Surakarta, Katolikana.com – Peringatan HUT RI bukan sekadar peristiwa sejarah, namun memiliki aspek edukatif, inspiratif, rekreatif, dan instruktif, serta membentuk identitas bangsa, memperkuat kesadaran sosial, dan menjadi pedoman bijak dalam menghadapi masa depan.
Historia domus
Bagi Gereja peringatan HUT RI menjadi historia domus “sejarah rumah” atau “buku harian”, untuk mencatat rekam jejak, peristiwa harian, serta perkembangan penting sebuah komunitas.
Gereja Santo Paulus Kleco Surakarta menjalani Misa Kebangsaan HUT RI Ke-81 sebagai peristiwa penting atau kronik kegiatan yang meneguhkan memori kolektif : mencintai nilai-nilai kebangsaan, mencintai Ekaristi dan menjalani perutusan di tengah hidup kebangsaan dalam nafas hidup sehari-hari.

Refleksi kebangsaan
Kutipan Romo Hibertus Hartono, MSF dalam Pengantar Misa, mengutip pernyataan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy yang mengungkapkan “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan kepada negaramu”. Ini menjadi pemacu refleksi sebagai spirit kebangsaan.
Selanjutnya Romo Hibertus Hartono, MSF mengungkapkan bahwa merdeka berarti bebas dari tekanan. Berbuat kebaikan, tidak hanya diam melihat ketidak beresan. Berani kreatif, agar kehidupan lebih baik. Pesan ini yang hendak disampaikan Yesus tentang bacaan hari ini: membayar pajak pada Kaisar atau tidak?
Yesus dicobai, ditekan orang Herodian tetap tenang. Jawaban Yesus mengingatkan akan tanggung jawab yang ada di sekitar kita. Tanggung jawab terhadap bangsa, iman dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Itulah kemerdekaan yang dimaknai sebagai tanggung jawab.
Langkah tegap
Perayaan Ekaristi Kebangsaan Senin (17/8/2026), pukul 17.00 diawali dengan langkah tegap pemuda taruna, pasukan pembawa bendera Sang Saka Merah Putih menuju altar gereja dengan iringan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.
Pasukan pembawa bendera yang diikuti di belakangnya oleh petugas liturgi dan Imam Pemimpin Misa Kebangsaan Romo Hibertus Hartono, MSF., Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF., dan Romo Bernardinus Haryasmara, MSF., selanjutnya membentuk formasi penghormatan bendera pada Sang Saka Merah Putih.

Penghormatan bendera dipimpin pemimpin upacara, diiringi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. (Link Video Penghormatan).
Penghormatan bendera dilakukan seluruh umat yang hadir, petugas liturgi, petugas penghormatan bendera dan para imam. Suasana khidmat tampak dalam momen penghormatan bendera ini.
Homili Misa kebangsaan
Romo Fransiscus Anggras Prijatno, MSF mengungkapkan kata “Merdeka” yang dipekikkan tiga kali menjadi bentuk “salam kebangsaan”. Presiden Soekarno, 13 hari setelah kemerdekaan, yakni 30 Agustus 1945 mengungkapkan salam kebangsaan itu.
Tanggal 1 September 1945 kata “Merdeka” ditetapkan sebagai salam nasional.
Setiap kali pidato kebangsaan diawali salam :”Merdeka”.
Salam ini bisa mengatasi suku, agama, ras atau antar golongan. Salam ini juga menunjukkan bahwa bangsa ini, merdeka, karena semua terlibat di dalamnya.
Ada ungkapan :”Kelebihanmu itu juga kelemahanmu”. Atau “Dimana titik kelebihanmu, disitu juga titik kelemahanmu”.
Apabila direfleksikan, kelebihan Bangsa Indonesia terangkum dalam Lagu Indonesia Raya.
Indonesia itu raya. Indonesia itu besar, menjadi miniatur dunia. Ada negara yang hanya punya daratan saja. Ada pula negara yang hanya punya lautan saja.
Indonesia punya daratan, lautan dan pegunungan. Indonesia kaya. Itulah kelebihan Indonesia.
Titik ini menjadi titik krusial. Negara Indonesia rentan untuk dipecah-pecah dan diadu domba.
Perlu sikap kritis
Sebagai refleksi, dalam memperingati HUT Ke-81 RI, kita perlu menyadari bahwa Bangsa Indonesia itu raya, besar. Sikap kritis perlu dimiliki untuk menilai sesuatu. Bukan saja karena suka, punya kedekatan atau punya kepentingan namun perlu berpikir secara objektif. Perlu memilah.
Permenungan hari ini, kita melihat orang Farisi yang dekat dengan hidup keagamaan dan orang Herodian yang dekat dengan pemerintahan Romawi, meskipun tidak cocok memiliki kepentingan untuk menjatuhkan Yesus.
Mereka kompak mengajukan satu pertanyaan:”Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”.
Ini jebakan. Jika dijawab “tidak boleh”, orang Herodian akan mengatakan :”Yesus tidak tunduk, pada pemerintahan Romawi”. Jika dijawab “boleh” orang Farisi akan menang.
Yesus menyatakan dengan bijak bahwa kita harus memberikan kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib diberikan kepada Allah.
Maka sebagai bangsa dan paroki, kita perlu waswas jika menganggap sebagai bangsa yang hebat, paroki yang hebat karena hal itu akan membuat kehancuran.
Apakah Bangsa Indonesia sudah merdeka? Perlu refleksi dan pertanyaan yang lebih mendalam. Jangan sampai hanya seperti slogan “merdeka” di luar, tetapi di dalam masih terjajah.
Jangan sampai sebagai umat Kleco, merasa menjadi orang asing, merasa terjajah. Apakah ada hal-hal yang membuat kita merasa “terjajah”. Kita di satu sisi merefleksikan kenegaraan di sisi lain merefleksikan hidup paroki.
“Maka mari, kita tidak mengandalkan manusia yang lebih sering berubah. Mari mengandalkan Tuhan untuk kesatuan hidup kita, sebagai harapan. Mari memohon rahmat Tuhan untuk menjaga bangsa ini dari kepentingan-kepentingan yang tidak benar. Jangan sampai bangsa ini terpecah. (Link : Indonesia Raya, dimana titik kelebihanmu disitu titk kelemahanmu)
Ada sebuah lagu rohani yang bisa memberi simpul homili saya saat ini. Lagunya berjudul :Kaulah Harapan”, kata Romo Anggras sambil mengajak umat bernyanyi bersama.
Kaulah Harapan
Lagu Sari Simorangkir
Bukan dengan kekuatanku‘Ku dapat jalani hidupkuTanpa Tuhan yang di sampingku‘Ku tak mampu sendiriEngkaulah kuatkuYang menopangku
…..

Pewarisan tradisi
Misa kebangsaan HUT RI Ke-81 menjadi momentum pewarisan tradisi hidup berbangsa dan menggereja. Umat sebagai pelaku perjalanan hidup berbangsa menimba semangat syukur atas kemerdekaan dan mendalami makna Ekaristi sebagai sarana mengungkapkan puncak iman mensyukuri kemerdekaan dan memohon berkat untuk melanjutkan perjuangan dan peziarahan.
Sebelum Misa dimulai dilakukan pembacaan Puisi Kebangsaan oleh Perwakilan Putra Putri OMK Paroki Kleco yakni Benedikta Rosa Anggita dan Josua Parolia Siboya.
Dan Pahlawan
Karya Krismas Irmono
….
Bapakmu meraih cita untuk Indonesia….Akankah ayah anakku pulang?
Darah pejuang tumbal kemerdekaan.
*
Menjadi Terang di Bawah Sang Merah Putih
Karya Josua Siboya
…..
Jadikan tangan kami tangan yang melayani, hati kami rumah bagi sesama …
Usai Misa Kebangsaan di gelar “Doa untuk Indonesia” yang diungkapkan dalam tulisan ungkapan, harapan, keprihatinan, dan syukur bagi Bangsa Indonesia dengan ungkapan tulisan dan tanda tangan di media yang telah disediakan. (*)


Katekis di Paroki Kleco, Surakarta