Menepis Isolasi Pastoral, 23 Imam Muda KAPal Perbarui Komitmen Imamat di Wismalat Podomoro

0 21

BANYUASIN, KATOLIKANA     – Tantangan medan pastoral yang luas, jarak geografis yang ekstrem, hingga dinamika era digital kerap menjadi pemicu kejenuhan rohani (spiritual dryness) sekaligus isolasi pastoral bagi para imam muda. Menjawab realitas tersebut, sebanyak 23 Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal) yang berada dalam rentang usia tahbisan di bawah sepuluh tahun (Basepta) berkumpul untuk menyatukan hati dan memperbarui komitmen panggilan mereka.

Kegiatan bina lanjut bertajuk Ongoing Formation (OGF) ini berlangsung selama tiga hari di Wismalat Podomoro, Banyuasin, Sumatra Selatan, mulai Selasa (9/6/2026) hingga Kamis (11/6/2026). Mengusung tema “Memperbarui Hidup Imamat dalam Kesetiaan, Persaudaraan, dan Pelayanan”, OGF yang diselenggarakan secara mandiri oleh KAPal.

Dalam realese Komsos KAPal (komunio.id) yang diterima redaksi Katolikana dijelaskan bahwa Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Acara ini juga dihadiri oleh Vikaris Jenderal KAPal Romo Yohanes Kristianto, Ketua Unio KAPal Romo Dominggus Koro, serta Sekretaris Komisi Kerasulan Awam KWI Romo Hans Jeharut.

Mgr. Harun Yuwono: Tiga Nasihat Injili adalah Fondasi Kebahagiaan

Dalam sesi utama bertajuk “Menghayati Tiga Nasihat Injili”, Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, mengajak para gembala muda untuk menelisik kembali makna terdalam dari kaul Ketaatan, Kemiskinan, dan Selibat secara kontekstual di tengah pergeseran nilai modern. Menurut Mgr. Yuwono, ketiga nasihat ini sering kali disalahartikan oleh dunia sebagai pengekang kebebasan, padahal sejatinya merupakan fondasi utama kebahagiaan seorang imam.

Mengupas esensi ketaatan (obediencia), Mgr. Yuwono menjelaskan bahwa kata tersebut berakar dari ob-audire, yang berarti mendengarkan secara mendalam.

“Ketaatan seorang imam bukanlah kepatuhan buta yang kaku, melainkan sebuah sikap batin yang siap mendengarkan kehendak Allah melalui perutusan Gereja. Ketaatan adalah sebuah proses pencarian bersama akan kehendak Allah demi mewujudkan keselamatan umat,” tegas Uskup yang memiliki motto kegembalaan Deus Caritas Est ini.

Terkait kemiskinan, Mgr. Yuwono meluruskan miskonsepsi yang menyamakannya dengan kesengsaraan. Kemiskinan injili adalah sikap lepas bebas dari kelekatan materi agar imam memiliki “hati yang longgar” untuk berbagi dan sepenuhnya bersandar pada penyelenggaraan ilahi.

Sementara mengenai hidup selibat, di tengah budaya modern yang kerap memandang miring pilihan ini, Mgr. Yuwono mengingatkan bahwa selibat adalah anugerah kebebasan radikal untuk mencintai. Selibat bukan penolakan terhadap cinta, melainkan cara mencintai yang universal dan meluap, sehingga seluruh waktu dan energi imam dicurahkan sepenuhnya untuk menggembalakan umat Allah tanpa sekat-sekat keluarga inti.

Suasana peserta OFG Keuskupan Agung Palembang 9-11 Juni 2026 di Wismalat Podomoro Banyuasin Sumsel (Foto : Komsos KAPal)

Warning Era Digital: “Jangan Puas Hidup Seperti Mesin”

Sorotan tajam terhadap tantangan zaman digital disampaikan oleh Sekretaris Komisi Kerasulan Awam KWI, Romo Hans Jeharut. Ia mengingatkan para peserta akan bahaya spiritual terbesar saat ini, yaitu ketika pelayan Gereja terjebak dalam ritme yang mekanis.

“Risiko terbesar era sekarang bukanlah mesin yang berubah menjadi manusia, melainkan ketika manusia itu sendiri yang merasa puas hidup menjadi seperti mesin serba terprediksi, teroptimasi, namun kehilangan kemampuan untuk mengasihi,” ujar Romo Hans di hadapan peserta.

Ia menambahkan, secanggih apa pun kecerdasan buatan (AI), teknologi tersebut hanyalah tiruan akal budi tanpa kehangatan hati.

“AI mungkin bisa berkhotbah tentang kasih, tetapi ia tidak akan pernah bisa menangis di atas mimbar karena mencintai umatnya. AI boleh saja menyajikan seribu ayat penghiburan, namun hanya tangan manusialah yang mampu mengusap air mata sesama yang sedang berduka,” tambahnya hangat.

Romo Hans mengajak para imam muda untuk bertobat dari tiga “ilah palsu” era digital: efisiensi, popularitas, dan kendali. Ia menekankan bahwa pelayanan sacramental seperti Sakramen Rekonsiliasi mutlak membutuhkan kehadiran personal dan tatapan mata yang nyata, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh chatbot mana pun.

Menepis Sindrom Single Fighter Lewat Persaudaraan Sakramental

Kondisi geografis KAPal yang mencakup tiga provinsi (Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu) menuntut para imam siap diutus ke daerah terpencil. Romo Stepanus Supardi, yang membawakan materi “Menghidupi Spiritualitas Persaudaraan”, menggarisbawahi pentingnya mengubah paradigma relasi antar-imam. Mengutip dokumen Konsili Vatikan II (Presbyterorum Ordinis), ia menegaskan bahwa imam terikat oleh persaudaraan sakramental, bukan sekadar rekan kerja fungsional.

Romo Pardi mengingatkan bahaya psikologis seperti sindrom single fighter kecenderungan imam muda menyelesaikan masalah sendirian, menutup diri di kamar pastoran, hingga menganggap imam senior sebagai penghambat idealisme.

Untuk menjaga “tangki rohani” tetap penuh, Romo Pardi memaparkan tiga dimensi utama:

  1. Persekutuan Presbiteral: Menjadikan Ekaristi, wadah Unio, dan relasi dengan Uskup sebagai jangkar identitas.
  2. Praktik Fraternitas Sehari-hari: Membumikan persaudaraan lewat hal sederhana seperti berbagi cerita di meja makan, olahraga bersama, rekreasi spontan, dan kunjungan antarparoki.
  3. Mekanisme Penguatan Berkelanjutan: Memandang retret, pertemuan dekanat, dan studi lanjut sebagai sarana memulihkan daya juang dan mengolah trauma pastoral, bukan beban administratif.

Ia juga mengingatkan agar imam merangkul umat sebagai mitra pastoral (Communio Fidelium). “Izinkan umat mencintai dan mendoakan kelemahan manusiawi kita,” tuturnya.

Romo Dominngus Koro saat menguraikan empat pilar gerakan hidup imam projo KAPal ( Foto Komsos KAPal )

Pilar Imam Diosesan dan Kisah Pergulatan Batin yang Jujur

Ketua Unio KAPal, Romo Dominggus Koro, dalam sesinya mengenai “Menghayati Spiritualitas Imam Diosesan”, menguraikan empat pilar gerakan hidup imam projo, yakni menjalankan tugas harian sebagai Nabi (pelayan Sabda), Imam (pelayan Sakramen), dan Raja (pembimbing umat); membangun kesatuan erat dengan elemen Gereja; siap sedia menguduskan umat di tempat diutus bawah wewenang Uskup; serta meneladani hidup rasuli tanpa mencari imbalan pribadi. Ia menekankan pentingnya asupan rohani harian lewat Kitab Suci, Brevir, doa batin, dan devosi kepada Bunda Maria.

OGF ini juga menjadi ruang katarsis yang jujur. Romo Andreas Eko Wahyudianto (Romo Adam), yang telah menjalani enam tahun imamat dan kini berkarya di Kuasi Paroki St. Maria Bunda Gereja Tebo, membagikan pergulatan batinnya tentang rasa lelah dan kesepian di medan pastoral yang padat.

“Kadang-kadang saya merasa, ‘Apakah saya yang paling menderita?’ Ada perasaan seperti itu juga,” seloroh Romo Adam yang disambut tawa hangat para peserta. Ia mengakui bahwa ruang sharing sangat terbatas akibat jarak. Karena itu, kehadiran komunitas dan empati antar-imam sangat krusial.

Nada reflektif dan kritis juga disampaikan oleh Romo Paulus Miki Tobat Mursito dari Yayasan Musi Palembang. Ia mengakui bahwa materi OGF ini menjadi “tamparan” spiritual berharga. “Ini menjadi refleksi agar kita tidak hanya bergerak keluar untuk mewartakan, tetapi pertama-tama menghayati terlebih dahulu agar benar-benar tinggal di dalam Kristus,” akunya jujur.

Romo Yohanes Kristianto VIKJEN Keuskupan Agung Palembang saat menjelaskan format OFG KAPal ( Foto : Komsos Kapal )

Harapan Keuskupan Agung Palembang

Vikaris Jenderal KAPal, Romo Yohanes Kristianto, menjelaskan bahwa format OGF khusus kelompok usia tahbisan 1–10 tahun ini sengaja dibentuk agar para imam muda lebih leluasa berdiskusi secara mendalam sesuai dinamika reksa pastoral mereka. Ia berharap nilai-nilai dari OGF ini terus digaungkan dan dievaluasi demi kebaikan pelayanan keuskupan ke depan.

Menutup rangkaian kegiatan, Romo Dominggus Koro selaku Ketua Panitia menyampaikan apresiasi kepada tim pengarah, di antaranya Romo Agustinus Giman, Romo Laurentius Rakidi, dan Romo Anton Liberto. Melalui dinamika tiga hari ini, para gembala muda KAPal diharapkan dapat pulang ke tempat tugas masing-masing dengan sukacita, kesegaran rohani yang baru, serta siap mewujudkan Gereja Sinodal yang melayani sesuai semangat Fratelli Tutti.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.