Mengikuti Yesus dalam Kasih

0 9

Kisah Para Rasul 25:13-21; Yohanes 21:15-19

Katolikana.com – Usai membaca bacaan doa Yesus dalam Yohanes 17 hingga kemarin, bacaan hari ini melompat ke bab 21. Mengapa pasal 18–20 dilompati? Jawabannya tidak sepenting isi perikop hari ini. Injil hari ini mengajak merenungkan tiga hal mendasar tentang kasih yang dewasa yang diperlukan untuk mengikuti Yesus.

Kasih yang dewasa
Pertama, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali: “Apakah engkau mengasihi Aku?” (ay. 15-17). Tiga kali Petrus menjawab, “Ya Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”

Yesus tidak puas dengan kata-kata saja; Ia selalu menyambung dengan perintah: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kasih tanpa tindakan nyata belum sungguh dewasa.

Ada dua kata Yunani berbeda untuk “kasih”: agapao (kasih yang luhur, rela berkorban) dan phileo (kasih persahabatan).

Petrus menjawab dengan phileo, seolah mengakui kelemahannya karena tiga kali menyangkal Yesus. Namun Yesus tetap menerimanya dan mempercayakan domba-domba-Nya.

Ini menunjukkan bahwa kedewasaan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kejujuran mengakui keterbatasan dan sikap tetap setia dalam panggilan.

Kedua, Yesus berbicara tentang kedewasaan melalui gambaran masa muda dan tua (ay. 18). “Ketika engkau masih muda, engkau mengikat pinggangmu sendiri… tetapi ketika engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat pinggangmu.”

Orang dewasa dalam iman tidak lagi mengatur jalannya sendiri. Ia siap melepaskan kendali pribadi, bahkan siap diikat dan dibawa ke tempat yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Inilah ciri kasih yang matang: rela berkorban dan melepaskan kepentingan sendiri. Petrus yang dulu bersikap impulsif, kini diajak merelakan masa depannya. Kasih dewasa tidak lagi bertanya, “Apa yang saya inginkan?” melainkan, “Apa yang Engkau kehendaki, Tuhan?”

Itulah transisi dari anak-anak rohani menjadi dewasa rohani—sebuah proses yang sering menyakitkan tetapi membebaskan.

Ketiga, Yesus meminta Petrus mengikuti-Nya (ay. 19). Kata “mengikuti” di sini bukan sekadar berjalan bersama, melainkan ikut serta dalam jalan salib. Tradisi gereja mencatat bahwa Petrus akhirnya disalibkan terbalik karena merasa tidak layak mati seperti Gurunya.

Kasih yang dewasa selalu berujung pada kesediaan mengikuti ke mana pun Yesus pergi, entah itu ke pelayanan atau ke penderitaan.

Satu kesatuan kasih
Ketiga unsur ini— kasih, kedewasaan yang siap berkorban, dan mengikuti Yesus—merupakan satu kesatuan. Tanpa kasih, mengikuti Yesus hanya rutinitas. Tanpa kedewasaan, kasih mudah goyah. Tanpa kesediaan mengikuti, kasih dewasa hanya konsep kosong. Petrus belajar dari kegagalannya dan menjadi gembala yang sejati karena ia akhirnya mengasihi bukan dengan ambisi, tetapi dengan kerendahan hati yang matang.

Pertanyaannya, apakah kita sudah mengasihi Yesus secara dewasa? Apakah kita siap melepaskan kehendak sendiri dan mengikuti Dia ke mana pun Ia pimpin?

Mari jujur mengaku seperti Petrus: “Tuhan, Engkau tahu segalanya, Engkau tahu aku mengasihi-Mu.”

Di mana pun tingkat kasih kita, Yesus tetap mengasihi kita dan memanggil kita untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan-Nya serta mengikuti-Nya—seumur hidup, sampai akhir.

Jumat, 22 Mei 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.