Bangun Jembatan, Bukan Tembok: Gambar Peta Harapan Baru Pendidikan Katolik

0 62
Peserta seminar “Menggambar Peta Harapan Baru” LEKAS: komitmen perubahan peristiwa pembelajaran. (foto: Andreas Satriawan)

Katolikana.com–Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang (LEKAS) menyelenggarakan seminar bertajuk “Menggambar Peta Harapan Baru” yang menghadirkan Direktur Direktorat Sekolah Sekolah Theresiana Yayasan Bernardus Romo Bernadus Singgih Guritno Pr sebagai narasumber utama. Bertempat di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, seminar ini mengupas Surat Apostolik Paus Leo XIV dalam rangka peringatan 60 tahun dokumen Gravissimum Educationis.

Seminar yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival LEKAS 2026 ini dihadiri Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang Romo FX Sugiyana, Kepala Unit Pengembangan Pastoral Pendidikan KAS Romo Deny Sulistiawan, Ketua LEKAS Ferdinand Hindiarto, dan tim fasilitator LEKAS: Romo CB Mulyatno, T Sarkim, R Rohandi, Titus Odong Kusumadjati, HJ Sriyanto, Risang Baskara, Albert Harimurti, AA Kunto A, JH Kurniawan, Andreas Satriawan, dan Esa Marhendra. Hadir pula pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru sekolah Katolik di KAS peserta pendidikan dan pelatihan LEKAS batch 1-3 yang mengikuti Festival LEKAS 2026.

Romo Singgih Guritno: bangun jembatan, bukan tembok. (foto: AA Kunto A)

Fragmentasi Zaman Modern: Mandat Transformasi

Dalam paparannya, Romo Singgih menyoroti lanskap dunia modern yang penuh dengan kompleksitas tantangan berlapis, fragmentasi antarindividu, serta ancaman hiper-digitalisasi yang dapat mengikis relasi autentik. Ia menegaskan bahwa pendidikan Katolik memiliki mandat khusus untuk tidak membangun tembok pemisah, melainkan menjadi “jembatan” yang menghubungkan berbagai aspek kehidupan.

Konsep “jembatan” ini mencakup beberapa transformasi krusial. Secara sosial, ini tentang mengubah hidup individu menjadi hidup komunitas atau bermasyarakat. Secara kapabilitas, ini tentang mengembangkan potensi menjadi kompetensi yang berdaya di tengah masyarakat. Secara spiritual, ini tentang ajakan bagaimana pendidikan Katolik beranjak dari sekadar informasi menuju formasi yang menghasilkan transformasi hidup melalui kesatuan akal budi, hati, dan kehendak. Sedangkan temporal, konsep jembatan berarti menghubungkan warisan masa lalu dengan realitas masa kini demi menjemput masa depan.

Pendidikan sebagai peristiwa etis: tolak reduksionisme pendidikan! (foto: AA Kunto A)

Menolak Reduksionisme, Mengedepankan Visi Holistik

Romo Singgih secara tegas mengajak para pendidik untuk menolak reduksionisme pendidikan. Apa yang ditolaknya? Yakni pandangan pendidikan hanya fokus pada pelatihan fungsional dan melihat manusia sebagai algoritma yang dapat diprediksi. Sebaliknya, visi pendidikan Katolik harus berfokus pada pembentukan manusia utuh yang memiliki martabat tak terasingkan dan panggilan hidup (vocazione).

“Pendidikan adalah peristiwa etis yang bersendikan tiga pilar eksistensial: kelahiran (natalidad) yang menginisiasi sesuatu yang baru, narasi & identitas (narración) dalam komunitas, serta hospitalitas (hospitalidad) sebagai ruang aman yang menyambut kerentanan,” jelas doktor pendidikan lulusan Università Pontificia Salesiana (UPS) Roma ini mengutip pemikiran Fernando Bárcena dalam buku La Educación como acontecimiento ético: Natalidad, narración y hospitalidad (2000).

Petrus Adi Atmoko tanggapi diskusi dengan berbagi pengalaman sebagai Kepala SMK Theresiana Bandungan (foto: AA Kunto A)

Nyantrik, Konsep Mengisi Kekosongan Algoritma

Ada satu topik yang menarik diskusi peserta, yakni tentang nyantrik. Romo Singgih memaparkan, nyantrik adalah sebuah seni mendampingi yang menempatkan hubungan manusiawi sebagai jantung dari seluruh proses pendidikan. Ini bukan sekadar metode instruksional di dalam kelas, melainkan sebuah peristiwa etis di mana seorang pendidik membuka diri untuk menjadi jembatan bagi pertumbuhan muridnya. Nyantrik adalah jawaban atas kekosongan jiwa di era digital. Nyantrik mengisi celah yang tidak bisa dijangkau oleh algoritma dengan kehangatan relasi dan kehadiran yang nyata.

Narasi besar nyantrik ini mengalir melalui dinamika yang saling mengunci. Awalnya adalah perjumpaan bermakna. Dalam pandangan ini, pendidikan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya pertemuan personal yang sungguh-sungguh antara subjek dengan subjek.

Dari perjumpaan ini, pendidik bertugas menciptakan ruang aman, yakni sebuah lingkungan hospitalitas yang menyambut setiap kerentanan, kegagalan, dan keunikan anak didik tanpa penghakiman. Di dalam ruang aman ini, ikatan relasional yang kuat mulai tumbuh dan mengakar. Ikatan ini melampaui batas profesionalisme administratif, berubah menjadi sebuah persahabatan intelektual dan spiritual yang melahirkan ingatan bersama. Ingatan bersama ini akan mengendap sebagai memori tentang nilai-nilai dan kebajikan yang akan terus hidup dalam diri murid bahkan setelah proses belajar secara formal usai.

Menurut Romo Singgih, nyantrik menjadi titik keseimbangan yang menyatukan tiga pilar penting, yakni inovasi digital sebagai alat bantu efisiensi, pembentukan holistik yang menyatukan akal budi, hati, dan kehendak, serta pemeliharaan dunia sebagai wujud tanggung jawab sosial dan ekologis.

Pada akhirnya, nyantrik adalah sebuah bentuk “magang kebajikan”. Melalui kedekatan hubungan ini, seorang pendidik tidak hanya mengajarkan teori, tetapi menunjukkan bagaimana cara hidup, cara mendengarkan dengan hati, dan cara melakukan diskresi di tengah kebisingan dunia. Dengan menjadikan nyantrik sebagai akar, pendidikan Katolik tidak lagi sekadar mencetak lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi melahirkan pribadi-pribadi yang utuh, yang mampu menjadi navigasi moral dan pembawa harapan baru bagi sesama.

Atas dasar itu, Romo Singgih bahkan berani menyodorkan konsep nyantrik sebagai “jangkar utama bagi inovasi pendidikan”. Ketika gempuran teknologi seringkali menyesatkan pengertian inovasi sesempit sebagai digitalisasi semata, Romo Singgih menegaskan bahwa inovasi sejati adalah inovasi yang membumi.

Hieronimus Rackhmad Kristianto Adi, peserta Festival LEKAS 2026 kelompok kepala sekolah, dari SMA Sedes Sapientiae Bedono (foto: A Kunto A)

Pendidik sebagai Kompas dan Navigasi Digital

Pendidik di masa depan ditantang untuk menjadi “kompas utama” yang memiliki tatapan mendorong, hati yang mendengarkan, serta kecerdasan diskresi untuk membaca tanda-tanda zaman. Terkait teknologi, ditekankan bahwa AI dan kekuatan komputasi hanyalah alat bantu efisiensi, namun tidak akan pernah bisa dan boleh menggantikan kekuatan manusiawi, seperti imajinasi, cinta, kehangatan relasi, dan pembelajaran dari kesalahan.

Untuk ini, Romo Singgih mengajukan peta bintang navigasi yang selaras dengan pakta pendidikan global. Ada tujuh jalur utama yang menempatkan persona di pusat dan bumi sebagai rumah bersama yang harus dijaga. Selain itu, ada tiga prioritas baru untuk diarusutamakan. Pertama, kehidupan batin. Ini ruang hening untuk diskresi di tengah kebisingan dunia. Kedua, digital yang manusiawi. Ini mengharmonikan kecerdasan teknis dengan nilai spiritual. Ketiga, perdamaian tanpa senjata, yakni menjadikan rekonsiliasi sebagai metode sekaligus konten pembelajaran.

“Peta harapan kita tidak digambar dengan tinta teknis atau algoritma digital, melainkan dengan konstelasi manusia, yakni perjumpaan etis, magang kebajikan, dan ikatan komunitas yang merawat,” pungkasnya di hadapan para peserta seminar.

Leave A Reply

Your email address will not be published.