Hari Pertama Pesparani, 18 Tim Paduan Suara Campuran Dewasa (PSCD) Tampilkan Kehebatannya

Pada babak penyisihan, tim Sulawesi Utara tampil menggelegar.

0 78

Katolikana.com—Alunan suara merdu dan indah dari para peserta paduan suara campuran dewasa (PSCD) menggema di Aula Eltari Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu 29 Oktober 2022.

Sebanyak 18 tim menampilkan kehebatannya pada hari pertama Pesparani untuk kategori PSCD. Ada beberapa daerah yang dinyatakan gugur karena setelah dipanggil tiga kali tetapi tidak hadir di lokasi lomba, meski sudah mengambil nomor undi dalam pertemuan teknis sehari sebelumnya.

Semua kelompok paduan suara yang tampil membawakan lagu wajib berjudul ‘Salvator Mundi’ karya Giovanni Pierluigi da Palestrina dengan nada dasar Do = C.

Giovanni Pierluigi da Palestrina lahir di Palestrina, dekat Roma, pada 1525 dan wafat pada 2 Februari 1594. Dia seorang komponis Italia dari masa akhir masa Renaissance.

Untuk lagu pilihan, sebagian peserta membawakan lagu berjudul ‘Gereja Bagai Bahtera’ karya Martin G. Schneider dan penata suara Ujung Simbolon dengan nada dasar La = C.

Lomba paduan suara campuran dewasa (PSCD) di Aula Eltari Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (29/10/2022). Foto: Humas LP3KN

Lagu pilihan lain yang cukup digemari peserta Pesparani kali ini adalah “Tuhan Kami Tidak Pantas” karya Natalis Natalianto dengan nada dasar Do = G.

Selain itu masih ada lagu “Tuhan Janganlah Menghukum Aku” karya Ernest Marianto dengan nada dasar Do = G  dan “Ketika Badai Menerjang” karya A Sudarsono.

Pada babak penyisihan ini, hampir semua peserta tampil bagus dan menawan. Namun Peserta nomor undian 16 (Sulawesi Utara) tampil menggelegar, terutama untuk lagu pilihan “Tuhan Kami Tidak Pantas”.

Suara yang lembut dan menggelegar pada bagian akhir, dipadu dengan sedikit koreografi menjelang lagu usai, membuat mereka disambut tepuk tangan dari pendukung dan umat yang hadir. Bunyi indah yang dihasilkan dari paduan suara ini juga membuat para penonton merinding.

Kehebatan para peserta PSCD ini dinilai oleh lima orang juri yang berkompeten dalam bidang musik dan paduan suara, baik sebagai praktisi maupun akademisi.

Mereka adalah Budi Susanto Yohanes, Joseph Kristanto Pantioso, Puji Susilo, Pastor Yohanes Don Bosco Bakok SVD, dan Joanita Theresia Adimurti.

Sportivitas, Totalitas, Persaudaraan

Ketua Umum Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) Adrianus Meliala, dalam sambutan sebelum lomba, meminta para peserta lomba untuk memperhatikan tiga hal yaitu sportivitas, totalitas, dan persaudaraan.

Dengan sportivitas, kata Adrianus Meliala, setiap peserta tidak menggunakan cara-cara curang untuk meraih kemenangan. Meskipun cara itu bisa dilakukan.

“Kalau kita mau main curang, banyak sekali hal yang bisa kita lakukan. Tetapi kalau kita mau sportif, maka berbagai cara itu tidak kita lakukan,” kata Adrianus Meliala.

Sementara tentang totalitas, Adrianus Meliala meminta para peserta tidak terpengaruh oleh penampilan tim lain.

“Kalau ada peserta sebelumnya tampil bagus, peserta berikutnya tidak usah berkecil hati. Kita mengerahkan segala kemampuan untuk memberi kontribusi terbaik bagi acara ini dan memberikan yang terbaik bagi daerah yang telah mengirimkan kita,” tegasnya.

Terkait persaudaraan, Adrianus Meliala menekankan setelah berlomba dan mengeluarkan seluruh kemampuan, tetapi belum menjadi juara, maka semua peserta tetaplah bersaudara satu sama lain.

“Setelah kita bertanding, berlomba, pada saatnya nanti semua harus kembali pada konteks bahwa kita adalah saudara,” tutup Adrianus Meliala. *

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.