Baptisan Yohanes dan Kuasa Yesus

0 17

Yudas 1:17.20b-25; Markus 11:27-33

Katolikana.com – Setelah Yesus mengusir para pedagang dari Bait Allah, para imam, ahli Taurat, dan tua-tua mendatangi Yesus. Mereka bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal ini?” Pertanyaan itu seperti menunjukkan rasa ingin tahu, tetapi sebenarnya datang dari hati yang tidak mau percaya.

Oleh sebab itu, Yesus tidak langsung menjawabnya. Sebaliknya, Ia mengajukan pertanyaan balasan tentang baptisan Yohanes: dari surga atau dari manusia?

Itu cara cerdas yang mengungkap akar persoalan: sumber otoritas tidak bisa dipisahkan dari cara Allah bekerja.

Mengapa tentang baptisan Yohanes?
Ternyata, antara Yohanes dan Yesus ada hubungan sangat erat. Yohanes datang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Baptisannya adalah tanda pertobatan yang berasal dari surga. Jika mereka mengakui baptisan Yohanes berasal dari Allah, mereka seharusnya menerima Yesus yang dinubuatkan Yohanes.

Namun mereka tidak sanggup menjawab. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena takut pada orang banyak. Mereka terjebak dalam kepentingan pribadi (keselamatan diri): jika berkata dari surga, Yesus akan menuntut mengapa mereka tidak percaya; jika dari manusia, mereka takut pada massa yang menganggap Yohanes nabi.

Mereka tidak mampu menjawab bukan karena daya intelektualnya lemah, melainkan hatinya tidak jujur. Mereka sudah memutuskan untuk tidak percaya sejak semula. Maka Yesus pun berkata, “Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal ini.”

Sama-sama dari Allah
Cara berpikir Yesus jelas: sumber baptisan Yohanes dan sumber kuasa-Nya sama-sama dari Allah. Menolak yang pertama berarti tidak akan menerima yang kedua. Keterbukaan terhadap kesaksian Yohanes adalah prasyarat untuk mengenal otoritas Kristus.

Lalu mengapa Yesus tetap memberikan pertanyaan itu, bukannya langsung menjawab? Karena Ia ingin menyadarkan mereka akan kedegilan hatinya. Jawaban itu bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu orang yang tidak mau percaya, tetapi untuk mendorong mereka mengintrospeksi diri.

Dimulai dari kerendahan hati
Renungan ini mengingatkan kita: Allah tidak memaksakan bukti kepada hati yang tertutup. Iman dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui karya Allah di masa lalu, bahkan melalui Yohanes yang tampil sederhana. Tanpa itu, kita tidak akan sanggup melihat kuasa Kristus di masa kini. Jadi, tanya jawab di atas bukan tentang pengetahuan, melainkan iman. Kepada orang yang tidak mau percaya, penjelasan apa pun akan sia-sia. Apakah kita sungguh percaya kepada Yesus dan kuasa-Nya?

Sabtu, 30 Mei 2026
HWDSF

Leave A Reply

Your email address will not be published.