“Matayani”: Sayatan, Trauma, dan Hidup yang Harus Tetap Berjalan

Lukisan yang tersayat bukan disengaja oleh Oktaviyani. Tanda sayatan pada lukisan Yani timbul melalui suatu peristiwa.

0 195

Katolikana.com—Oktaviyani adalah seniman berdarah Minangkabau yang merintis karir di Yogyakarta. Melalui kisah hidupnya, Yani menyalurkan ide dalam lukisan yang dipamerkan di Ruang Dalam Art House, Jeblog Tirtobirmolo Kasihan Bantul, Yogyakarta.

Pameran solo exhibition Oktaviyani diselenggarakan pada 24 Mei–15 Juni 2023.

Tokoh perempuan yang dipamerkan Oktaviyani mengilustrasikan sahabatnya dalam versi imajinatif bernama Arrabella. Bukan main perjuangannya, ia merencanakan pameran ini selama dua tahun.

Lukisan yang dipajang memiliki konsep yang unik. Sayatan setiap lukisan tidak serta merta dilakukan secara sadar, terselip makna mendalam yang dirasakan Oktaviyani. Sang kekasih menjadi dalang di balik lukisan yang berbalut dengan jahitan benang.

Tersayat. Foto: Istimewa

Makna MataYani

Identik dengan Mata terbuka lebar, seorang wanita bergaun panjang menatap ke depan seolah bertanya dan penuh misteri mengajak kita ke alam fantasi.

Absurd menggiring kita pada kisah yang panjang, bagai benang kusut. Kesabaran kunci untuk menemukan ujung, lalu satu persatu ditarik.

Sesuatu yang dihadapi tergambarkan melalui sorotan sepasang mata dengan warna yang berbeda, menampilkan figur perempuan. Terlihat bahwa Oktaviyani sedang menunjukkan sesuatu yang sedang ia hadapi.

Yani seolah mengajak penikmatnya untuk memahami kondisi, terkadang kita berada di ruang yang normal namun suasana terkadang menunjukan situasi absurd!

Mata pada lukisan mengandung banyak makna, pertanyaan dan jawaban yang telintas di pikiran Yani bercampur aduk dalam drama statis penuh gugatan.

Teman Imajinasi

Sosok sahabat imajinatif bernama Arabella hadir dalam karya A Confession (oil on canvas, 140 x 90 cm). Ini sebuah pengakuan Yani melalui bahasa visualnya.

Arrabella berdiri menatap dengan dingin, gaun putih pose tanpa ekspresi disertai mata terbuka lebar.

Ada senyum yang membutuhkan usaha, meski luka di hidungnya tampak, menandakan terdapat sesuatu yang ingin ia ceritakan.

Posisi dua tangan mendekap jantung berbalut warna merah merona, memegang erat gunting.

Cita-Cita Ayah

Yani mengadakan pameran MataYani dengan alasan yang mengharukan. Yani berharap pameran ini dapat menjadi batu loncatan untuk perjalanan ke depan.

‘’Saya ingin menyambung tangan dan mewujudkan cita-cita ayah. Dahulu beliau tidak mendapatkan restu dari keluarga untuk melanjutkan pendidikan seni rupa,” ujar Yani.

Selama pameran ini berlangsung Yani merasa ragu akankah dapat berlangsung lama atau bahkan banyak penikmat yang menyukai hasil karya Yani.

“Berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya yang saya ikuti, di pameran tunggal ini terdapat banyak rasa canggung bahkan rasa takut,’’ tambah Yani.

Meskipun pada 2019, rencana pameran tunggal pertama saat itu mengalami hambatan bahkan pameran batal diadakan. Yani bersyukur karena pameran MataYani berjalan sesuai harapan dan lancar.

Tersayat

Sosok perempuan murah senyum ini dirangkum dan disalurkan menjadi tema pameran tunggal “MataYani“.

Lukisan yang tersayat bukan disengaja oleh Yani. Tanda sayatan pada lukisan Yani timbul melalui suatu peristiwa.

Pameran tunggal pada 2019 batal dilakukan. Berawal dari kekasih Yani yang mengunjungi studio pagi itu. Lalu, terjadi pertikaian hingga emosi tak tertahankan sehingga merusak 10 lukisan dengan cutter.

Kekasih yang tidak memberi dukungan pada Yani mengenai dunia seni rupa, ketakutan yang Yani alami membekas menjadi trauma. Ia pun melompat pagar setinggi dua meter untuk menghindar dari sang kekasih.

Munculnya lukisan sayatan penuh luka, dan dia membiarkan luka sayatan menjadi tanda.

“Bagi saya kita harus tetap berjuang, terus berjalan, takut, trauma karena tekanan dari kejadian di masa lalu merupakan bagian dari sebuah perjalanan,” ujar Oktaviyani.

Perlu waktu lama untuk pulih dari trauma, beriringan saat pandemi COVID-19 datang melanda. Saat itu pula Yani mulai membuka lembaran baru dan semangat berkarya.

Saat pandemi banyak orang yang menata hidup, berjuang, merenung. Yani pun merasa tidak sendirian. Ada yang senasib dengannya. Yani bangkit dan survive.

Lukisan berjudul Savior, salah satu lukisan kesukaan Oktaviyani. Foto: Diah Sintia

Kesukaan

Dari sejumlah lukisan, Yani memiliki satu lukisan yang berkesan di hidupnya selama membuat pameran MataYani, berjudul The Savior.

Lukisan ini menggambarkan seorang perempuan yang tengah bersandar di pangkuan kucing, tak luput ditemani kucing lain.

“Kucing menjadi teman setia selama proses sembuh dari trauma kejadian di masa lalu, menjadi tempat cerita dan berkeluh kesah,‘’ ujar Yani.

Motivasi

“Apa pun yang terjadi, sesulit apa pun beban atau masalah dalam hidupmu, jangan pernah menyerah. Rasa trauma dan malu tidak harus selalu diratapi, namun kita bisa jadikan hal itu sebagai kekuatan dalam berkarya,‘’ ujar Yani.

“Terkadang musibah yang menimpa diri kita tidak selamanya mendatangkan kesialan. Bisa saja menjadi berkah, tergantung bagaimana cara kita menyingkapi sesuatu tersebut,” pungkas Yani. (*)

Kontributor: Diah Sintia Girsang, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.