Musik Liturgi Bukan Musik Pertunjukan

Catatan pelayanan Cantica Sacra Choir pada Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC 2026

0 141

Jakarta, Katolikana.com — Penugasan itu datang di luar dugaan. “Kita diminta tugas paduan suara pada Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC.” Begitu Jay Wijayanto, pelatih sekaligus konduktor, memberi tahu para anggota Cantica Sacra Choir (CSC) melalui grup perpesanan pada akhir April 2026.

Sidang Pleno Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) ke-12 berlangsung pada 20–26 Juli 2026 di Hotel Mulia, Jakarta. Misa pembukaannya diselenggarakan Selasa pagi, 21 Juli 2026. Penugasan paduan suara itu datang dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

“Ini kepercayaan besar untuk komunitas kita yang masih muda,” kata Johanis Wasisa, Ketua Cantica Sacra Indonesia (CSI). Berdiri pada 23 Juni 2025, CSI adalah komunitas awam Katolik di Jakarta yang mendedikasikan kegiatannya pada pelestarian dan pengembangan musik liturgi Gereja Katolik.

Menanggapi penugasan itu, CSC segera bergerak. Latihan lagu-lagu Liturgi Ekaristi sesuai permintaan KWI diintensifkan. Anggota baru direkrut dari berbagai paroki di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor untuk melengkapi keempat jenis suara: sopran, alto, tenor, dan bas.

“Kita akan menjadi bagian dari sebuah Perayaan Ekaristi besar, melibatkan para kardinal dan uskup se-Asia. Tugas berat, tetapi sangat mulia,” Jay menekankan.

Tiga Alasan Kerendahan Hati

Membawakan musik liturgi mengandaikan kerendahan hati. Tanpa itu, presentasi musik liturgi tidak akan mencapai empat nilai yang menjadi ukurannya: benar (verum), baik (bonum), indah (pulchrum), dan kudus (divinum).

“Musik liturgi bukan musik pertunjukan. Karena itu, jangan membawakan musik liturgi dengan semangat pamer,” kata Jay Wijayanto. “Pamer itu sombong.” Kesombongan, menurutnya, membatalkan keempat nilai tersebut sekaligus.

Sedikitnya ada tiga alasan mengapa kerendahan hati menjadi keniscayaan dalam musik liturgi.

Pertama, musik liturgi Katolik adalah doa yang dilagukan. Syarat doa yang berkenan kepada Tuhan adalah sikap rendah hati di hadapan Yang Mahatinggi. Doa orang sombong tidak dibenarkan — sebagaimana doa orang Farisi yang membanggakan diri di Bait Allah (Luk 18:9–14), atau doa yang sengaja dipertontonkan di tikungan jalan (Mat 6:5).

Kedua, membawakan musik liturgi berarti melebur ke dalam keseluruhan struktur Perayaan Ekaristi. Semua partisipan misa setara nilai perannya dalam membangun sakralitas, magnum mysterium, perayaan itu. Serupa para pekerja yang datang pagi, siang, dan sore ke kebun anggur dan menerima upah yang sama (Mat 20:1–16).

Ketiga, saat membawakan musik liturgi, penyanyi menyerahkan tubuhnya kepada Tuhan untuk dipakai sebagai instrumen yang memuliakan nama-Nya. “Ini aku, Tuhan, pakailah aku.” Penyerahan diri semacam itu hanya mungkin lahir dari kerendahan hati.

Sikap dasar itulah yang dibentuk dalam proses latihan CSC, dan sikap itu pula yang kemudian mendasari tindakan para anggotanya, baik dalam konser musik liturgi maupun dalam pelayanan Misa Kudus.

Sikap tersebut terbaca dalam penampilan CSC di Ballroom Hotel Mulia, 21 Juli 2026. Dari segi busana, misalnya, para anggota paduan suara tampil seperti umat lainnya: inklusif dalam balutan warna-warni pakaian tradisi beragam etnik Nusantara. Mereka, bersama para pemusik, duduk di bawah panggung altar, sejajar dengan umat.

Lebih dari itu, mereka hadir dengan kesadaran bahwa yang mereka lakukan bukan pertunjukan, melainkan doa kepada Tuhan bersama para kardinal, uskup, dan umat dalam Liturgi Ekaristi.

Suasana Misa Pembukaan FABC 2026

Susunan Musik Liturgi Misa

Musik liturgi untuk Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC 2026 memadukan karya dari era sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II (1962–1965) — persisnya dari era Romantik hingga Modern/Kontemporer. Seluruhnya polifonik, dengan lirik dalam tiga bahasa: Latin, Inggris, dan Indonesia.

Bagian Ordinarium, bagian tetap dalam misa, menggunakan komposisi J.A. Korman (1870–1946): Kyrie, Gloria, Sanctus (dilanjutkan Benedictus), dan Agnus Dei. Keempatnya diambil dari Missa in Honorem Sanctissimi Sacramenti (Op. 32), karya Romantik Akhir tahun 1915. Pengecualiannya adalah Pater Noster (Doa Bapa Kami) yang diambil dari khazanah Gregorian — monofonik — lalu menjadi polifonik modern berkat iringan organ.

Sumber bagian Proprium, bagian tidak tetap, jauh lebih beragam, juga membentang dari era Romantik hingga Modern/Kontemporer.

Istimewanya, pada bagian Proprium terdapat tiga lagu inkulturatif, buah Konsili Vatikan II. Lagu Pembukaan, Kita Menghadap Altar Tuhan (Hs. Loko, gaya Nias, dengan iringan gondang Batak dan tari tortor); Lagu Persembahan, Bawalah Persembahan (Paul Widyawan, gaya Jawa, dengan iringan keroncong); dan Lagu Penutup, Wartakanlah (P. Piet Wani SVD, gaya Nusa Tenggara Timur, dengan iringan musik Bajawa dan tari Ja’i).

Dua lagu komuni mengambil teks doa dan Gregorian Abad Pertengahan yang diaransemen dalam gaya Romantik: Anima Christi (Santo Ignatius Loyola), diaransemen Marco Frisina pada awal 2000-an dalam gaya Romantik Baru/Modern; dan Panis Angelicus (Santo Thomas Aquinas), diaransemen César Franck dalam gaya Romantik Awal.

Ada pula Litani Orang Kudus, yang telah menjadi tradisi Gereja sejak abad ke-4. Uniknya, litani pada misa ini menyebut nama-nama orang kudus dari negara-negara Asia.

Lagu-lagu itu sebenarnya sudah lazim dibawakan dalam Perayaan Ekaristi selama ini. Satu-satunya komposisi baru adalah mazmur The Lord is My Shepherd (Dave & Lauren Moore), yang pertama kali dinyanyikan pada Misa Kongres Ekaristi Nasional 2024 di Indianapolis, Amerika Serikat.

Namun, seperti kata Jay Wijayanto, yang membuat berbeda bukan lagunya, melainkan penyanyinya — atau, lebih tepat, paduan suaranya.

Sebagai pembeda, dalam setiap konser maupun pelayanan misa, CSC berpegang pada apa yang mereka sebut “paradigma katedral”. Dalam paradigma ini, paduan suara bertugas membangun katedral musik liturgi yang agung dan sakral. Setiap nomor yang dibawakan adalah unsur yang menyusun keseluruhan bangunan tersebut.

Membangun Katedral di Ruang Ballroom

Dalam koridor paradigma itu, CSC membawakan musik liturgi Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC 2026 sebagai doa melodius yang indah dan sakral bersama para kardinal, uskup, dan umat. Setiap lagu, karena itu, harus dinyanyikan secara benar, baik, indah, dan kudus. Syarat dasarnya adalah penguasaan teknik vokal bel canto — bernyanyi indah — mazhab vokal yang dianut CSC.

Tantangan terbesarnya adalah membangun atmosfer katedral di ruang ballroom hotel yang jauh dari citra gereja. Di sinilah paradigma katedral CSC benar-benar diuji.

Ujian pertama justru datang pada Lagu Pembukaan, Kita Menghadap Altar Tuhan. Lagu inkulturatif bergaya Nias dengan iringan gondang Batak Toba (taganing, ogung, sulim, hasapi) ini berisiko terpeleset menjadi gegap gempita — jauh dari indah, apalagi kudus — bila musik pengiring tampil mendominasi.

Untungnya, CSC dan para pemusik gondang sama-sama rendah hati, sadar dan tahu tempat masing-masing. Suara gondang tidak mendominasi, melainkan mengiringi vokal paduan suara secara harmonis dari posisi seolah musik latar. Hasilnya, Lagu Pembukaan melambung meriah sekaligus mistis, meletakkan dasar bangunan katedral musik liturgi di Ballroom Hotel Mulia.

Hal serupa tercapai pada dua lagu inkulturatif lainnya. Dengan iringan keroncong, Bawalah Persembahan berhasil membangun suasana khidmat, hormat, dan tenang dalam kerelaan berserah kepada Tuhan. Sementara Wartakanlah, dengan iringan musik tradisi Bajawa, menutup misa dengan atmosfer sukacita dan kegairahan mewartakan Kabar Gembira ke segala penjuru bumi.

Sebagaimana lazimnya bangunan katedral, “batu penjuru” struktur musik liturgi pagi itu adalah mazmur The Lord is My Shepherd (Mazmur 23). Bukan semata karena solis (mezzo-sopran liris) dan koor membawakannya nyaris sempurna, melainkan terutama karena lagu itu menjadi simpul komunikasi liturgis.

Seluruh lagu dalam misa tersebut bermuara pada satu pengakuan rendah hati: “Tuhan adalah gembalaku.” Dialah Gembala Yang Maha Pengasih (Kyrie), Mulia (Gloria), Kudus (Sanctus), Terberkati (Benedictus), Anak Domba Allah (Agnus Dei), dan Roti Malaikat (Panis Angelicus).

Dalam Perayaan Ekaristi itu, frasa “Tuhan adalah gembalaku” juga tepat disematkan pada para kardinal dan uskup se-Asia yang hadir. Karena imamatnya, mereka hadir in persona Christi sebagai Gembala yang Baik bagi umat Katolik Asia. Maka tepatlah kedudukan mazmur itu sebagai “batu penjuru”.

Demikianlah, melalui harmonisasi vokal CSC dan musik pengiring — baik musik tradisi (Batak, Jawa, Bajawa) maupun instrumen modern (organ, flute, cello) — musik liturgi berhasil membangun atmosfer sakral, magnum mysterium, pada Misa Pembukaan Sidang Pleno FABC 2026.

Dengan cara demikian, dari kerendahan hati para penyanyi dan pemusik, lagu-lagu liturgi ikut meninggikan Ekaristi Suci pagi itu. Para kardinal, uskup, dan umat mengakhiri misa dengan wajah penuh senyum dan tawa — bukan karena menikmati penampilan paduan suara yang indah, melainkan karena bersama CSC mereka sungguh telah melambungkan doa terindah kepada Tuhan. “Qui bene cantat, bis orat — siapa bernyanyi dengan baik, berdoa dua kali,” kata Santo Agustinus. (*)

Kontributor: MT Felix Sitorus

Leave A Reply

Your email address will not be published.