Gerak Cepat Caritas Keuskupan Labuan Bajo Jangkau Korban Gempa Flores Hingga Pelosok

Gerakan solidaritas itu kini terus mengalir. Dana, sembako, dan berbagai bantuan telah terkumpul di Posko Caritas Keuskupan Labuan Bajo.

0 9

KATOLIKANA.COM, LABUAN BAJO – Di tengah duka dan ketidakpastian yang masih menyelimuti warga terdampak gempa bumi 7,7 magnitudo yang melanda hampir seluruh wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, belarasa Gereja terus bergerak.

Pada Senin(17/08/2026) Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richard Manggu Pr, secara resmi melepas rombongan relawan Caritas Keuskupan Labuan Bajo yang membawa bantuan sembako dan kebutuhan darurat lainnya untuk didistribusikan kepada umat dan masyarakat yang terdampak bencana.

Pelepasan tim ini menjadi bagian dari gerak tanggap darurat Keuskupan Labuan Bajo untuk menjangkau mereka yang saat ini berada dalam situasi paling sulit. Bantuan tidak hanya membawa kebutuhan material, tetapi juga pesan penting bahwa di tengah bencana, tidak seorang pun berjalan sendirian.

Mewakili Uskup Labuan Bajo, Romo Richard menegaskan bahwa kehadiran Caritas merupakan wujud nyata solidaritas Gereja terhadap mereka yang sedang mengalami penderitaan.

“Ini adalah tanggap darurat yang menjawabi kebutuhan yang paling mendesak bagi umat yang terdampak. Ini juga wujud nyata kehadiran Gereja bagi mereka yang mengalami bencana ini, sehingga mereka tidak sendirian. Seluruh keuskupan hadir dan berjalan bersama mereka dalam bentuk perhatian, dukungan dan kekuatan,” kata Romo Richard, kepada Katolikana.com pada Senin (17/8/2026).

Menjangkau Tempat Tersulit

Sebelumnya, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus dalam rapat koordinasi dengan Tim Caritas bersama Kuria Keuskupan untuk aksi tanggap darurat dampak bencana pada 16 Agustus 2026 menyampaikan pesan penting bahwa Caritas adalah tanda kehadiran Gereja yang merangkul para korban.

“Bantuan apa pun bentuknya harus segara disalurkan kepada mereka yang paling terdampak. Maka, identifikasi data umat yang terdampak dan kebutuhan mendesak mereka mesti segera dibuat. Kita tidak boleh menunggu lama untuk bergerak dan berbelarasa,” kata Mgr. Maksi, kepada Katolikana.com pada Minggu (16/8/2026).

Pada Senin, 17 Agustus, rombongan Caritas diarahkan menuju tiga titik utama di wilayah Kevikepan Pacar, yakni Paroki Wae Nakeng, Paroki Rangga, dan Paroki Datak.

Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Terpal untuk warga yang hingga kini belum dapat kembali menempati rumah mereka. Sembako dibagikan untuk menopang kebutuhan pangan keluarga terdampak. Obat nyamuk menjadi kebutuhan penting karena sebagian warga masih harus beristirahat di tenda-tenda darurat di luar rumah.

Sementara itu, air minum didistribusikan untuk membantu warga yang menghadapi persoalan air bersih setelah sejumlah sumber mata air menjadi keruh akibat gempa.

Bantuan yang disalurkan dari Posko Caritas bukan sekadar paket kebutuhan pokok. Di balik setiap terpal, sembako, obat nyamuk, dan air minum, ada pesan kemanusiaan: Gereja hadir, melihat penderitaan, mendengarkan kebutuhan, dan berjalan bersama mereka yang terdampak.

Gerakan kemanusiaan ini tidak berhenti pada satu hari. Pada Selasa, 18 Agustus, tim melanjutkan aksi ke sejumlah paroki di wilayah Kevikepan Pacar, yakni Paroki Bari, Paroki Pateng, Paroki Compang, Paroki Wajur, dan Paroki Golowelu.

Sementara itu, data dari paroki-paroki lain di wilayah Kevikepan Kuwus, Ndoso, dan Pacar masih terus dihimpun untuk menjadi dasar kunjungan dan respons pada tahap berikutnya.

Rapat koordinasi tanggap darurat gempa Flores dipimpin oleh Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus. Foto: Istimewa/Katolikana.com

 

Angka yang Menggambarkan Besarnya Luka

Di balik gerak cepat tersebut terdapat kenyataan tentang besarnya dampak bencana yang masih terus dipetakan. Berdasarkan data sementara yang dihimpun Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo hingga Minggu, 16 Agustus 2026, tercatat 1 orang meninggal dunia dan 4 orang mengalami luka berat. Sebanyak 864 rumah penduduk terdampak, terdiri atas 634 rumah rusak berat, 95 rumah rusak sedang, dan 135 rumah rusak ringan.

Gempa juga berdampak pada tempat-tempat ibadah. Sebanyak 14 gedung gereja mengalami kerusakan, dengan rincian 7 rusak berat, 1 rusak sedang, dan 6 rusak ringan. Lalu, sedikitnya 152 kepala keluarga tercatat telah mengungsi.

Angka-angka tersebut masih bersifat sementara. Proses pendataan terus berlangsung mengingat jaringan komunikasi di sejumlah lokasi terdampak belum sepenuhnya pulih. Karena itu, jumlah korban dan kerusakan masih sangat mungkin mengalami perubahan seiring dengan semakin lengkapnya asesmen di lapangan.

Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Yuvens Rugi, menjelaskan bahwa proses identifikasi, asesmen, dan tanggap darurat dilakukan melalui komunikasi intensif dengan para pastor paroki, kevikepan, dan tim Caritas di tingkat paroki.

Data tersebut dihimpun dari para pastor paroki bersama tim Caritas paroki, kemudian diolah dan didalami dengan mempertimbangkan tingkat keseriusan dampak, baik secara fisik-material maupun terhadap kehidupan personal dan keluarga.

“Respons cepat diberikan berdasarkan tingkat emergensi yang terjadi. Kita meminta para pastor paroki yang memastikan data-data dampak gempa hingga ke setiap KBG,” jelas Romo Yuvens, kepada Katolikana.com.

Pendekatan ini membuat respons kemanusiaan tidak berhenti pada data umum, tetapi berusaha menjangkau kebutuhan nyata keluarga-keluarga yang terdampak hingga ke komunitas basis.

Penyaluran bantuan korban gempa Flores di Kampung Wae Nakeng. Foto: Istimewa/Katolikana.com

 

Menjaga Harapan

Bagi Gereja, tanggap bencana tidak hanya berarti menghadirkan bantuan material. Di tengah kehilangan rumah, kerusakan tempat tinggal, rasa takut akibat gempa susulan, dan ketidakpastian tentang hari-hari ke depan, para korban juga membutuhkan kehadiran, pendampingan, dan kekuatan batin.

Karena itu, selain bantuan material, Keuskupan Labuan Bajo terus memberikan dukungan spiritual bagi umat dan masyarakat yang terdampak. Uskup Labuan Bajo, bersama seluruh Kuria Keuskupan dan umat, terus mendoakan agar situasi segera pulih dan para korban diberi kekuatan untuk menghadapi masa sulit ini.

Romo Richard Manggu, Pr mengajak seluruh umat untuk terus menghidupkan gerakan belarasa dan solidaritas. Bantuan, menurutnya, dapat disalurkan melalui Posko Tanggap Darurat Caritas Keuskupan Labuan Bajo maupun secara langsung kepada orang atau keluarga terdampak yang berada di lingkungan masing-masing.

“Semoga bantuan-bantuan yang diberikan ini, meskipun sedikit dan sangat sederhana, bisa sedikit mengobati luka dan derita yang sedang dialami oleh semua saudara kita yang paling terdampak,” ungkap Romo Richard Manggu.

Gerakan solidaritas itu kini terus mengalir. Dana, sembako, dan berbagai bantuan yang terkumpul di Posko Caritas Keuskupan Labuan Bajo berasal dari umat dan komunitas-komunitas biara yang berada di wilayah keuskupan.

Posko Tanggap Darurat yang berada di Pastoran St. Petrus Sernaru, Labuan Bajo, menjadi salah satu pusat pengumpulan dan pengelolaan bantuan sebelum disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Di tempat ini, iman tidak berhenti pada doa dan kata-kata. Iman bergerak menjadi tindakan kasih. Solidaritas menjelma menjadi paket sembako. Belarasa hadir dalam bentuk terpal, air minum, dan kebutuhan darurat lainnya. Dan kehadiran Gereja menjadi tanda bahwa mereka yang sedang mengalami penderitaan tetap memiliki saudara yang berjalan bersama mereka.

Lebih dari sekadar merespons bencana, gerakan ini menjadi kesaksian bahwa dalam situasi paling sulit sekalipun, harapan dapat tumbuh dari solidaritas. Tim Caritas juga melaksanakan pendampingan dan proses pemulihan bersamaan dengan kehadiran mereka di setiap paroki, pembagian bantuan, serta berbagai aksi kemanusiaan lainnya.

Bencana mungkin telah meninggalkan luka pada rumah-rumah, tempat ibadah, dan kehidupan banyak keluarga. Namun, di tengah reruntuhan itu, satu hal tetap berdiri: semangat untuk saling menopang.

Caritas Keuskupan Labuan Bajo hadir untuk membersamai para korban agar tidak berjalan sendirian. Seluruh keuskupan berjalan bersama dengan doa, perhatian, bantuan, dan solidaritas agar mereka yang terdampak perlahan dapat bangkit, memulihkan kehidupan, dan kembali melangkah menuju hari esok dengan harapan.

Editor: Basilius Triharyanto

Leave A Reply

Your email address will not be published.