Merdeka untuk Mengabdi: Panggilan Umat Katolik bagi Indonesia

0 46

Oleh Rm. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ

Katolikana.com — Setiap Agustus, halaman gereja, sekolah-sekolah Katolik, rumah komunitas, perumahan, dan jalan-jalan dihiasi bendera Merah Putih. Banyak umat mengikuti upacara kemerdekaan, perlombaan, atau pun doa bersama bagi bangsa. Semua itu baik. Namun, peringatan kemerdekaan seharusnya membawa umat Katolik melampaui perayaan menuju pertanyaan yang lebih mendasar: apakah iman kita sungguh telah menjadi berkat bagi Indonesia?

Kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah yang disyukuri, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan. Bagi umat Katolik, mencintai Indonesia bukan tambahan di luar kehidupan beriman. Cinta kepada bangsa merupakan salah satu bentuk nyata kasih kepada sesama.

Kita tidak dapat mengaku mengasihi Allah sambil bersikap acuh terhadap kemiskinan, korupsi, intoleransi, kerusakan lingkungan, atau ketidakadilan yang melukai bangsa. Iman yang dirayakan di altar harus berlanjut dalam pelayanan dalam kehidupan bersama.

Menjadi Katolik, Menjadi Indonesia

Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa kekatolikan dan keindonesiaan tidak perlu dipertentangkan. Semboyan Mgr. Albertus Soegijapranata, “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia”, tetap relevan hingga sekarang.

Ungkapan tersebut bukanlah rumus matematis tentang identitas. Pesannya lebih mendalam: semakin sungguh seseorang menghayati iman Katolik, semakin besar pula tanggung jawabnya terhadap bangsa.

Iman tidak membuat umat menarik diri ke dalam tembok gereja. Iman justru mengutus umat memasuki persoalan masyarakat. Konsili Vatikan II mengingatkan bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia—terutama mereka yang miskin dan menderita—juga merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para pengikut Kristus (Gaudium et Spes artikel 1).

Karena itu, umat Katolik tidak boleh hanya menjadi penonton ketika ruang publik dipenuhi kebencian, manipulasi agama, politik uang, dan penyalahgunaan kekuasaan. Diam di hadapan ketidakadilan bukanlah sikap netral. Diam dapat berubah menjadi persetujuan terhadap keadaan yang melukai martabat manusia.

Kemerdekaan dan Martabat Manusia

Iman Katolik menempatkan martabat manusia sebagai dasar kehidupan sosial. Setiap orang diciptakan menurut gambar Allah. Nilai seseorang tidak ditentukan oleh agama, suku, pilihan politik, pekerjaan, keadaan ekonomi, atau pun kedekatannya dengan kekuasaan.

Dari keyakinan ini, kemerdekaan harus dinilai berdasarkan pengalaman manusia konkret. Apakah petani memperoleh harga yang adil? Apakah buruh menerima upah yang layak? Apakah anak di daerah terpencil mendapatkan pendidikan bermutu? Apakah masyarakat adat didengarkan ketika tanahnya terancam? Apakah orang miskin memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dipersulit? Apakah kelompok minoritas dapat beribadah dengan aman?

Apabila sebagian warga masih diperlakukan sebagai manusia kelas dua, pekerjaan kemerdekaan belum selesai.

Gereja dipanggil untuk hadir di tempat-tempat yang masih dilanda kemiskinan. Paroki tidak cukup sibuk dengan pembangunan gedung dan kegiatan internal. Sekolah Katolik tidak cukup menghasilkan siswa berprestasi. Perguruan tinggi Katolik tidak cukup mengejar peringkat. Semua karya Katolik harus memperlihatkan keberpihakan kepada martabat manusia dan kepentingan umum.

Ukuran keberhasilan karya Gereja bukan hanya banyaknya kegiatan, melainkan kehidupan siapa yang menjadi lebih bermartabat karena kehadirannya.

Politik sebagai Pelayanan Kasih

Sebagian umat masih menganggap politik sebagai wilayah kotor yang sebaiknya dijauhi. Sikap ini dapat dimengerti ketika politik dipenuhi transaksi kepentingan dan perebutan kekuasaan. Namun, meninggalkan politik sepenuhnya berarti menyerahkan keputusan publik kepada mereka yang mungkin tidak memperjuangkan kebaikan bersama.

Politik dalam makna yang luhur adalah usaha mengatur kehidupan bersama secara adil. Paus Fransiskus bahkan menyebut politik yang diarahkan kepada kebaikan bersama sebagai salah satu bentuk kasih yang sangat berharga.

Umat Katolik tidak harus menjadi anggota partai untuk mengambil bagian dalam kehidupan politik. Keterlibatan itu dapat dimulai dengan memeriksa rekam jejak calon pemimpin, menolak politik uang, melawan disinformasi, mengawasi kebijakan publik, membela korban ketidakadilan, dan berani menyampaikan kebenaran.

Bagi umat Katolik yang menjadi pejabat, anggota legislatif, aparat, hakim, pendidik, pengusaha, atau pemimpin organisasi, iman harus tampak dalam integritas. Salib yang dipakai dan doa yang diucapkan kehilangan kesaksiannya apabila jabatan digunakan untuk memperkaya diri atau melayani kelompok sendiri.

Bangsa ini tidak kekurangan orang beragama. Yang masih dibutuhkan adalah orang-orang beriman yang dapat dipercaya.

Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Indonesia tidak dibangun oleh satu agama atau satu kelompok. Republik ini lahir dari kesediaan berbagai golongan untuk hidup dalam rumah bersama.

Karena itu, umat Katolik perlu menjaga Pancasila bukan sekadar sebagai slogan, melainkan sebagai etika hidup bersama. Ketuhanan harus melahirkan kemanusiaan. Persatuan tidak boleh menghapus perbedaan. Demokrasi harus dijalankan dengan kebijaksanaan. Keadilan sosial harus sungguh dirasakan oleh seluruh rakyat.

Persaudaraan kebangsaan diuji terutama ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda. Mudah mengasihi mereka yang satu gereja, satu suku, atau satu pilihan politik. Injil justru menuntut kita mengenali sesama pada diri orang yang berada di luar lingkaran kita.

Umat Katolik harus berani membela hak beragama kelompok lain sebagaimana mengharapkan haknya sendiri dihormati. Gereja juga perlu membangun kerja sama yang tulus dengan komunitas lintas iman, bukan hanya ketika terjadi konflik atau bencana. Persaudaraan harus dirawat dalam kehidupan sehari-hari: melalui perjumpaan, pendidikan, pelayanan sosial, dan perjuangan bersama bagi masyarakat kecil.

Merawat Tanah Air sebagai Rumah Bersama

Cinta tanah air juga berarti mencintai tanah, air, hutan, laut, dan seluruh ciptaan yang menopang kehidupan. Paus Fransiskus melalui Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama. Kerusakan lingkungan selalu mempunyai akibat sosial, dan masyarakat miskin biasanya menanggung dampak paling berat.

Karena itu, nasionalisme yang merusak alam demi keuntungan jangka pendek adalah nasionalisme yang kehilangan masa depan. Umat Katolik dipanggil membangun kebiasaan ekologis, mengurangi sampah, menjaga sumber air, mendukung petani, mengawasi proyek yang merusak lingkungan, dan mendesak kebijakan pembangunan yang adil bagi generasi mendatang.

Tanah air bukan hanya wilayah yang kita warisi dari para pendahulu. Tanah air adalah titipan yang harus kita serahkan kepada anak cucu dalam keadaan layak dihuni.

Dari Altar Menuju Indonesia

Pada peringatan kemerdekaan, doa bagi bangsa seharusnya tidak berakhir dengan kata “amin”. Doa itu harus diteruskan dalam keberanian melayani.

Ekaristi mengajarkan bahwa hidup dipecah dan dibagikan bagi sesama. Maka, setelah meninggalkan altar, umat diutus menjadi roti bagi mereka yang lapar akan keadilan, kebenaran, penerimaan, dan harapan.

Paroki dapat menguatkan pendidikan politik yang sehat. Sekolah Katolik dapat membentuk generasi yang mencintai perbedaan. Perguruan tinggi dapat menghasilkan pengetahuan yang membela masyarakat lemah. Kaum muda Katolik dapat mengisi ruang digital dengan kebenaran dan penghormatan. Keluarga-keluarga Katolik dapat mendidik anak untuk menolak kebencian dan korupsi sejak perkara-perkara kecil.

Merayakan kemerdekaan dalam terang iman berarti bertanya bukan hanya tentang apa yang telah diberikan Indonesia kepada kita, melainkan juga tentang apa yang telah kita berikan kepada Indonesia.

Menjadi Katolik yang baik tidak menjadikan seseorang kurang Indonesia. Sebaliknya, iman kepada Kristus seharusnya membuat kita semakin setia merawatRrepublik, membela martabat setiap manusia, menjaga persaudaraan, dan memperjuangkan keadilan.

Kemerdekaan adalah anugerah. Namun, anugerah selalu membawa perutusan. Bagi umat Katolik, perutusan itu jelas: menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan bangsa.

Dari altar kita diutus. Di tengah Indonesia, iman kita diuji. Merdeka!!!

Penulis: Rm. Bernardus Agus Rukiyanto, SJ, Dosen Universitas Sanata Dharma

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.