Catatan Kenangan Kemah Bareng di Pantai Grigak

Pengalaman Menarik saat Kemah Bareng di Pantai Grigak, Sabtu-Minggu (30-31/7/2022).

0 108

Katolikana.com—Sabtu (30/7/2022) pagi, aku dan teman-teman OMK tiba di lokasi perkemahan Pantai Grigak. Kami disambut dengan ramah oleh beberapa Relawan dan anak-anak Dusun Karang.

Kami dituntun oleh kakak-kakak relawan dan panitia untuk turun dan menaruh barang yang kami bawa.

Setelah itu kami semua kembali naik keatas untuk pembagian tenda. Kami menaruh tas ke tenda kami masing-masing dan kembali keatas untuk sesi perkenalan dan pembagian kelompok.

Baca juga: Komunitas Relawan Grigak dan Orang Muda Katolik Paroki Santo Yusuf Bandung, Gunungkidul Gelar Kemah Bareng di Rumah Grigak

Saat sesi perkenalan dan pembagian kelompok, kami dari OMK dan anak-anak Dusun Karang harus menghitung angka dari satu sampai empat. Setelah itu kami berkumpul dengan orang-orang yang mengucapkan nomor yang sama dengan kami masing-masing.

Setelah itu kami semua bermain games dengan membentuk lingkaran. Peserta yang kalah akan diberi hukuman untuk bernyanyi di tengah-tengah lingkaran yang kami buat.

Setelah sesi games selesai, aku serta teman-teman OMK turun dan masuk ke tenda masing-masing untuk menunggu makan siang datang. Sambil beristirahat, kami menyantap snack yang kami bawa rumah.

Sesi istirahat selesai, kami kembali ke atas dan memulai sesi pengenalan lingkungan alam di sekitar Pantai Grigak. Ada pohon cemara udang, pohon kelapa dan pohon-pohon yang belum kami kenal sebelumnya.

Setelah itu kami kembali ke perkemahan dan berkumpul dengan kelompok untuk membuat poster bertemakan lingkungan. Saat waktu habis, beberapa dari kami belum menyelesaikan poster. Kami harus mengumpulkan poster kepada panitia dan dilanjutkan besok pagi.

Setelah pengumpulan poster, kami diajak oleh para relawan menuju lapangan bawah, dekat dengan pantai untuk memulai games selanjutnya.

Di perjalanan kami saling membantu untuk turun karena jalan lumayan curam dan dilalui oleh banyak tangga. Tiba di bawah kami beristirahat sebentar. Beberapa dari kami mengambil foto pemandangan pantai dari dekat.

Setelah istirahat sebentar, kami bermain bola, seperti sepak bola dan lempar tangkap bola bergiliran hingga sore.

Setelah puas bermain, kami kembali ke atas untuk mandi. Anak-anak Dusun Karang harus pulang karena tidak menginap.

Saat perjalanan pulang cukup menguras tenaga daripada saat berangkat ke lapangan. Tiba di atas, aku merasa pening dan lelah. Aku mencoba duduk di tangga dan menetralkan keadaan.

Setelah terasa lebih baik, aku melanjutkan perjalanan ke tenda, tetapi pening kembali menyerang kepalaku. Aku mencoba duduk sebentar sebelum masuk ke tenda. Beberapa orang ingin membantuku, tapi aku masih ingin duduk disana.

Setelah dirasa cukup kuat aku masuk tenda mengambil baju dan menentukan giliran mandi. Saat perjalanan naik, aku kembali pusing dan langsung berjongkok, beberapa orang membantuku masuk ke tenda, memberi teh dan obat.

Aku tetap memaksakan diri untuk mandi, dan diperbolehkan oleh panitia tapi harus dengan air panas, karena air di sana cukup dingin. Setelah mandi, aku merasa badan lebih enak, beberapa panitia menawarkan untuk pulang, tetapi aku bilang aku sudah baik-baik saja.

Setelah itu aku masuk ke tenda dan kembali menunggu makan malam. Kami menunggu sambil makan cemilan sambil membereskan tenda.

Setelah itu kami berkumpul sambil bernyanyi, makan malam, dan memakan seblak yang dibeli oleh salah satu orang tua peserta yang berkunjung ke area perkemahan.

Setelah itu aku masuk ke tenda karena udara cukup dingin dan kepalaku kembali pening. Aku keluar tenda sebentar di saat api unggun dinyalakan untuk mengambil beberapa foto lalu kembali masuk ke tenda karena kedinginan lalu aku tidur.

Sekitar pukul dua belas aku kembali bangun. Badanku cukup hangat, kepalaku cukup pening, aku keluar tenda dan menemukan masih ramai orang bernyanyi dan  mengobrol.

Aku diberi obat lagi oleh panitia. Saat aku ingin masuk ke tenda, aku bertemu teman satu tenda yang bangun dan mengajakku membuat mie. Kami membuat mie bersama, setelah itu memakannya, di tengah malam yang sunyi. Setelah selesai kami kembali ke tenda lalu tidur.

Di pagi hari, beberapa dari kami pergi ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Setelah itu kami kembali berkumpul dengan anak-anak Dusun Karang yang datang untuk menyelesaikan poster sambil makan snack yang diberi oleh panitia.

Setelah selesai kami kembali ke tenda mengambil baju untuk mandi. Tiba di kamar mandi, ada sebuah tragedi. Kami harus saling menunggu karena air di kamar mandi mati.

Setelah diperbaiki, kami bergiliran mandi dan beres-beres tenda untuk persiapan misa. Kami bekerja sama membereskan barang-barang dan mengangkutnya ke tempat kami berkumpul. Setelah itu kami membagi tugas giliran pembacaan novena saat misa.

Saat mendekati jam misa dimulai, anak-anak Dusun Karang dan OMK berfoto dan membuat video bersama, sebelum anak-anak Dusun Karang berpamitan untuk pulang.

Beberapa saat kemudian, sejumlah orang tua peserta dan umat dari Panggang datang untuk mengikuti misa di Grigak.

Kami menyambut mereka. Beberapa dari kami menolong umat untuk turun ke area misa. Saat misa sudah selesai dilaksanakan kami semua berpamitan untuk pulang ke rumah kami masing-masing.

Banyak kenangan yang membekas saat perkemahan berlangsung. Kami berharap setelah ini, tali persaudaraan akan makin tersambung, serta bisa bertemu kembali, untuk menjaga, menyayangi dalam kebersamaan.**

Kontributor: Agata Kinanti Raras Astuti, SMP N 2 Panggang Kelas IXA/02.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.