
Oleh Odemus Bei Witono, Imam Jesuit, Direktur Perkumpulan Strada, dan Pemerhati Pendidikan
Dunia kita adalah tirani genap. Kita tumbuh dalam muja-muji pada angka dua: sepasang kekasih, sepasang mata, dan tentu saja, sepasang alas kaki. Maka, ketika seorang lelaki melintasi ribuan kilometer dengan hanya sebelah sandal di kaki kanan, ia tidak sedang melakukan perjalanan biasa. Ia sedang melakukan pembangkangan sunyi terhadap logika semesta.
Estetika Kehilangan
Sandal kanan itu adalah artefak dari sebuah tragedi yang gagal dituntaskan. Ketika banjir bandang menyeret pasangannya ke dalam rahim lumpur, ia tidak hanya kehilangan kembaran karetnya; ia kehilangan definisi dirinya sebagai “sepasang”. Namun, sang pemilik menolak untuk membuangnya. Di sini, apa yang dunia sebut sebagai kegilaan, sebenarnya adalah sebuah bentuk kesalehan pada kenangan.
Bagi sang pemilik, membuang sandal kanan yang tersisa hanya karena yang kiri telah raib adalah bentuk pengkhianatan paling purba. Ia melihat sandal itu bukan sebagai komoditas yang bisa diganti, melainkan sebagai saksi.
Bagaimana mungkin ia membuang benda yang telah mencatat keringat dan debu sepanjang ribuan kilometer hanya karena ia kini yatim piatu?
Kesiapsediaan dalam Tekstur yang Menipis
Di bawah telapak kaki kanan, sandal itu menjalani takdirnya dengan semacam stoisisme yang tenang. Ia adalah definisi dari kesiapsediaan yang bisu. Ia tidak memprotes kegilaan pemiliknya yang membawanya melintasi kota-kota dengan cara yang tak lazim.
Sandal tidak menuntut pasangan baru atau merasa rendah diri bersanding dengan kaki kiri yang telanjang, hitam, dan kapalan.
Ia hanya ada. Menunggu diinjak, menunggu diajak pergi. Ia merupakan materialitas yang pasrah, menyerahkan punggungnya untuk dipacu habis oleh langkah pemiliknya.
Ada kualitas transendental dalam hubungan ini. Sandal itu telah kehilangan egonya. Ia tidak lagi peduli pada estetika atau simetri. Ia hanya peduli pada fungsi dan kehadiran.
Saat kaki kiri yang telanjang harus bertarung langsung dengan tajamnya kerikil, sandal kanan tetap menjadi benteng terakhir bagi sisi lainnya. Ia adalah jangkar yang menjaga kewarasan pemiliknya di tengah arus penilaian orang lain.
Menjadi Ganjil di Dunia yang Genap
Esai ini pada akhirnya bukan tentang alas kaki, melainkan tentang keteguhan. Sang pemilik yang terus berjalan meski timpang, dan sandal yang terus melindungi meski sendiri, adalah sebuah parabel tentang cinta yang tidak pragmatis.
Kita sering kali membuang sesuatu hanya karena ia tak lagi lengkap. Namun, lelaki ini dan sandal kanannya mengajarkan kita bahwa:
Setia bukan berarti harus selalu utuh, melainkan tetap bertahan bersama sisa-sisa kehilangan yang ada.
Langkah kaki mereka yang asimetris—plak, srek, plak, srek—adalah musik paling jujur tentang hidup. Hidup yang tak selamanya berpasangan. Hidup yang sering kali hanyut diterjang banjir, namun tetap harus dijalani dengan kesiapan untuk terus diinjak demi mencapai tujuan yang jauh di depan.
Editor: Basilius Triharyanto
Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.