Seakan Dorang Setengah Malaikat: Sebuah Eulogi untuk Filep Karma

Mengenang tokoh pejuang kemanusiaan Tanah Papua Filep Karma, 1959-2022

0 99

… untuk Bapa Filep Karma

beserta semua tokoh yang memperjuangkan kebebasan bagi rakyat Papua

dengan jalan damai.

 

Meskipun kita berbeda pandangan politik dalam melihat Indonesia,

dengan penuh rasa hormat karya penelitian ini saya persembahkan untuk kalian.

 

Dengan menyimpan harapan,

apapun yang kelak akan terjadi di hari depan,

kita masih bisa saling bersaudara dan bertegur sapa dalam bahasa kemanusiaan.

 

Tiga penggal paragraf itu rasanya baru saja saya tulis kemarin. Padahal, saya merangkai susunan kalimat beberapa tahun silam sebagai halaman persembahan di tugas akhir. Dengan tugas akhir yang coba mengangkat isu mengenai merebaknya sentimen rasisme anti-Papua di Yogyakarta, saya merasa harus mendedikasikan kepada sosok-sosok yang kala itu menginspirasi dan mendorong saya untuk menyelesaikan penelitian dengan isu tersebut. Termasuk satu diantaranya, Filep Karma.

Lalu hari ini, di awal November, saya kembali menengok penggal-penggal paragraf tersebut dengan hati yang masygul, seiring seruak kabar duka sedari Selasa siang, 1 November 2022: Filep Karma dikabarkan telah berpulang ke hadirat Ilahi.

Filep Jacob Samuel Karma, atau lebih dikenal sebagai Filep Karma, dipanggil Sang Khalik tepat pada tanggal 1 November 2022. Mendiang Filep Karma ditemukan tidak bernyawa di Pantai Base-G, Jayapura, Papua. Ia diperkirakan meninggal dunia karena terseret arus kala sedang berenang.

Berpulangnya Filep Karma secara mendadak membuat banyak pihak terkesiap dan tidak percaya. Spontan pesan belasungkawa mengalir deras di media sosial. Satu diantaranya, pesan dari Jaringan GUSDURian yang menyebut Filep Karma sebagai “tokoh Papua, pejuang kemanusiaan dan kesetaraan” dalam ucapan duka cita mereka.

Saya sendiri berani bersaksi bahwa sebutan itu benar adanya.

***

Medio 2016, saya berkesempatan untuk bersua dengan Bapa Filep dalam sebuah acara diskusi yang diadakan oleh GUSDURian Jogja. Itulah kali pertama dan terakhir kali saya berjumpa dengannya.

Bapa Filep ketika itu tampil dengan ciri khasnya. Setelan kemeja dan celana panjang ala PNS berwarna cokelat khaki, rambut yang dibiarkan tumbuh gondrong dan tampak kusut masai, serta jenggot yang ia kepang panjang. Tak lupa, ia juga memakai topi bergambar bendera Timor Leste dan mengenakan pin di dadanya bergambar bendera Bintang Kejora.

Saya sendiri merasa lebih nyaman memanggilnya “Bapa Filep” karena saya sadar usia tokoh Papua satu ini sangat jauh di atas saya. Sebagai putra Papua kelahiran 1959, mungkin dia berusia sekitar 57 tahun pada saat saya bertemu dengannya.

Namun perbedaan usia nyatanya tak membuatnya berjarak dengan audiens yang memadati lokasi diskusi pada malam itu. Saya mendapati ia adalah sosok yang ramah, murah senyum, dan bersuara lembut. Lupakan imajinasi kalau dia adalah tipikal singa podium atau orang yang meledak-ledak dalam menyampaikan argumennya. Tidak sama sekali.

Sebagai seorang pejuang kemerdekaan (atau “separatis” jika menurut istilah pemerintah Indonesia), tentu saja ia merupakan sosok yang diplomatis dan artikulatif. Selain itu, ia piawai dalam memainkan narasi serta pandai menyusun analogi yang membuat apa yang ia sampaikan mudah dipahami lawan bicaranya.

 

Filep Karma, sosok yang ramah dan disukai banyak orang muda. Selepas keluar dari penjara ia bertemu anak-anak muda di Jakarta pada 2016/Foto: istimewa

 

Ia tegas ketika menyoal permasalahan laten HAM di tanah kelahirannya, lugas mengkritik kesalahan pola pendekatan militeristik yang dipakai pemerintah Indonesia dalam membangun Papua, serta runtut dalam menjelaskan sejarah mengapa sampai saat ini banyak orang-orang Papua yang merasa dirinya bukan bagian dari Indonesia. Akan tetapi, semua itu mampu ia obrolkan secara mengalir dalam forum diskusi yang berlangsung hangat dan sesekali diselingi oleh gelak tawa.

Dalam sesi tanya jawab di forum diskusi tersebut, saya ingat saya menyuarakan kritik terhadap pendekatan kekerasan yang dipakai sebagian oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sekaligus saya juga menanyakan seperti apa pendapatnya sebagai pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan masa depan Papua dengan cara damai dalam menyikapi kelompok-kelompok lain di Papua yang berjuang dengan cara kekerasan.

Bagaimana pun juga, Filep Karma adalah sosok eks-tahanan politik (baca: lawan politik pemerintah) yang memiliki pengaruh besar di lansekap politik Indonesia. Sehingga, saya menanti apa sanggahan yang akan ia utarakan untuk menangkis “serangan” saya. Akan tetapi, jawaban yang Bapa Filep sampaikan menunjukkan bahwa ia adalah seorang gentleman.

Mengenai kekerasan yang dilakukan kelompok OPM, dia tidak mencoba menyanggah pendapat saya. Dia hanya mengatakan bahwa banyak sekali kelompok dan organisasi yang coba memperjuangkan kemerdekaan Papua, tetapi tidak ada rantai komando di dalamnya. Pun demikian, Bapa Filep tetap menyatakan ketidaksetujuannya untuk memperjuangkan nasib Papua dengan kekerasan bersenjata.

Kurang lebih ia membandingkan untuk apa selama ini masyarakat Papua dan para pejuang kemanusiaan mengutuk aksi militeristik pemerintah Indonesia jika OPM juga melakukan kekerasan. Jika demikian yang terjadi, tidak ada bedanya OPM dengan pemerintah Indonesia.

Selanjutnya ia justru bertanya retoris, “Kalau Papua nantinya berhasil merdeka dari Indonesia toh, kemerdekaan itu untuk siapa? Untuk orang Papua kah? Siapa itu orang Papua?”

Bapa Filep menolak mengusir orang-orang Indonesia apabila kelak Papua berhasil merdeka. Sebab, ia tidak memimpikan Papua menjadi negara yang primordialis dan chauvinis. Baginya orang Papua bukan soal hitam kulit dan keriting rambut. Melainkan orang Papua adalah siapa saja yang mencintai tanah Papua. Entah dari suku, ras, atau daerah manapun orang tersebut berasal.

Dalam bukunya, “Seakan Kitorang Setengah Binatang”, Bapa Filep pernah menceritakan pengalaman pahitnya selama menempuh pendidikan di Jawa. Mengutip pengakuannya, ia mengatakan, “Kitorang yang dari Papua, sering dianggap setengah binatang. Kitorang dianggap seakan-akan kitorang evolusi dari Teori Darwin, proses dari hewan berubah menjadi manusia.”

Namun, mendengar nada sejuk yang ia sampaikan atas kritik dan pertanyaan saya, saya tak melihat adanya gejolak amarah atau dendam dalam diri Bapa Filep. Sebelas tahun dibui sebagai tahanan politik tak membuatnya menyimpan dengki. Getirnya rasisme dan diskriminasi tak membuat ia berpahit hati.

Penjara, rasisme, dan diskriminasi memang membuatnya semakin meyakini pendirian politiknya. Akan tetapi, tak lantas ia memendam dendam dan dengan gelap mata menilai semua orang Indonesia sebagai orang jahat. Secara ksatria, ia tetap mengakui ada banyak orang-orang Indonesia yang baik dan ia tidak bisa membenci mereka.

Bahkan, seusai forum diskusi itu bubar, saya masih teringat persis gurauan yang dia lontarkan ke saya saat saya hendak meminta foto bersama sebagai kenang-kenangan. “Jangan khawatir, Adik. Kitorang ini toh tetap masih bisa basodara selama masih sama-sama suka bola dan suka Persipura, ha-ha-ha,” candanya sembari terkekeh.

Sehingga di mata saya, Bapa Filep telah membuktikan bahwa dorang bukan setengah binatang. Sosok, kepribadian, pembawaan, dan sikap Bapa Filep, bagi saya, membuat seakan dorang setengah malaikat.

Selamat jalan Bapa Filep. Requiescat in pacem.

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.