Sekolah Pingit, Sekolah Alternatif Bagi Warga Miskin di Daerah Pingit Yogyakarta

Sekolah sederhana di tengah sebuah perkampungan.

0 69

Katolikana.com—Sekolah Pingit merupakan bagian dari Perkampungan Sosial Pingit (PSP), sebuah komunitas yang bergerak di bidang community development di daerah Pingit, Yogyakarta.

Gerakan ini dimulai sejak 1965 oleh Bernhard Kieser, ketika itu calon pastor Jesuit di Kolese St. Ignatius.

Tujuannya, memberikan pelayanan sederhana bagi keluarga tunawisma yang ketika itu mengalami krisis ekonomi berat pasca 65 di Yogyakarta.

Berkat bantuan Soebardjo, gerakan sederhana ini kemudian memperoleh  hak atas tanah di tepi Sungai Winongo.

Hingga saat ini lokasi itu terus digunakan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan Perkampungan Sosial Pingit (PSP).

Kegiatan sosial para calon pastor di Kolese St. Ignatius ini telah memperoleh payung hukum oleh lembaga Yayasan Sosial Soegijapranata dari Komisi Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Semarang sejak 1968.

Sejumlah program dilaksanakan Perkampungan Sosial Pingit (PSP), salah satunya pendidikan anak.

Hingga 2022, tempat yang digunakan untuk melakukan aktivitas pendidikan anak Sekolah Pingit adalah rumah-rumah warga terdahulu yang didominasi homeless.

Kini, Perkampungan Sosial Pingit tidak lagi fokus pada warga berstatus homeless, karena keberadaan dinas sosial yang dianggap dapat lebih baik dalam menangani permasalahan sosial mulai dari homeless, orang jalanan dan sebagainya.

“Kami beradaptasi terkait bagaimana anak-anak yang ada di lingkungan ini, lingkungan menengah ke bawah di pinggir kali ini, mendapat pendidikan alternatif, mendapat ruang untuk belajar, dan kesenian,” ungkap Frater Andre Mantiri SJ.

Kegiatan sosial Perkampungan Pingit yang dilaksanakan oleh Kolese St. Ignatius ini juga memberikan kesempatan bagi masyarakat terutama mahasiswa untuk belajar dan melihat realitas sosial Yogyakarta.

“Jogja tidak selalu terbuat dari angkringan dan rindu, tetapi ada sepotong daerah seperti Perkampungan Sosial Pingit yang perlu menjadi perhatian,” ujar Frater Andre.

Kontributor Katolikana berfoto bersama Romo dan Frater pengurus Sekolah Pingit. Foto: Istimewa

Sekolah Pingit

Keberadaan Sekolah Pingit di tengah Perkampungan Sosial Pingit ini menjadi alternatif bagi anak-anak warga perkampungan pingit yang dominan menengah kebawah.

Terdapat 40-an siswa  yang belajar di Pingit, mulai dari TK hingga SMP. Proses pembelajaran Sekolah Pingit dilakukan setiap Senin dan Kamis pukul 18.30-20.00.

Bangunan yang sangat sederhana tidak menghilangkan semangat anak-anak Pingit untuk menimbah ilmu.

Begitu pula para volunteer yang dengan sepenuh hati mengajar anak-anak Perkampungan Sosial Pingit ini.

Kegiatan di Sekolah Pingit ini tidak semata-mata belajar formal. Sesekali diisi dengan kegiatan kesenian dan kegiatan unik lainnya. Tujuannya agar anak-anak merasa lebih enjoy dan nyaman saat berada di Sekolah Pingit.

Anak-anak di lingkungan Perkampungan Sosial Pingit ini merasa senang dengan keberadaan Sekolah pingit ini.

“Suka sekali. Banyak teman, nggak kaya di sekolahan. Kalau mau naik kelas itu pasti diajak ke Kebun Binatang, dan lain-lain,” ungkap seorang siswa Olivia.

Lingkungan Sekolah

Frater mengungkapkan bahwa lingkungan di daerah pinggiran Kali Pingit ini sebenarnya tidak terlalu kondusif.

Hal itu dilihat dari kerap terjadi kegiatan sabung ayam hingga pekerjaan orang tua dari anak-anak di lingkungan ini.

Namun menurut Frater Andre, selama dua tahun mengabdi di Perkampungan Sosial Pingit yang mayoritas didominasi penduduk beragama Islam, Frater Andre merasa masyarakat welcome dengan keberadaan para frater dan kegiatan yang dilakukan Kolese St. Ignatius.

“Selama saya dua tahun lebih saya di sini, saya merasa welcome dengan masyarakat. Tentu kami juga harus menghormati mereka. Misalnya, bulan puasa, kami memodifikasi kelas menjadi sebelum magrib. Lalu ketika ada Adzan, anak-anak kami suruh sholat dulu,” terang Frater Andre.

Frater Andre juga menjelaskan bahwa anak-anak yang belajar dan mengikuti kegiatan di Sekolah Pingit ini tidak pernah mendapatkan paksaan melainkan datang dengan sukarela untuk belajar.

“Mereka merasa enjoy di sini. Kalau tidak ada kelas, seperti kemarin ada satu anak yang mengatakan ‘wah, Seninnya terasa hampa’, gitu. Mereka di sini senang gitu bisa ketemu teman-teman, ketemu orang baru, bisa explore,” tambah Frater Andre.

Dana Sekolah

Terkait sumber dana yang digunakan untuk keberlangsungan kegiatan di perkampungan Sosial Pingit ini, terdapat dua sumber pendanaan.

Pertama, dari Provinsi Indonesia Serikat Jesus. “Kami mengajukan budget dengan jangka waktu setahun, kegiatannya apa saja ke Provinsial SJ,” ujar Frater Andre.

Frater Andre menambahkan bahwa pelayanan ini merupakan bagian dari komitmen Serikat Jesus.

“Ada tiga prioritas preferensi apostolik kami, salah satunya berjalan bersama orang-orang miskin, menderita, dan tersingkirkan. Hal ini juga menjadi bagian dari pendidikan calon imam untuk memberi ruang para frater terlibat dalam karya sosial,” tutur Frater Andre.

Kedua, sumbangan dari donatur. Terdapat beberapa channel donatur, baik dalam dan luar negeri yang dengan murah hati memberikan donasi untuk pengembangan perkampungan sosial pingit ini.

Dengan keberadaan kedua sumber pendanaan ini, pengelolaan keuangan Perkampungan Sosial Pingit, utamanya Sekolah Pingit harus dilakukan secara  profesional. Perlu adanya laporan pertanggung jawaban, proposal dan lain-lain. (*)

Kontributor: Albert Niko, Anastasia Ginting, Bonita Natiyoman, Shella Elvina

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.