Kisah Para Rasul 1:10-16; Markus 10:28-31
Katolikana.com– Banyak orang beriman mengharapkan imbalan dari Tuhan karena merasa telah berjasa: percaya kepada-Nya.
Ada yang mengajarkan bahwa mengikuti Tuhan mesti makmur dan kaya raya hidupnya. Apakah benar demikian? Injil hari ini memberikan jawabannya.
Pertanyaan Petrus yang Jujur
Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau.” Perkataan ini lahir dari kesadaran nyata: para murid benar-benar telah meninggalkan mata pencaharian, keluarga, dan kenyamanan demi Injil. Petrus tidak sedang menyombongkan diri, melainkan mencari kepastian. Ia ingin tahu apakah pengorbanan yang sudah mereka lakukan berarti di mata Tuhan. Yesus tidak menolak pertanyaan itu, melainkan meresponnya dengan janji yang luar biasa besar.
Janji seratus kali lipat di dunia ini
Yesus menjawab, “Setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya, … akan menerima seratus kali lipat di dunia ini.”
Banyak orang mengartikan itu sebagai imbalan materi: uang, properti, atau bisnis yang sukses. Tafsiran seperti itu memang mudah dicerna karena kita hidup dalam budaya yang akrab dengan hitungan untung rugi.
Namun, jika imbalan itu semata-mata materi, maka kekristenan berisiko menjadi ajaran transaksional yang dangkal. Berdagang dengan Tuhan.
Mengapa tafsiran materi belum cukup?
Jika seratus kali lipat diartikan secara harfiah sebagai kekayaan berlipat, maka orang kaya yang mengikuti Yesus akan menjadi lebih kaya, dan orang miskin akan menjadi kaya.
Namun realitas berkata lain: banyak rasul, misionaris, dan orang kudus justru hidup dalam kemiskinan, penganiayaan, bahkan kemartiran. Jika imbalan Tuhan bersifat material semata, maka pengalaman mereka bertentangan dengan janji ini.
Karena itu, kita perlu menggali makna yang lebih dalam dan alkitabiah.
Imbalan sejati adalah relasi baru
Tuhan tidak menjanjikan uang berlipat, melainkan “saudara, saudari, ibu, bapa, anak, dan ladang” yang baru. Itulah komunitas orang beriman—Gereja.
Di dalam Tubuh Kristus, seorang yang ditinggalkan keluarganya karena iman, mendapatkan banyak saudara seiman yang mengasihinya. Seorang yang kehilangan rumah, akan mendapatkan rumah-rumah umat Allah yang membuka pintu baginya. Imbalan itu adalah keluarga rohani yang jauh lebih luas dan dalam.
Ladang baru dan makna hidup
Selain keluarga rohani, Yesus juga menjanjikan “ladang”. Ladang melambangkan pekerjaan, panggilan, dan produktivitas dalam Kerajaan Allah. Ketika seseorang meninggalkan pekerjaan lamanya demi Injil, Tuhan tidak membiarkannya menganggur, tetapi memberi ladang pelayanan yang penuh makna.
Bukan dalam bentuk gaji besar, melainkan kepuasan sejati ketika hidup dipakai untuk tujuan kekal. Inilah imbalan yang tak ternilai dibandingkan sekadar kenaikan pangkat dan gaji atau materi.
Hidup kekal sebagai puncak imbalan
Di akhir ayat, Yesus menambahkan: “dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup kekal.” Ini adalah inti dari segalanya.
Hidup kekal bukan sekadar waktu tanpa akhir, melainkan relasi sempurna dengan Allah. Semua imbalan di dunia—betapapun mahal dan indahnya—hanyalah bayangan. Persekutuan dengan Bapa, melihat Dia muka dengan muka, adalah imbalan sejati yang membuat segala pengorbanan di bumi ini terasa sangat kecil.
Peringatan tentang urutan terbalik
Yesus menutup perikop ini dengan kata-kata mengejutkan: “Banyak orang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir menjadi yang terdahulu.”
Ini peringatan keras bagi mereka yang mengejar imbalan materi, popularitas, atau status rohani yang tampak besar di mata manusia. Di dunia, orang kaya dan berkuasa dianggap “terdahulu”, tetapi dalam Kerajaan Allah, posisi mereka terancam jika hati mereka tidak benar. Tuhan melihat motivasi di balik pengorbanan.
Imbalan yang lebih baik
Jadi, jangan memperkecil janji Tuhan menjadi sekadar hitungan materi yang menggiurkan. Pemberian Tuhan itu jauh lebih baik dan bermakna: komunitas yang mengasihi, ladang pelayanan yang memuaskan jiwa, dan puncaknya hidup kekal. Inilah imbalan yang tidak dapat diukur dengan uang atau harta dunia.
Maka, ketika kita meninggalkan sesuatu demi Injil, jangan mengharapkan rumah yang lebih besar, tetapi berharaplah pada Tuhan sendiri.
Sebab Dialah imbalan sejati yang tidak pernah mengecewakan.
Selasa, 26 Mei 2026
Peringatan Santo Filipus Neri, Imam
HWDSF

Misionaris di Hong Kong sejak 2020. Berkarya di St. Anne’s Church, Stanley, Hongkong.