Jaringan Caritas Indonesia Respon Cepat Pasca Gempa Bumi di Flores: Solidaritas Gereja Katolik Wujudkan  Pelayanan Penyintas Bencana

0 17

Flores, Katolikana.com – Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas Keuskupan di wilayah terdampak bergerak cepat merespon bencana gempa bumi tektonik bermagnitudo M7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pukul 04:58 WIB. Gempa dangkal berpusat di 30 km timur laut Mbay, Nagekeo tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami dan berdampak luas di 10 kabupaten yang tersebar di Provinsi NTT, NTB, dan Sulawesi Selatan.
Berdasar rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang diterima Katolikana.com Minggu (16/8/2028) Gempa bumi magnitudo 7,7 yang terjadi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 menyebabkan 47 orang meninggal dunia, 101 orang luka-luka, dan lebih dari 5.934 jiwa mengungsi.

Pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka (3.356 jiwa) dan Kabupaten Manggarai (2.078 jiwa), disusul Nagekeo sekitar 500 jiwa serta wilayah Bima dan Kepulauan Selayar.
Gempa juga memicu 341 kali gempa susulan dan menyebabkan kerusakan signifikan, dengan 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan. Selain itu, 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintah mengalami kerusakan.

Saat ini, kebutuhan mendesak penyintas meliputi tenda darurat, beras, obat-obatan, selimut, velbed, tikar, air bersih, dan genset, terutama untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian.

Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas Keuskupan di wilayah terdampak bergerak cepat menangani bencana (Foto Jaringan Caritas Indonesia)

Soliraditas Gereja Katolik Indonesia
Sebagai wujud solidaritas dan kehadiran nyata Gereja Katolik di tengah duka masyarakat, Direktur Caritas Indonesia (Yayasan Karina KWI), Romo Fredy Rante Taruk, Pr, menegaskan komitmen penuh dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk memberikan bantuan darurat terpadu. Dukungan penuh ini disampaikan secara langsung atas arahan Ketua KWI, Mgr. Antonius Bunjamin Subianto, OSC, serta jajaran Para Uskup Organ Yayasan Karina KWI.

“Ketua KWI Mgr. Antonius Bunjamin Subianto, OSC bersama para Uskup Organ Yayasan Karina KWI mendukung penuh langkah tanggap darurat yang dijalankan Jaringan Caritas Indonesia. Bencana ini memanggil kita untuk bertindak atas dasar kasih dan solidaritas kristiani. Caritas Indonesia telah mengaktifkan Status Skala Dampak Level III (Orange) dan memastikan pos kemanusiaan dan bantuan dasar cepat menjangkau para penyintas,” ujar Romo Fredy Rante Taruk, Pr, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan keuskupan terdampak dan jaringan, Caritas Indonesia menerbitkan surat Nomor Surat 356/SK-YK-VIII/2026 yang menetapkan Penetapan Skala Dampak Level III (Orange). Selain itu, jaringan Caritas Indonesia telah mengaktivasi beberapa pos layanan di empat keuskupan terdampak.
Selain melakukan koordinasi dengan beberapa keuskupan terdampak, Caritas Indonesia memobilisasi relawan terlatih dari Core Response Team (CRT) Jaringan Caritas Indonesia. Hari ini, beberapa anggota CRT akan diterjunkan ke keuskupan-keuskupan terdampak, untuk membantu penanganan bencana di masa tanggap darurat. Dalam semangat “One Church, One Response” dengan menggerakkan berbagai komponen Gereja untuk bekerja sama dalam semangat persaudaraan dan solidaritas.
“Caritas menggerakkan semua komponen Gereja untuk bekerja sama, membangun sinergi dan saling membantu agar dapat merespons situasi kemanusiaan secara cepat dan efektif serta menjangkau umat dan masyarakat yang terdampak,” ujar Romo Fredy.
Dari hasil rapat koordinasi jaringan Caritas Indonesia, posko transit mobilisasi logistik akan dibuat di Surabaya, Jawa Timur dan di Kupang, NTT. Posko di Surabaya akan menghimpun bantuan dari wilayah Jawa dan akan didukung oleh Caritas Keuskupan Surabaya.

Dukungan Para Uskup
Dukungan moral dan pastoral yang kuat juga disampaikan oleh para Uskup di keuskupan terdampak Flores, yaitu Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Ruteng, dan Keuskupan Labuan Bajo. Para Uskup menginstruksikan seluruh jaringan paroki, imam, biarawan-biarawati, serta relawan untuk menjadikan kompleks gereja dan fasilitas keuskupan sebagai pos aman perlindungan warga, serta aktif melakukan asesmen cepat demi menjangkau korban yang paling rentan.

Menanggapi situasi darurat ini, Jaringan Caritas Indonesia telah menetapkan Pos Layanan Kemanusiaan Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas-PSE di empat wilayah keuskupan terdampak dengan langkah-langkah respon sebagai berikut:

Keuskupan Agung Ende
Di Keuskupan Agung Ende, berdasarkan informasi sementara, dampak gempa Flores paling signifikan dirasakan di Kabupaten Nagekeo. Di wilayah ini, warga melakukan evakuasi mandiri ke lokasi tinggi pada saat alarm bahaya tsunami. Dari data terkumpul, setidaknya 20 bangunan gereja rusak
Keuskupan Agung Ende menjadi salah satu wilayah dengan tingkat guncangan amat kuat (VII MMI di Nagekeo/Mbay dan Maurole). Caritas Keuskupan Agung Ende berfokus pada pendataan kerusakan paroki dan penanganan pengungsi. Tim mendata kerusakan berat pada fasilitas gereja seperti Paroki Ndona (aula retak, gereja rusak berat), Maurole, Aeramo, Aimere (Stasi Lopijo runtuh), Gako, dan Kombandaru, serta menyalurkan bantuan logistik awal di wilayah Nagekeo, Ngada, dan Ende.
Saat ini, warga di beberapa tempat masih bertahan di area terbuka mengantisipasi gempa susulan. Pos pelayanan sudah dirikan di Paroki Aeramo termasuk mendirikan posko pengungsian lansia.

Keuskupan Maumere
Caritas Keuskupan Maumere mengaktifkan pos koordinasi kemanusiaan bersama komisi PSE paroki-paroki pesisir untuk memantau wilayah Sikka yang sempat mengalami ancaman kenaikan muka air laut. Kebutuhan mendesak yang diidentifikasi antara lain makanan siap saji, tempat tidur, dan lauk pauk. Tim menyiapkan pasokan air bersih, hygiene kit, dan bahan pokok untuk pengungsi pesisir.
Selain itu, Caritas Keuskupan Maumere telah melakukan koordinasi dengan BPBD dan PMI untuk memperoleh informasi terbaru mengenai dampak bencana dan kebutuhan mendesak. Pemerintah Provinsi NTT bersama Forkopimda, TNI, dan Polri telah melakukan koordinasi terkait penanganan bencana. Terdapat himbauan pemerintah agar toko dan pasar dapat kembali dibuka untuk menjamin ketersediaan kebutuhan masyarakat.
Rumah sakit di Maumere masih memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
terdampak. Masyarakat di seluruh wilayah Sikka mengalami kekhawatiran akibat gempa susulan sehingga sebagian warga tidak berani kembali ke rumah, khususnya pada malam hari. Sebagian masyarakat mengungsi di halaman Kantor Bupati Sikka.

Keuskupan Ruteng
Di Caritas Keuskupan Ruteng merespon cepat penanganan kesehatan darurat. Mengingat ancaman gempa susulan yang membahayakan struktur bangunan, Caritas Keuskupan Ruteng mendirikan tenda-tenda darurat di area RSUD setempat untuk mengevakuasi seluruh pasien agar tetap mendapatkan perawatan medis yang aman. Selain itu, tim mengoordinasikan jaringan paroki untuk evakuasi warga dan pengumpulan data korban. Laporan sementara wilayah Manggarai dan Manggarai Timur mencatat dampak gempa berupa ratusan rumah rusak serta laporan korban jiwa. Data ini masih terus diverifikasi bersama BNPB.
Trauma gempa susulan memicu pengungsian mandiri warga ke area terbuka, dengan Reo sebagai pusat pengungsian utama dan Paroki Pagal mengkondisikan evakuasi wilayah pantai utara. Di tengah pemadaman listrik di Kota Ruteng dan kerusakan lebih dari 50 gereja (termasuk Katedral Ruteng),
Bapa Uskup mengimbau penghentian sementara ibadah di dalam gedung. Menanggapi situasi ini, Keuskupan Ruteng merespon cepat dengan membuka Posko Pelayanan Kemanusiaan bersama Jaringan Caritas Indonesia.

Keuskupan Labuan Bajo
Di Keuskupan Labuan Bajo, respon difokuskan pada aktivasi pos layanan kemanusiaan, pemenuhan logistik shelter kit darurat, serta pendampingan psikososial. Tim masih melakukan pendataan dampak bencana, informasi sementara menunjukkan sekitar 150 rumah terdampak, namun angka tersebut masih dalam proses verifikasi.
Komunikasi dengan paroki-paroki masih mengalami kendala karena jaringan baru mulai membaik pada sore hari. Sebaran paroki yang cukup luas menjadi tantangan dalam pengumpulan data. Informasi mengenai kondisi dan akses jalan menuju Ruteng masih belum diperoleh secara lengkap.

Jaringan Caritas Indonesia bersama Caritas Keuskupan di wilayah terdampak bergerak cepat menangani bencana (Foto Jaringan Caritas Indonesia)

Penguatan Koordinasi & Komitmen Kemanusiaan
Untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan terarah, Jaringan Caritas Indonesia mengaktifkan grup koordinasi darurat (WhatsApp Group KERNET) sebagai pusat kendali arus informasi antar-keuskupan. Caritas Indonesia juga menyiapkan pengiriman Caritas Response Team (CRT) untuk memperkuat kapasitas asesmen cepat (rapid assessment), manajemen data, dan distribusi bantuan di lapangan. Caritas Indonesia juga membangun kemitraan dengan berbagai organisasi, universitas, dan komunitas yang peduli bencana untuk respons bersama.
Caritas Indonesia juga membuka dan menerima penyaluran bantuan dana dan kebutuhan dasar untuk para pengungsi melalui jalur pos logistik yang telah ditetapkan.
Caritas Indonesia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap gempa bumi susulan serta selalu mengikuti arahan resmi BMKG dan BPBD setempat. Jaringan Caritas Indonesia berkomitmen untuk terus hadir dan mendampingi warga terdampak hingga tahap pemulihan pascabencana.

Kontak Media/Information & Resource Center:
Caritas Indonesia (KARINA – KWI): Jl. Matraman No. 31, Jakarta Timur
Staf Komunikasi Caritas Indonesia: Antonius E. Sugiyanto (081294538853)
Email: info@karina.or.id

Rudy Raka (ER-DRR Coordinator) Phone: [+62 853-3333-3831]
Email: [rudyraka@karina.or.id/rudirakasiwie@gmail.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.