Daftar Peringkat Tarekat Pria Terbesar di Dunia, Jesuit Peringkat Teratas

Asia dan Afrika Kini Menjadi Jantung Baru Panggilan Gereja.

0 18

Katolikana.com – Banyak orang beranggapan bahwa panggilan menjadi imam atau biarawan sedang mengalami “masa senja”. Berita tentang seminari yang tutup, biara yang kosong, hingga menurunnya jumlah religius di Eropa sering kali memperkuat kesan tersebut. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, apakah kehidupan religius perlahan sedang menuju akhir?

Jawabannya ternyata tidak. Di berbagai belahan dunia, ribuan pria terus menjawab panggilan Tuhan untuk membaktikan hidup mereka sebagai religius, menjadi imam, bruder, misionaris, maupun rahib dalam berbagai tarekat dan kongregasi.

Di balik berita-berita itu, Gereja justru sedang mengalami sebuah pergeseran besar. Pusat gravitasi panggilan tidak sedang menghilang, melainkan berpindah. Bahkan, sejumlah tarekat yang telah berusia ratusan tahun masih menjadi tulang punggung karya evangelisasi Gereja di seluruh dunia.

Data terbaru dari Annuario Pontificio 2026, buku tahunan resmi Takhta Suci, memperlihatkan bahwa sedikitnya 104.847 religius pria tergabung dalam 20 ordo dan kongregasi terbesar di Gereja Katolik. Di balik angka-angka itu tersimpan sebuah kisah yang jauh lebih besar: Roh Kudus terus memanggil, tetapi kini panggilan itu semakin banyak tumbuh di Asia dan Afrika.

Jesuit Masih Nomor Satu, Salesian Membayangi

Peringkat pertama masih ditempati Serikat Yesus (SJ) yang didirikan oleh Santo Ignatius dari Loyola, dengan 13.768 anggota di seluruh dunia. Namun keunggulan itu sangat tipis. Salesian Don Bosco (SDB) yang didirikan Santo Yohanes Bosco hanya tertinggal 74 anggota, dengan total 13.694 religius.

Sementara itu, di posisi ketiga tetap berdiri kokoh Ordo Saudara Dina (OFM/Fransiskan) dengan 11.468 anggota, disusul Kapusin dan Konfederasi Benediktin.

Lima Kongregasi Religius Pria Terbesar di Dunia

  1. Serikat Yesus (SJ/Jesuit) – 13.768
  2. Salesian Don Bosco (SDB) – 13.694
  3. Ordo Saudara Dina (OFM/Fransiskan) – 11.468
  4. Kapusin (OFM Cap.) – 9.685
  5. Konfederasi Benediktin (OSB) – 6.124

Menariknya, lima kongregasi terbesar ini saja sudah berjumlah 54.739 religius, atau sekitar 52,2% dari keseluruhan anggota dua puluh kongregasi terbesar di dunia.

Wajah Lama, Semangat Baru

Setelah tiga besar, daftar tersebut masih diisi oleh tarekat-tarekat yang sudah sangat akrab dalam sejarah Gereja.

Fransiskan, Dominikan, Benediktin, Karmelit, Agustinian, hingga Serikat Yesus merupakan tarekat-tarekat yang telah melayani Gereja selama ratusan tahun. Sebagian bahkan telah melewati usia delapan abad. Mereka bertahan bukan sekadar karena sejarah yang panjang, tetapi karena tetap setia pada karisma yang jelas.

Kapusin tetap menjadi salah satu kekuatan utama keluarga Fransiskan. Konfederasi Benediktin terus mempertahankan tradisi monastik yang telah berlangsung lebih dari seribu lima ratus tahun. Sementara itu, Societas Verbi Divini (SVD/Verbitan) tetap menjadi salah satu kongregasi misionaris terbesar di dunia.

Di jajaran sepuluh besar juga terdapat Ordo Dominikan, yang sejak didirikan oleh Santo Dominikus de Guzmán dikenal memiliki karisma khas dalam pewartaan, pengajaran, dan pembelaan iman. Salesian tetap dikenal melalui pendidikan kaum muda. Redemptoris berfokus pada evangelisasi umat sederhana.

Dominikan tetap identik dengan pewartaan dan pengajaran iman. Benediktin mempertahankan tradisi kehidupan monastik yang telah membentuk peradaban Barat selama berabad-abad. Karmelit terus memperkaya Gereja melalui spiritualitas doa dan kontemplasi.

Di tengah dunia modern yang berubah begitu cepat, identitas yang jelas justru menjadi sumber daya tahan mereka.

20 Kongregasi Religius Pria Terbesar di Dunia
(Annuario Pontificio 2026)

Peringkat Kongregasi Jumlah Anggota
1 Serikat Yesus (SJ) 13.768
2 Salesian Don Bosco (SDB) 13.694
3 Ordo Saudara Dina (OFM) 11.468
4 Kapusin (OFM Cap.) 9.685
5 Konfederasi Benediktin (OSB) 6.124
6 Serikat Sabda Allah (SVD) 5.641
7 Dominikan (OP) 5.337
8 Redemptoris (CSsR) 4.473
9 Karmelit Tak Berkasut (OCD) 3.877
10 Fransiskan Konventual (OFM Conv.) 3.817
11–20 Kongregasi lainnya 26.963
  TOTAL 104.847

 

Keluarga Fransiskan Tetap Menjadi Raksasa

Jika tiga cabang utama keluarga Fransiskan digabungkan—OFM (Fransiskan), OFM Cap. (Kapusin), dan OFM Conv. (Konventual)—jumlahnya mencapai 24.970 religius. Artinya, hampir seperempat dari seluruh religius dalam dua puluh kongregasi terbesar berasal dari keluarga Fransiskan. Dapat dikatakan, keluarga besar Fransiskan tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam Gereja Katolik hingga saat ini.

Bahkan, bila digabungkan dengan anggota Serikat Yesus, totalnya mencapai 38.738 religius, atau hampir 37% dari seluruh anggota dua puluh kongregasi terbesar berasal dari dua keluarga religius tersebut.

Angka ini menunjukkan bahwa spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi dan Santo Ignatius dari Loyola masih terus menginspirasi ribuan orang untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Kristus.

Asia dan Afrika Menjadi Jantung Baru Gereja

Barangkali fakta paling menarik bukanlah siapa yang berada di peringkat pertama, melainkan dari mana para anggota baru itu berasal.

Selama berabad-abad, Eropa menjadi pusat lahirnya panggilan hidup religius. Kini situasinya berubah. Pusat pertumbuhan panggilan hidup religius telah bergeser secara nyata.

Saat ini, semakin banyak calon imam, bruder, dan religius berasal dari India, Filipina, Vietnam, Indonesia, Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Tanzania, serta berbagai negara lain di Asia dan Afrika.

Jika selama berabad-abad Eropa menjadi “lumbung panggilan” Gereja, kini denyut kehidupan religius justru semakin kuat berdetak di kawasan Selatan dunia (Global South).

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana Gereja benar-benar hidup sebagai Gereja universal. Roh Kudus membangkitkan panggilan di tempat-tempat yang dahulu dianggap sebagai “daerah misi”, tetapi kini justru menjadi sumber tenaga baru bagi evangelisasi dunia.

Indonesia pun termasuk di dalam arus besar ini. Tidak sedikit imam, bruder, dan misionaris Indonesia yang kini diutus berkarya ke Eropa, Amerika, bahkan Afrika—sesuatu yang mungkin sulit dibayangkan beberapa dekade lalu.

Ordo-Ordo Berusia Ratusan Tahun Tetap Menjadi Pilar Gereja

Meski dunia berubah sangat cepat, ordo-ordo yang telah berdiri selama ratusan tahun ternyata tetap menjadi penopang utama karya Gereja. Fransiskan, Dominikan, Benediktin, Karmelit, dan Agustinian terus berkarya dalam pendidikan, pastoral, pelayanan sosial, pembinaan rohani, hingga misi ke berbagai pelosok dunia.

Di sisi lain, kongregasi yang lahir pada era modern seperti Jesuit dan Salesian juga terus menunjukkan vitalitas luar biasa dalam bidang pendidikan, intelektualitas, pembinaan kaum muda, dan evangelisasi. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah panjang bukanlah beban, melainkan fondasi yang terus menghasilkan buah bagi Gereja hingga hari ini.

Harapan Gereja Ada pada Mereka yang Menjawab Panggilan

Di tengah dunia yang semakin materialistis, individualistis, dan mengejar kenyamanan, keputusan seorang anak muda untuk meninggalkan segalanya demi mengikuti Kristus merupakan sebuah kesaksian yang luar biasa. Mereka memilih hidup miskin, taat, dan murni bukan karena kehilangan masa depan, melainkan karena menemukan tujuan hidup yang lebih besar.

Statistik memang penting. Namun, di balik setiap angka terdapat seorang religius yang meninggalkan keluarga, karier, bahkan impian pribadinya untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi dunia. Dan selama masih ada orang-orang yang berani menjawab panggilan itu, Gereja tidak pernah kehilangan masa depannya.

Mungkin pusat panggilan telah bergeser dari Barat ke Timur dan Selatan. Mungkin jumlahnya tidak lagi sebesar satu abad yang lalu di Eropa. Namun satu hal tetap tidak berubah: Kristus masih terus memanggil, dan selalu ada hati yang berkata, “Ya Tuhan, utuslah aku.” Di sanalah masa depan Gereja sedang dibangun, bukan pertama-tama oleh statistik, melainkan oleh kesetiaan orang-orang yang mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Injil.

Selama masih ada orang-orang yang berani meninggalkan segalanya demi Injil, Gereja akan selalu memiliki harapan. Sebab, panggilan bukanlah sekadar soal jumlah, melainkan tentang kesediaan manusia menjawab undangan Allah—dan kisah itu akan terus ditulis dari generasi ke generasi.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.