Seratusan Pengungsi Distrik Bibida Berdatangan di Paroki Salib Suci Madi

Jajaran Pemerintah Kabupaten Paniai dan PJ Bupati Paniai Dr. Martha Pigome telah datang mengunjungi pengungsi dan memberikan bantuan berupa terpal, selimut, kasur, dan bahan makanan, serta memberikan dana 100 juta rupiah.

1 237

Katolikana.com, Paniai — Pada hari kedua pengungsian warga masyarakat yang berasal dari Distrik Bibida, Kabupaten Paniai terus datang. Hari Sabtu (15/6/2024), pukul 09.00 waktu Papua masyarakat dari Distrik Bibida Kabupaten Paniai datang ke pengungsian dengan pengawalan berbagai tokoh masyarakat. Seluruhnya ditampung di Paroki Salib Suci Madi.

Masyarakat yang mengungsi terus bertambah sejak peristiwa kontak senjata antara TNI-Polri dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) di Distrik Bibida, Paniai, pada Jumat (14/6/2024) hingga Sabtu (16/6/2024).

Para pengungsi menolak kembali di kampung halaman dan di rumah mereka sebelum keadaan aman kembali. Hal ini disampaikan para pengungsi saat tiba di halaman Gereja Paroki Salib Suci Madi. Warga menuturkan untuk saat ini tidak akan kembali ke kampung halaman, meskipun ada pihak aparat keamanan yang meminta kembali ke kampung halaman.

“Kami masyarakat akan terjebak jika kami kembali ke rumah kami di Distrik Bibida,” kata seorang warga.

Pengakuan masyarakat kepada Katolikana.com, “Kami lebih nyaman tinggal disini di lokasi Gereja Katolik Salib Suci Madi sambil memantau situasi dan perkembangan keadaan keamanannya untuk kami masyarakat asal Distrik Bibida.”

Seorang tokoh pemuda warga pengungsi, yang namanya tak mau disebutkan, mengatakan bahwa kehidupan masyarakat dalam situasi sulit. “Kehidupan kami terhimpit oleh kedua kubu. Jika kami mengiyakan pemintaan pihak aparat keamanan Negara Indonesia untuk kembali hari ini, besok atau lusa maka pihak sebelah TPNPB mengatakan kami kerja sama dengan mereka.”

“Sebaliknya juga demikian kami tetap disana dianggap membantu memberikan makanan atau kerja sama dengan pihak yang berseberangan, sehingga kita memilih memutuskan bersama masyarakat di sini, di lokasi gereja,” katanya.

Baca juga: Konflik Bersenjata di Paniai: Gereja Salib Suci Paroki Madi Kedatangan Pengungsi dari Distrik Bibida

Jumlah Pengungsi Bertambah

Ketua Dewan Paroki Kristianus Agapa, saat ditemui di lokasi pengungsian, mengatakan hari pertama hampir 23 orang yang datang dari Stasi Kugapa Bibida. Hari kedua, lebih dari 100 orang berkumpul. Sementara ini belum terdata dengan baik karena saat ini lebih banyak orang sedang keluar masuk.

Kata dia, bagi masyarakat pengungsian yang memilih tinggal di Paniai, mereka sedang memobilisasi ke gereja kami di sini. Sebagian masyarakat juga memilih ke Kabupaten Nabire, Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Dogiyai.

Seorang Kepala Desa asal Distrik Bibida yang sedang bersama para pengungsi menyampaikan sebanyak enam Desa, sebagian masyarakat masih memilih di sana. Ia mengharpakan kepada Pemerintah Kabupaten Paniai segera memfasilitasi warganya yang masih di sana untuk kembali bersama kami di tempat pengungsian di sini.

Apa yang Dialami Pengungsi

Para warga pengungsian mengalami tekanan traumatik karena dihimpit oleh kedua belah pihak baik TNI, POLRI dan TPNPB yang sedang melakukan kontak senjata sejak Jumat (14/6/2024). Oleh sebab itu warga menolak kembali ke kampung halaman sebelum daerahnya aman.

Sejumlah pengakuan warga pengungsi, mengungkapkan bahwa “jangan sampai peluru menyasar kepada kami masyarakat. Jangan-jangan kami masyarakat bisa dianggap sedang kerja sama dalam situasi ini. Oleh sebab itu kami memilih pengungsian daripada tinggal di rumah kami.”

Saat kontributor Katolikana.com menemui masyarakat pengungsi, mereka menuturkan hingga saat ini belum ada korban yang diketahui dari masyarakat sipil. Namun, situasi masih mencekam karena mobil-mobil aparat keamanan terus keluar dan masuk dari hari pertama hingga hari kedua ini.

Penyerahan Bantuan simbolis dari PJ Bupati Ibu DR Marta Pigome, SH.M.HUM kepada pengungsi di Paroki Salib Suci Madi pada Sabtu, 15 Juni 2024. (Foto: Katolikana.com/Marinus Gobai)

Tempat Pengungsian di Gedung Gereja

Gereja Katolik Paroki Salib Suci Madi, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika telah mempersiapkan beberapa tempat bagi masyarakat yang sedang mengungsi dari Distrik Bibida.

Beberapa fasilitas gereja yang jadi tempat penampungan bagi pengungsian yaitu Emawa (Aula) mini paroki,  satu rumah tournei Pastoral dan Gedung Gereja Salib Suci Madi yang masih dalam proses pembangunan oleh umat.

Bangunan gedung Gereja Paroki Salib Suci ini dibangun dengan swadaya umat. Dalam tahapan pembangunan sudah mencapai hampir 50 persen, yang sisanya dalam proses tahapan penyelesaian.

Di tempat pengungsian Gereja Salib Suci Madi, pemerintah Kabupaten Paniai, telah datang mengunjungi pengungsi dan memberikan bantuan berupa terpal, selimut dan kasur. Bantuan lain yaitu makanan dan minuman serta uang tunai sebesar 100 juta rupiah, yang diberikan langsung oleh PJ Bupati Paniai Dr. Martha Pigome pada Sabtu (15/6/2024).

Baca Juga: Umat Terdampak Konflik Mengungsi di Gereja Salib Suci Madi Butuh Bantuan

Tentang Gereja Katolik Salib Suci Madi

Gereja Katolik Pengikut Katolik Roma ini berdiri sejak lama. Kisah perjalanan Paroki Salib Suci ini panjang awalnya tidak terpikirkan dari sebuah Stasi menjadi sebuah paroki yang terletak di Ibukota Kabupaten Paniai.

Paroki Salib Suci ini berdiri setelah pemindahan Ibu Kota Kabupaten Paniai di Madi yang sebelumnya berada di Kota Enarotali Paniai.

Paroki Salib Suci Madi dimekarkan dari Paroki St.Yusuf Enarotali, Dekenat Paniai Keuskupan Timika. Paroki ini ditetapkan tanggal 29 Juli 2011 oleh Almarhum Mgr. Jhon Philip Saklil, Pr, Uskup pertama Keuskupan Timika.

Umur paroki yang berjalan 13 tahun ini, dipimpin oleh Pater Harman Yosef Betu, Pr. Beberapa kategorial yang ada di Paroki Salib Suci Madi yaitu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Muda-Mudi Katolik (MUDIKA) dan Orang Muda Katolik (OMK).

Editor: Basilius Triharyanto

Kontributor Katolikana.com di Paniai, Papua. Lahir di Ibumaida, Paniai, tahun 1989. Penulis bekerja di Komisi Keadilan dan Perdamaian Keutuhan Ciptaan Paroki Kristus Sang Gembala (KSG) Wedaumamo, Keuskupan Timika. Ia juga aktif di organisasi Pemuda Katolik Komisariat Cabang di Kabupaten Paniai.

1 Comment
  1. Emanuel Tagi says

    Gereja menjadi tempat ternyaman untuk berlindung dari segala macam kejahatan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.