Kerja Keras Misionaris yang Dimentahkan
Saat Pendidikan dan Kesehatan Kita “Sakit”
Dulu, misionaris membangun harap. Kini, krisis nalar & kesehatan. Dari ‘masa lalu’ ke ‘kemunduran’

Sebuah unggahan di lini masa media sosial baru-baru ini menyentak kesadaran publik: seorang dokter dilaporkan meninggal dunia akibat terpapar campak. Peristiwa ini bukan sekadar berita duka biasa, melainkan sebuah ironi besar di tengah klaim kemajuan medis modern. Kejadian tersebut membawa memori kita kembali pada sejarah panjang perjuangan para misionaris di pelosok Nusantara. Dahulu, para misionaris datang dengan misi yang sangat konkret: mendirikan balai pengobatan dan sekolah. Kini, warisan intelektual dan kemanusiaan itu seolah sedang diruntuhkan oleh ketidakmampuan kita menjaga nalar sehat.
Jejak yang Terabaikan di Pucuk Gunung
Jejak para misionaris, terutama dari Gereja Katolik, masih sangat mudah kita temui. Sebagian masih berdiri kokoh sebagai sekolah-sekolah unggulan, sementara sebagian lagi mulai meredup, tinggal kenangan di tengah persaingan zaman. Namun, esensi perjuangan mereka adalah ketulusan dalam menjangkau wilayah yang tak tersentuh. Mereka membangun sekolah di pucuk-pucuk gunung dan di pedalaman yang akses jalannya pun belum ada kala itu.
Semua itu dilakukan demi satu tujuan: pendidikan yang lebih baik bagi rakyat yang belum mengenal abjad. Harus diakui secara jujur, pada masa itu negara memang belum mampu menyediakan akses pendidikan hingga ke pelosok. Namun, yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa hari ini pun—puluhan tahun setelah kemerdekaan—negara masih terlihat keteteran dan kepayahan untuk memberikan kualitas pendidikan yang setara di seluruh penjuru negeri.
Krisis Logika dan Tragedi Angka IQ

Salah satu pilar mendasar dari pendidikan sebenarnya bukan sekadar kemampuan menghafal, melainkan kemampuan berpikir logis dan kritis. Sayangnya, jika kita melihat fenomena di sekitar, kemampuan ini seolah menjadi barang mewah yang langka. Fenomena “nyolot duluan” atau merasa paling benar hanya karena didukung oleh massa yang banyak telah menjadi standar baru kebenaran. Logika dikalahkan oleh sentimen, dan data ditumbangkan oleh narasi kelompok.
Maka, jangan terkejut jika laporan penelitian menyebutkan rata-rata angka intelektual (IQ) masyarakat kita berada di kisaran bawah 80. Ini adalah angka yang memprihatinkan, namun alih-alih menjadikannya momentum untuk perbaikan besar-besaran, kita lebih sering terjebak dalam sikap defensif. Banyak pihak justru sibuk membela diri, mengatakan data tersebut tidak valid, atau mencari kambing hitam ketimbang melakukan refleksi diri.
Peringkat PISA (Programme for International Student Assessment) mempertegas luka ini. Indonesia secara konsisten menempati papan bawah dalam kemampuan literasi, numerasi, dan sains. Padahal, membaca dan berhitung adalah fondasi paling dasar dari ilmu pengetahuan. Tanpa penguasaan dasar ini, mustahil kita bisa melahirkan inovasi. Masalah ini semakin diperparah oleh efek samping pandemi yang memaksa pembelajaran daring tanpa persiapan matang, ditambah intervensi media digital yang masif. Anak-anak kita kini lebih akrab dengan layar gawai daripada buku pelajaran. Mereka terpapar arus informasi yang dangkal, yang semakin menjauhkan mereka dari kemampuan analisis yang mendalam.
Luka di Sektor Kesehatan: Dari Stres hingga Pseudo-Sains
Sektor kesehatan setali tiga uang dengan dunia pendidikan. Sangat menyedihkan mendengar kabar dokter-dokter muda mengalami stres berat hingga gangguan kesehatan jiwa. Ternyata, di dalam sistem pendidikan spesialis kita, masih terdapat budaya buruk yang “menggurita”—mulai dari perpeloncoan hingga jam kerja yang tidak manusiawi. Bagaimana kita bisa mengharapkan pelayanan kesehatan yang prima jika para calon dokter dididik dalam ekosistem yang toksik dan memerlukan dana yang super besar untuk lulus?
Kekacauan ini diperparah dengan masuknya terminologi agama yang dipaksakan ke dalam dunia medis. Kita melihat ada kecenderungan kuat untuk menerapkan pengetahuan “abad lampau” ke dalam praktik kedokteran modern tanpa filtrasi kritis. Ini adalah bentuk ideologis yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Kita memiliki teknologi canggih, namun pikiran kita seolah mundur ke abad jadul, mempercayai dogma-dogma tertentu sebagai kebenaran mutlak yang melampaui hasil laboratorium.
Konteks zaman saat sebuah ajaran lahir tentu berbeda dengan hari ini. Akar budaya dan jarak waktu belasan abad seharusnya menjadi bahan refleksi, bukan untuk ditelan mentah-mentah secara tekstual. Namun, banyak orang seolah menafikan kemajuan sains. Apapun yang berlabel agama tertentu dianggap benar mutlak, meski secara medis tidak ada kaitannya langsung atau bahkan bertentangan. Gerakan antivaksin yang meruyak belakangan ini adalah bukti nyata bagaimana keyakinan yang salah arah telah membuat derajat kesehatan bangsa ini menurun.
Memisahkan yang Seharusnya Terpisah
Sebuah negara akan menjadi kuat jika urutannya benar: pendidikan warganya baik, kesehatannya prima, barulah ekonomi akan tumbuh secara berkelanjutan. Sangat kurang bijaksana jika kita hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi namun membiarkan kualitas manusia kita keropos.
Orientasi berbangsa kita saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Campur aduk antara ideologi, politik, dan agama dalam ruang publik yang tidak tepat membuat keadaan kian semrawut. Pendidikan harusnya dilepaskan dari kepentingan politik praktis dan dogma agama yang kaku. Pun sebaliknya, agama jangan dijadikan alat politik—apa yang kita kenal sebagai politisasi agama—karena hanya akan menciptakan kebingungan dan perpecahan.
Pengalaman Gereja Katolik pada Abad Pertengahan sebenarnya bisa menjadi cermin bagi bangsa ini. Sejarah mencatat bagaimana ketika institusi agama terlalu mendominasi ruang sains dan politik, kemajuan menjadi terhambat. Mereka belajar dari sejarah itu dan melakukan reformasi besar. Sayangnya, banyak dari kita yang enggan belajar dari sejarah bangsa lain atau agama lain. Ada pemahaman sempit bahwa mempelajari sejarah “sebelah” adalah sebuah dosa, padahal itu adalah bagian dari refleksi intelektual.
Tanpa kemauan untuk belajar dan rendah hati untuk mengakui kekurangan, negeri ini akan terus terjebak dalam kekacauan. Membangun kemajuan memerlukan kepala dingin dan kemampuan untuk melihat masalah secara proporsional. Mari berhenti mementahkan kerja keras para pendahulu kita dengan kebodohan yang dipelihara.

Bukan siapa-siapa.