Misa Arwah di TPU Kampung Kandang Jagakarsa Jakarta Selatan, Antusiasme Umat Tinggi

Kisah haru datang dari Mbah Werjo. Dia kini hidup sendiri karena ditinggalkan semua keluarga intinya.

0 173

Katolikana.com—Setiap 2 November, umat Katolik di seluruh dunia memperingati hari arwah sedunia. Pada hari ini, gereja Katolik mengajak umat untuk mendoakan jiwa-jiwa yang sudah pergi mendahului kita.

Gereja Katolik percaya bahwa doa-doa umat beriman yang masih hidup di dunia bisa membantu jiwa-jiwa yang sudah meninggal melewati api pencucian.

Mendoakan arwah tidak hanya mendoakan mereka yang kita kenal dan kasihi, tapi juga jiwa-jiwa lain yang tidak dikenal yang masih berada di api pencucian.

Jiwa-jiwa tidak dikenal ini adalah mereka yang meninggal dan namanya tidak dicatat, atau meninggal dalam keadaan mendadak atau tersesat.

Melalui doa-doa yang dipanjatkan kita bisa membantu mereka dalam proses pemurnian bersama-sama dengan jiwa-jiwa orang yang kita kasihi.

Gereja merayakan peringatan ini tepat sesudah Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November).

Dengan mempersembahkan Kurban Ekaristi pada Hari Arwah, imam bersama umat mengharapkan agar semua orang beriman yang telah wafat disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan.

Dasar teologis dari perayaan Hari Arwah tidak dapat dilepaskan dari ajaran Gereja bahwa arwah semua orang beriman belum disucikan sepenuhnya dan masih harus menjalankan penyucian agar dapat masuk ke dalam kegembiraan surga (KGK 1030).

Proses penyucian ini disebut Gereja sebagai purgatorium atau  api penyucian (KGK 1031). Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati (KGK 1032).

Mengapa Gereja merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus pada 1 November dan mendoakan semua arwah pada 2 November?

Kedua perayaan tersebut menunjukkan suatu refleksi iman bahwa selalu ada ikatan kasih yang kuat antara yang masih hidup, yang sudah meninggal, dan yang sudah bahagia di surga.

Misa Arwah di Paroki Jagakarsa

Gereja Paroki Jagakarsa ikut memperingati hari arwah dengan misa kudus di TPU Kampung Kandang Jagakarsa, Jakarta.

Misa dihadiri oleh warga paroki Jagakarsa dan paroki lain seperti Paroki Pasar Minggu dan Paroki Cilandak yang keluarganya meninggal dan dimakamkan di TPU Kampung Kandang.

TPU Kampung Kandang adalah TPU yang digunakan gereja-gereja Katolik/Kristen di Jakarta Selatan untuk memakamkan jemaat mereka.

Sebelum masuk ke tenda, panitia menyediakan form untuk menuliskan nama-nama orang terkasih yang akan disebutkan oleh romo di dalam misa.

Misa yang dipimpin oleh Romo Paulus Subani MSF ini dimulai pada pukul 09.00. Warna liturgi yang digunakan adalah ungu.

Ungu adalah warna liturgi yang digunakan dalam perayaan misa pada masa-masa penyesalan, persiapan, atau pengharapan, seperti Masa Prapaskah dan Masa Adven.

Ungu melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kesiapan untuk bertobat serta menghadapi kedatangan Kristus yang akan datang.

Antusiasme umat yang datang misa sangat tinggi karena ini adalah momen setahun sekali. Umat tidak ingin melewatkan waktu untuk mendoakan arwah orang-orang terkasihnya.

“Saya izin datang siang ke kantor karena ingin mendoakan istri yang meninggal enam bulan lalu karena melahirkan anak kedua saya,” cerita Dion, umat paroki Cilandak yang datang misa bersama ibu dan kedua anaknya.

“Saya masih sangat sedih atas kepergian istri saya. Maka, saya secara khusus harus datang kesini, saya mau mendoakan langsung agar jiwanya tenang, bisa melewati api pencucian dan segera berkumpul bersama orang-orang kudus di surga,” tambahnya dengan wajah sedih.

Dia bercerita tentang ayahnya yang meninggal setahun lalu, lalu diikuti istrinya enam bulan lalu.

Kisah haru datang dari Mbah Werjo yang tinggal di daerah Poltangan Lenteng Agung, Paroki Pasar Minggu.

Dia hadir pada misa arwah, meski dia kini hidup sendirian karena ditinggalkan semua keluarga intinya.

Sejak 10 tahun terakhir, satu persatu keluarganya meninggal dunia. Diawali dari anak perempuan kedua, lalu anak laki-laki pertama, menantu, dan terakhir suami.

Mbah Werjo kini tinggal di rumah mendiang suaminya bersama dua cucunya yang masih sekolah.

Sehari-hari Mbah Werjo berjualan nasi uduk dan gorengan, tapi keluarga lain juga ada yang masih membantunya secara finansial.

“Saya juga tinggal tunggu dipanggil Tuhan aja, nduk. Tapi ini cucu saya masih pada sekolah. Mungkin itu alas an Tuhan belum panggil saya karena saya masih harus urus mereka, titipan anak-anak saya,” ujar Mbah Werjo.

“Pedih rasanya nduk, melihat anak-anak yang kita lahirkan malah pergi duluan meninggalkan ibunya. Saya yang melahirkan susah payah dulu, eh Tuhan ambil duluan lagi. Saya ke sini tadi sendiri naik angkot karena saya tidak bisa pesan ojol. Tapi nanti pulangnya dijemput tetangga,” cerita mbah Werjo.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Katolikanatv (@katolikana)


Umat yang cukup banyak hadir membuat tenda yang disediakan panitia pun tidak cukup menampung semua umat yang ingin merayakan misa. Alhasil, banyak umat yang duduk di pinggiran batu dekat tenda.

Ada juga umat yang berdiri di samping pemakaman sambil membawa karangan bunga yang secara khusus akan diletakkan di atas makam orang terkasih.

Cuaca di Jakarta pagi ini cerah, bahkan sejak pukul 09.00 sudah terasa panas, apalagi di Jakarta Selatan belum turun hujan. Namun, cuaca panas tidak mematahkan semangat umat beriman yang ingin mendoakan arwah orang-orang terkasih.

Misa arwah pagi ini berdurasi panjang. Normalnya misa Ekaristi biasa berjalan selama satu jam, tapi misa arwah ini berjalan dua jam karena romo Bani secara khusus menyebutkan daftar nama-nama umat yang sudah meninggal dunia yang sudah dititipkan sebelumnya lewat form.

Selesai misa, semua umat berhamburan menuju makam orang-orang terkasih. Mereka meletakkan karangan bunga lalu berdoa kembali.

Doa Indulgensi

Saya melihat ada beberapa orang datang sendirian ke makam dan menangis sambil bermonolog sendirian. Mungkin, dia sedang curhat atau menyampaikan rasa kangen.

Meski cuaca panas, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat umat bertahan di sekitar makam untuk mengirimkan doa.

Jika Anda belum sempat datang misa arwah di gereja, Anda bisa tetap mendoakan arwah orang terkasih. Anda bisa mendoakan mereka melalui doa indulgensi secara berturut-turut pada 1-8 November 2023.

Jika terlewat, Anda tetap bisa mendoakan mereka karena prinsipnya lebih baik terlambat daripada tidak dilakukan sama sekali.

Mendoakan orang yang sudah meninggal tidak hanya pada 2 November saja, tapi setiap saat kita mengingat mereka kita bisa langsung mendoakan agar Tuhan segera menghantarkan jiwa-jiwa mereka ke surga.

Kontributor: Anastasia Eka Pratiwi, warga Paroki Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.