik diungkapkan dalam pertemuan, umat lantas menanggapi atau menjawab beberapa pertanyaan. Mengingat suasana masih pandemi, sebagian besar pertemuan berlangsung daring. Tanggapan umat tersebut lantas dibawa ke hirarki yang lebih tinggi hingga pada akhirnya sampai ke Vatikan.

Meskipun tentu saja prosesnya tidak sesederhana itu, tetapi saya melihat konsistensi dan kesungguhan untuk mempraktikkan inti pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56; mendengarkan.

Paus Fransiskus menempatkan dirinya untuk mendengarkan. Paus Fransiskus juga mengajak koleganya para uskup untuk mendengarkan.

Saya mengajak melihat dengan cara yang lebih tajam lagi. Paus, para uskup, juga para imam adalah pemimpin agama Katolik juga pemimpin dalam ibadat. Mereka memiliki otoritas yang besar di altar dan mimbar gereja. Mereka memiliki otoritas besar soal ajaran iman.

Dalam kata lain, pada upacara-upacara agama Katolik, orang yang mendapat kesempatan paling banyak bicara adalah pemimpin ibadat; paus, para uskup, para imam atau pastor. Umat atau jemaat lebih banyak diam, mendengarkan.

Setidaknya, dalam dua tahun Pra-Sinode Para Uskup ini, orang-orang yang selama ini memiliki otoritas mimbar dan memiliki kesempatan paling banyak untuk bicara, diajak Paus Fransiskus untuk mendengarkan.

Seperti diungkapkan Bapa Suci dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, untuk mendengarkan secara lengkap dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.

Mencermati hal tersebut, rasanya pesan ‘mendengarkan’ Paus Fransiskus lantas terasa lengkap. Baik pesan verbal (dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56) maupun pesan nonverbal (dalam praktik Sinode Biasa XVI Para Uskup).

Saya melihat apa yang dibuat Paus Fransiskus adalah upaya untuk mengajak segala unsur gereja Katolik bertobat: kalangan klerus; imam, biarawan-biarawati, termasuk di dalamnya para uskup, juga umat awam.

Pertobatan itu adalah ‘membalik’ proses aktivitas, dari pertama-tama berkata-kata, lantas menjadi pertama-tama mendengarkan.

Bagi pelaku media sosial, hal itu juga berarti mengendalikan ‘kecepatan ibu jari mengirim pesan’. Pertama-tama harus mengamati, membaca lengkap, mendengarkan, baru kemudian menulis pesan dengan seksama dan mengirimkan atau membagikannya.

Mari kita ingat dan ucapkan terus kutipan ini: “Barangsiapa paling banyak bicara hendaklah ia menjadi pendengar yang pertama.”

Sutriyono Robert

Pengelola media sosial Rumah Singgah Maria Melung, tempat ziarah dan devosi kepada Bunda Maria, di Purwokerto.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.