UNRWA Serukan Gencatan Senjata dan Akses Bantuan Kemanusiaan di Gaza

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyerukan mendesaknya pengiriman bantuan yang aman ke Gaza yang kini terkepung dari segala penjuru. Mereka juga memperingatkan serangan yang terus berlanjut akan memperdalam perpecahan dan memperburuk polarisasi.

0 69

Katolikana.com—Aksi Israel yang terus memperluas serangan militernya lebih jauh ke Gaza Utara membuat PBB dan staf medis mengungkapkan ketakutannya. Mereka cemas dengan ancaman serangan udara yang terjadi di dekat rumah sakit, tempat puluhan ribu warga Palestina mencari perlindungan bersama ribuan orang yang terluka.

Korban tewas warga Palestina sudah lebih dari 8.000 orang sejak Israel melancarkan serangan balasan terhadap Hamas di Gaza pada 7 Oktober. Mayoritas korban tewas adalah warga sipil dan setidaknya 3.000 kematian dari angka tersebut melibatkan lansia, disabilitas, perempuan, dan anak-anak.

Sementara itu, para pekerja bantuan mengatakan konvoi bantuan kemanusiaan terbesar yang tiba di Gaza masih jauh dari kebutuhan. Sehingga mereka menyerukan adanya aksi gencatan senjata segera.

 

Pekerja Kemanusiaan Terbunuh

Sejak Sabtu, 28 Oktober, sebagian besar kontak dengan tim Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jalur Gaza menghilang. Menghadapi kenyataan tersebut, UNRWA telah membenarkan bahwa setidaknya 53 anggotanya menjadi korban.

“53 anggota UNRWA dipastikan menjadi korban,” sebut Direktur SDM UNRWA di Yordania, Antonino Brusa. “Jumlah ini lebih banyak dari jumlah seluruh anggota UNRWA yang menjadi korban selama sepuluh tahun perang Suriah,” tuturnya.

“Mereka adalah ibu dan ayah, guru, ginekolog, dokter,” kata Brusa mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jumlah tersebut mungkin meningkat mengingat berlanjutnya pemboman besar-besaran.

Terlebih lagi, terputusnya komunikasi membuat pekerjaan para pekerja kemanusiaan yang mencoba merespon kebutuhan lebih dari 600.000 pengungsi menjadi sangat menantang.

“PBB terus terlibat dalam dialog dengan pemerintah Israel melalui jalur reguler, dan terus berusaha meminta izin untuk dapat mengirimkan komoditas yang sangat dibutuhkan,” kata Brusa.

 

Deretan kereta keledai membawa jerigen-jerigen air bersih untuk dijual. Blokade Israel menyebabkan kelangkaan air bersih dan bahan bakar di Gaza. (Foto: Vatican News)

 

Kebutuhan Bahan Bakar Mendesak

Brusa menyebutkan bahan bakar tetap menjadi pasokan yang paling dibutuhkan “bagi truk untuk menerima dan mendistribusikan bantuan, untuk toko roti, rumah sakit, dan desalinasi air.”

Dia menjelaskan bahwa UNRWA telah menjatah penggunaan bahan bakar secara maksimal agar mereka dapat menggunakan sisa pasokan terakhirnya untuk satu atau dua hari ke depan. Namun, ia juga memperingatkan bahwa mereka akan terpaksa mengambil keputusan yang sangat sulit untuk mengurangi operasionalnya secara signifikan. Tidak menutup kemungkinan, UNRWA akan menghentikan operasional mereka sepenuhnya jika bahan bakar tidak tersedia.

Mengingat selama ini UNRWA menjalin kerja sama dengan 50 toko roti, dan banyak diantaranya telah dibom, maka UNRWA berupaya bekerja sama dengan Program Pangan Dunia (WFP) untuk menyediakan roti bagi lebih dari 600.000 pengungsi yang mencari perlindungan di 150 tempat penampungan UNRWA.

Ia menggarisbawahi, kurangnya bahan bakar sangat melemahkan kemungkinan memberikan semua dukungan kemanusiaan.

“Jika kami tidak memiliki bahan bakar di mobil untuk mengantarkan tepung ke toko roti, dan tidak bisa memberi mereka pasokan bahan bakar, distribusi roti juga kemungkinan besar akan terhenti,” jelas Brusa.

 

Menghimbau Akses Kemanusiaan yang Aman

Brusa menegaskan, “UNRWA juga terus menyerukan pencabutan penuh pengepungan dan agar akses kemanusiaan menjadi aman, tanpa hambatan, berkelanjutan, dan teratur.”

Mengingat bahwa kini jumlah pengungsi internal telah meningkat secara dramatis, ia mengatakan jumlah tersebut empat kali lebih tinggi dari apa yang direncanakan UNRWA sebagai bagian dari respons krisis sebelum perang dimulai.

“Tempat penampungan kami telah penuh sesak. Privasi dan sanitasinya kurang memadai,” lanjutnya. Ia kemudian memberi contoh konkret, “Misalnya saja di basis logistik Rafah, tempat lebih dari 8.000 orang mencari perlindungan, 400 orang harus berbagi satu toilet.”

“Para pengungsi hidup dalam kondisi yang tidak sehat karena kepadatan jumlah pengungsi di tempat penampungan dan kurangnya air bersih. Hal ini menimbulkan risiko serius terhadap kesehatan masyarakat dan penyebaran penyakit,” sebutnya lagi.

Mengingat bahwa rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, rumah penduduk, toko-toko, dan sumber-sumber mata pencaharian warga sipil telah diserang semua, Brusa menyimpulkan, “Tidak ada tempat yang aman di Gaza.”

Bangunan hancur di Kamp Pengungsian Nuseirat, Gaza Tengah. (Foto: Vatican News)

 

Tiga Prioritas

Untuk itu, Brusa menguraikan tiga prioritas mendesak yang harus dilakukan pemerintah Israel di Gaza:

  1. Cabut pengepungan di Gaza dan izinkan akses kemanusiaan yang aman, tanpa gangguan, dan teratur untuk memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, di mana pun mereka berada, di seluruh Jalur Gaza.
  2. Mengizinkan pengiriman bahan bakar mendesak ke Jalur Gaza. Hal ini krusial untuk menjamin keberlanjutan operasi UNRWA, toko roti, stasiun air, dan fasilitas medis.
  3. Mencapai gencatan senjata kemanusiaan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa, dan melindungi warga sipil di mana pun, infrastruktur sipil, dan fasilitas PBB.

Saat ini, ada sekitar setengah juta orang yang mengungsi di Gaza dan hampir 630.000 di antaranya berada di tempat penampungan UNRWA. Brusa menyoroti bagaimana sebagian besar tempat penampungan berusaha dengan susah payah untuk bisa berfungsi setidaknya 25 kali lipat dari kapasitas normalnya.

“Masih ada sekitar 300 hingga 400 ribu orang yang tersisa di wilayah utara dan kita harus mampu memberikan bantuan ke mana pun orang-orang yang membutuhkan tinggal,” katanya.

Ia menegaskan, “Warga sipil di Gaza telah membayar harga yang sangat mahal, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi, lingkungan hancur, dan ribuan korban jiwa.”

 

Konsekuensi Regional dan Global

Brusa menyimpulkan bahwa semakin lama perang ini berlangsung, semakin dalam perpecahan yang terjadi dan semakin besar polarisasi yang ada.

“Hal ini akan semakin menjauhkan terciptanya perdamaian dan stabilitas di kawasan, dengan konsekuensi regional dan global,” simpul Brusa.

 

Keterangan selengkapnya dari Direktur HAM UNRWA Antonino Brusa dapat didengarkan di sini:

 

Sumber: Vatican News

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.