Paskah dan Perjuangan Menghadirkan Masyarakat Bahagia dan Sejahtera

0 37
Bernardus Agus Rukiyanto, SJ

Oleh Bernardus Agus Rukiyanto, SJ

Katolikana.com—Perayaan Paskah selalu datang dengan pesan yang sama, tetapi tidak pernah kehilangan relevansinya: kehidupan menang atas kematian, terang mengalahkan kegelapan, dan harapan mengatasi keputusasaan.

Namun, di tengah kompleksitas dunia hari ini—krisis ekonomi, polarisasi sosial, kerusakan ekologis, dan kelelahan moral bangsa—Paskah tidak cukup hanya dirayakan sebagai ritus religius. Paskah harus menjadi gerakan transformasi sosial.

Tema Paskah 2026 di Keuskupan Agung Semarang adalah Gereja berjuang untuk menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Paskah sebagai Revolusi Harapan

Dalam tradisi Kristiani, kebangkitan Kristus adalah pusat iman. Rasul Paulus dengan tegas mengatakan bahwa tanpa kebangkitan, sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14). Namun, kebangkitan bukan hanya soal iman akan kehidupan setelah kematian, melainkan sebuah revolusi harapan dalam sejarah manusia.

Filsuf eksistensialis seperti Gabriel Marcel melihat harapan sebagai sikap ontologis yang memungkinkan manusia tetap bertahan dan berjuang di tengah absurditas hidup. Dalam terang ini, Paskah menghadirkan harapan yang tidak abstrak, tetapi konkret: bahwa realitas dapat diubah, bahwa penderitaan tidak final, dan bahwa sejarah tetap terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru.

Harapan Paskah inilah yang seharusnya mendorong Gereja keluar dari kenyamanan internalnya menuju keterlibatan aktif dalam dunia.

Gereja yang Berjuang

Kristus yang bangkit tidak tinggal dalam kubur atau ruang tertutup, melainkan hadir di tengah murid-murid-Nya yang takut, bingung, dan rapuh. Ia mengutus mereka ke dunia.

Dengan demikian, Gereja yang setia pada Paskah adalah Gereja yang berani berjuang, yaitu berjuang melawan kemiskinan yang merendahkan martabat manusia, berjuang melawan ketidakadilan yang merusak tatanan sosial, dan berjuang melawan budaya kekerasan serta intoleransi.

Dalam konteks Indonesia, perjuangan ini menjadi semakin relevan. Ketimpangan sosial masih nyata, konflik identitas mudah tersulut, dan krisis ekologis semakin mengancam keberlanjutan hidup. Dalam situasi seperti ini, Gereja tidak boleh netral. Netralitas terhadap ketidakadilan pada akhirnya adalah bentuk keberpihakan yang tersembunyi.

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan mengingatkan bahwa kesadaran kritis harus diikuti oleh tindakan transformasi. Gereja tidak cukup hanya mengajar tentang kasih; Gereja harus menjadi pelaku kasih yang membebaskan.

Kebahagiaan dan Kesejahteraan: Perspektif Injili

Sering kali kebahagiaan dan kesejahteraan dipahami dalam kerangka material semata. Namun, Injil menawarkan perspektif yang lebih dalam. Dalam Sabda Bahagia (Mat 5:1–12), Yesus justru menyebut “berbahagia” mereka yang miskin, yang berdukacita, yang lapar dan haus akan kebenaran.

Ini bukan romantisasi penderitaan, melainkan penegasan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari relasi yang benar: relasi dengan Allah, relasi dengan sesama, dan relasi dengan ciptaan.

Filsuf kita Romo Driyarkara menegaskan bahwa manusia menemukan kepenuhannya dalam relasi “aku-engkau” yang otentik. Kebahagiaan bukanlah hasil akumulasi materi, melainkan buah dari keterarahan kepada yang lain.

Dengan demikian, masyarakat yang bahagia dan sejahtera adalah masyarakat yang menjunjung tinggi martabat manusia, membangun solidaritas sosial, dan merawat harmoni dengan alam. Di sinilah Paskah menemukan relevansi sosialnya.

Tanggung Jawab Bersama

Pesan Paskah menegaskan dimensi tanggungjawab bersama. Gereja tidak berjalan sendiri. Dalam semangat ekumenis, umat Kristiani dipanggil untuk bekerja bersama menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.

Lebih jauh lagi, perjuangan ini tidak terbatas pada komunitas Kristiani. Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, kerja sama lintas agama menjadi keniscayaan. Paskah, dengan pesan kehidupan dan harapan, dapat menjadi titik temu bagi semua pihak yang merindukan dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Dari Liturgi ke Aksi

Salah satu tantangan terbesar Gereja adalah menjembatani kesenjangan antara liturgi dan kehidupan. Paskah dirayakan dengan meriah: lilin dinyalakan, Alleluia dinyanyikan, dan gereja dipenuhi sukacita. Namun, pertanyaannya sederhana: apakah sukacita itu berlanjut di luar gereja?

Paskah yang sejati tidak berhenti di altar, tetapi harus menjelma dalam keberanian memperjuangkan keadilan, kesediaan berbagi dengan yang miskin, komitmen merawat lingkungan, dan upaya membangun perdamaian.

Dalam bahasa teologi, ini adalah pergerakan dari lex orandi ke lex vivendi—dari doa menuju kehidupan.

Menjadi Tanda Kebangkitan

Paskah adalah undangan untuk menjadi “manusia baru”. Namun, pembaruan ini tidak bersifat individualistik. Pembaruan selalu memiliki dimensi sosial. Kristus bangkit bukan hanya untuk menyelamatkan individu, tetapi untuk membarui seluruh ciptaan.

Karena itu, tema “Gereja berjuang menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera” bukan sekadar slogan. Tema ini adalah konsekuensi logis dari iman akan kebangkitan.

Di tengah dunia yang sering kehilangan harapan, Gereja dipanggil untuk menjadi tanda bahwa kehidupan masih mungkin diperbarui. Bahwa keadilan masih bisa diperjuangkan. Bahwa kasih masih memiliki daya untuk mengubah sejarah.

Dan pada akhirnya, Paskah menegaskan satu hal sederhana namun mendasar:
harapan tidak pernah mati—selama masih ada mereka yang berani menghidupinya.

Selamat Paskah!

Leave A Reply

Your email address will not be published.