Sulisman, Perintis Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan Soroti Kurangnya Minat Generasi Muda

Kembangkan kerajinan bambu modern.

0 51

Katolikana.com—Sejak 2006, Dusun Brajan dikenal sebagai Desa Wisata Kerajinan Bambu. Lokasinya di Dusun Brajan, Kelurahan Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Di wilayah ini lebih dari 90 persen warganya menjadi pengrajin bambu. Di sini terdapat lebih dari 100 UMKM kerajinan bambu.

Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan dirintis oleh Sulisman (62 tahun). Ketika dia menjabat Kepala Dusun Brajan, Sulisman mengembangkan Desa Wisata Kerajinan Bambu.

Kini, meski tak lagi menjabat Kepala Dusun, usaha kerajinan bambu milik Sulisman menjadi pusat bagi warga untuk menjual produk dan menjadi salah satu UMKM terbesar di wilayah itu.

Kerajinan bambu di Dusun Brajan telah mengalami banyak perubahan. Dahulu, masyarakat Dusun Brajan masih menggunakan teknik tradisional dengan cara diasapi, ditali, dan sebagainya.

Kini, mereka lebih fokus pada kerajinan bambu modern di mana proses pembuatannya yang menggunakan lem dan finishing untuk memperkuat produk.

Selain itu dari segi desain dan fungsi, produk yang dihasilkan oleh pengrajin bambu modern lebih bervariatif.

Beberapa contoh produk kerajinan bambu modern adalah kebutuhan rumah tangga seperti piring, tempat tissue, hiasan lampu, interior, tempat pensil, dan lain sebagainya.

Sulisman, perintis Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan. Foto: Virgilia Flori

Tradisi

Menurut Sulisman, masyarakat Dusun Brajan memilih bambu sebagai bahan utama yang dikembangkan karena memang sudah menjadi tradisi turun-temurun.

“Bambu sangat mudah dijumpai di sekitar. Harganya pun relatif murah sehingga tidak kesulitan untuk mendapatkan bahan pokok,” ujar Sulisman.

Dia menambahkan, selain itu, alat yang digunakan untuk membuat kerajinan bambu pun sederhana dan murah, tidak perlu modal yang besar. Dari sini masyarakat Dusun Brajan mampu menambah penghasilan hidup mereka.

Generasi Ketiga

Menurut Sulisman, kegiatan produksi kerajinan bambu ini sudah dilakukan sejak dahulu. Bahkan menurut penuturannya, Sulisman merupakan generasi ketiga yang mengembangkan usaha kerajinan bambu.

Produk bambu hasil kreativitas masyarakat Dusun Brajan dijual secara offline dan online.

Tidak hanya dijual di Indonesia, namun ada agen-agen yang mengekspor produk kerajinan tangan bambu ini. Beberapa dikirim ke Malaysia, Singapura, Jepang, Dubai, dan lain-lain.

Promosi melalui event seperti pameran dan melalui jejaring sosial cukup membantu Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan dikenal lebih banyak orang. Beberapa media televisi dan cetak sempat melakukan liputan di desa wisata ini.

Tantangan

Sulisman mengatakan tantangan utama yang dihadapi dalam usaha kerajinan bambu ini adalah banyaknya pesaing yang memiliki kualitas lebih bagus.

Ia masih mengalami hambatan dalam desain produk. “Desain produk yang kurang inovatif dapat menurunkan minat calon konsumen. Desain produk menjadi hal yang patut diperhatikan dan terus ditingkatkan,” ujar Sulisman.

Selain itu, tenaga ahli yang tidak mencukupi kadang menjadi hambatan ketika permintaan sedang tinggi.

Menurut Sulisman, kurangnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha atau pekerjaan orang tua menjadi salah satu faktor pengaruh kelangkaan Sumber Daya Manusia.

Modal yang terbatas juga menjadi hambatan bagi Sulisman dan warga Dusun Brajan merintis usaha kerajinan bambu.

Untuk memproduksi kerajinan bambu, dibutuhkan biaya bahan baku, pengolahan, hingga finishing.

Kerajinan Bambu produksi Desa Wisata Brajan. Foto: Virgilia Flori

Harapan

Sulisman berharap agar Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan dapat terus bertahan dan berkembang.

Untuk saat ini dari pihaknya belum ada yang mampu melakukan ekspor mandiri, sehingga besar harapan mereka untuk memiliki perusahaan dan melakukan ekspor sendiri tanpa melalui agen.

Sulisman juga berharap agar Desa Wisata Kerajinan Bambu Brajan makin dikenal banyak orang.

Selama ini mereka melakukan promosi pada pameran-pameran dan jejaring sosial.

Dari usaha promosi tersebut mereka mulai dikenal beberapa investor yang juga memberikan donasi untuk pembangunan infrastruktur daerah.

Sulisman juga berharap agar usahanya tetap lancar dan mampu saling membantu satu sama lain.

Ia tidak masalah apabila ada pembeli yang membeli produk bukan dari outlet miliknya, karena memang sejak awal tujuannya adalah kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat. (*)

Kontributor: Virgilia Flori

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.