Umat Lintas Agama Rayakan 8 Tahun Pelita di Katedral Semarang

Pelita berperan penting membangun kebersamaan lintas iman.

1 57

 

Katolikana.com, Semarang — Kamis (20/6), Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang merayakan ulang tahun mereka yang ke-8. Acara ulang tahun Pelita digelar secara sederhana di Gedung Sukasari, Gereja Katedral Semarang, dengan mengundang segenap masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kepercayaan.

Pelita selama ini dikenal karena kiprahnya dalam menjalin jejaring untuk merawat keberagaman di Semarang. Khususnya, untuk mendampingi umat beragama yang mendapatkan ganjalan dalam membangun rumah ibadah mereka.

Terbaru, Pelita berhasil mengadvokasi selesainya pembangunan GBI Tlogosari yang sempat mendapatkan penolakan selama proses pembangunannya. Padahal, GBI Tlogosari sudah mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dari Pemkot Semarang.

Hal ini ditekankan kembali oleh Koordinator Pelita, Setyawan Budi, dalam acara tersebut. Budi mengatakan semua elemen yang ada di Pelita terhubung dan melakukan kegiatan bersama dalam bentuk penampilan seni budaya, seminar, hingga diskusi. Namun selain itu, ia juga menyebut Pelita memiliki fokus pada kegiatan pendampingan atau advokasi.

“(Advokasi) Terhadap rumah-rumah ibadah yang masih mengalami hambatan dalam pendiriannya,” ujar Budi.

 

Kebersamaan yang Hidup

Vikaris Episkopal (Vikep) Keuskupan Agung Semarang, Rm. F.X. Sugiyono, Pr, yang bertindak selalu tuan rumah mengapresiasi kiprah penting Pelita selama delapan tahun terakhir untuk membangun kebersamaan lintas iman.

Sembari mengucapkan selamat ulang tahun kepada Pelita, Romo Sugi berkata, “Pelita saat ini menjadi tempat bagi rekan-rekan, sekalipun berbeda kepercayaan, tetapi di Pelita ini bisa membangun satu kebersamaan yang hidup.”

“Komunikasi perjumpaan, dialog,  berbagi rasa, berbagi pengalaman, tercipta di Pelita ini,” puji Romo Sugi lagi. 

Bagi salah seorang penghayat kepercayaan, Nata Hening Graita Prameswari, ia merasa sangat berterima kasih dengan adanya Pelita. Sebab keberadaan Pelita tidak hanya untuk menggandeng para pemeluk “agama” saja, tapi Pelita juga peduli kepada para penghayat kepercayaan. Ia mengatakan Pelita ketap melibatkan penghayat kepercayaan mengikuti berbagai kegiatan yang ada.

“Selama saya di Semarang, kurang lebih tiga tahun ini, penghayat kepercayaan ikut digandeng dalam sebuah kegiatan (Pelita, red.), yang mana diketahui terkadang penghayat kepercayaan itu didiskriminasi,” tutur Nata.

“Semoga ke depan semakin bisa menggandeng penghayat-penghayat dan agama-agama yang lain,” tambahnya lagi.

Sementara Koordinator GUSDURian UIN Walisongo Semarang, Muhamad Syafiq Yunensa, menganggap arti penting Pelita adalah menyadarkan masyarakat bahwa perbedaan akan selalu ada dan tidak pernah bisa dinihilkan. Itulah mengapa perlu adanya ruang bagi masyarakat untuk saling berdua, menyapa, dan berdialog dalam perbedaan.

“Perbedaan akan selalu ada, mulai dari kita belum ada sampai kita nanti tiada. Maka kita ciptakan norma-norma kehidupan, kita ciptakan ruang di mana agama bisa saling bertegur sapa. Dan Pelita adalah ruang itu,” tutup Syafiq.

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.