Katolikana.com – Bacaan hari ini perumpamaan tentang Kerajaan Surga. Yesus menggunakan biji sesawi dan ragi untuk menggambarkan Kerajaan Surga.
Dalam renungan ini, kita akan mendalami makna perumpamaan yang kedua.
Bekerja secara diam-diam
Injil Matius 13:33 berbunyi: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”
Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menggambarkan bagaimana Kerajaan Allah bekerja di dunia dan di dalam diri orang beriman.
Ragi dalam Alkitab sering melambangkan pengaruh jahat. Namun dalam perumpamaan ini, Yesus memakai ragi secara positif.
Ragi itu lambang dari kuasa Kerajaan Surga yang bekerja secara diam-diam, perlahan, tetapi pasti dan menyeluruh.
Seorang perempuan mengambil ragi dalam jumlah kecil dan mencampurkannya ke dalam tiga sukat tepung (jumlah yang sangat besar, cukup untuk memberi makan seratus orang). Ragi itu tidak terlihat, tetapi akhirnya meresapi seluruh adonan. Betapa besar daya kekuatan ragi itu.
Dimulai dari hal kecil
Apa pesan dari ayat ini? Kerajaan Surga dimulai dari hal yang kecil—seperti iman seorang murid, seperti firman yang ditaburkan, seperti tindakan kasih sederhana. Namun kuasanya luar biasa. Kasih mengubah seluruh kehidupan seseorang dari dalam. Kasih juga mengubah masyarakat dan budaya secara perlahan namun nyata.
Orang beriman Kristen dipanggil menjadi “ragi” di tengah dunia—hadir secara diam-diam, memberi pengaruh yang membawa kebaikan, keadilan, dan kasih Kristus.
Makna ini amat relevan untuk hidup Kristen saat ini; minimal dalam tiga hal berikut. Pertama, perumpamaan ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan hal-hal kecil. Di zaman yang serba cepat dan instan, kita ingin melihat hasil segera dalam pelayanan, doa, atau kesaksian. Namun Allah bekerja melalui proses. Kesetiaan dalam hal-hal kecil—doa pribadi, kebaikan kepada tetangga, kesaksian di tempat kerja—adalah “ragi” yang pada akhirnya berdampak besar.
Kedua, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang, tetapi juga ragi. Ragi tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri. Ragi tidak berteriak atau memaksa. Ragi meresap dengan lembut. Di tengah budaya yang keras dan terpolarisasi, orang Kristen dipanggil untuk mempengaruhi dunia bukan dengan kekerasan atau kebencian, tetapi dengan kehadiran yang rendah hati, penuh kasih, dan konsisten.
Ketiga, perumpamaan ini memberi pengharapan. Kadang kita merasa gereja lemah, iman kita kecil, diri kita tak berdaya atau pengaruh Kristen semakin pudar. Namun Yesus bersabda bahwa Kerajaan Surga tetap bekerja. Ragi tidak pernah gagal. Pada waktu-Nya, seluruh adonan akan mengembang.
Kita tidak perlu putus asa. Kita hanya perlu tetap setia menjadi ragi di tempat kita masing-masing, percaya bahwa Allah menyempurnakan pekerjaan-Nya secara diam-diam namun pasti.
Tiga hal itu tampak nyata dalam kehidupan dan kematian Santo Titus Brandsma, O.Carm yang hari dirayakan oleh Gereja, khususnya oleh Ordo Karmel. Dalam raganya yang lemah dan sakit-sakitan terdapat ragi iman dan kasih yang kuat serta mampu membentuk dunia di sekitarnya.
Ia berani melawan kejahatan yang melawan kebenaran iman dan martabat manusia. Kematiannya sebagai martir membuka mata banyak orang untuk melihat bahwa ragi itu pernah gagal.
Apakah dalam hidup ini kita siap menghayati ragi rohani?
Senin, 27 Juli 2026
Peringatan Santo Titus Brandsma, Martir
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.