Humor Romo Busyet: Kalah Lucu dengan Mgr. Rubiyatmoko

KALAU NGGAK LUCU NGGAK USAH KETAWA!

0 1,058

Katolikana.com – Sebelum masuk seminari saya terlebih dulu kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Selama kuliah saya aktif di berbagai kegiatan: mapala, teater dan lawak. Saya Setyo Budi “Penuh Pesona”, bersama Margianto “Plentong”, Sutikno “Lakang” Sutantio, Philipus Anton “Si Bo” Laksmana pernah mengikuti lomba humor ala mahasiswa yang diadakan salah satu stasun televisi swasta di Jakarta. Dari 150an peserta kelompok kami masuk final (8 tim). Pokoke rada lucu lah. Dan pernah sepanggung dengan Deny dan Nardji “Cagur” lho….

Setelah selesai kuliah dan sempat kerja menjadi guru dan wartawan, Tuhan menggerakkan hati saya untuk masuk seminari. Tapi percayalah bahwa saya masuk seminari bukan karena tidak laku (masa muda saya ganteng, mirip Dude Herlino).

Singkat cerita saya masuk seminari dan akhirnya ditahbiskan menjadi imam tahun 2007.

Selama menjadi imam, saya mengalami empat kepemimpinan uskup. Para uskup memiliki gaya dan kekhasan masing-masing. Ketika masih berkarya di Paroki Kalasan tahun 2009, sebelum dipindah ke Universitas Atma Jaya Yogyakarta, saya mengutarakan maksud dan keinginan yang sudah lama terpendam:

“Monsinyur Suharyo, kula menika dipun ajak rencang-rencang kuliah rumiyin tumut audisi pelawak Indonesia pikantuk mboten?” (saya diajak teman-teman saat kuliah ikut audisi pelawak Indonesia boleh tidak?)

Sambil memandang saya dengan tenang, monsinyur mengatakan:

Sae Romo, ananging panjenengan menika pengen dados Romo napa pelawak? (baik Romo, tetapi romo ini mau jadi romo atau pelawak?)”

“Ooo nggih sampun……( ooo ya sudah)” saya tahu arah jawaban monsinyur.

Akhirnya saya urungkan niat ikut Audisi Pelawak Indonesia.

Setelah Mgr. Suharyo pindah ke Keuskupan Agung Jakarta, penggantinya adalah Mgr. Johanes Pujasumarta. Saat itu saya tinggal di Seminari Tinggi Kentungan dan ada kesempatan wawanhati dengan beliau selama satu jam, di akhir wawanhati saya utarakan niat saya:

Wawanhati itu curhat tapi lebih mendalam.

“Mgr. Puja, kula badhe tumut stand up comedy pikantuk mboten?”

(saya mau ikut stand up comedy boleh tidak?)

“Apa kuwi?” (Apa itu?)

Niku lho, lomba lawak kados ten tivi nika.” (Itu lho, lomba lawak yang di tivi itu)

Sae niku, napa sampun romo penggalih?” (Baik, tapi apakah sudah romo pikirkan lebih dalam?)

“Ooo nggih Monsinyur.” (oooo iya monsinyur)

Untuk kedua kalinya saya mengurungkan niat saya.

Awal 2017, saya mendapat perutusan baru sebagai Rektor Seminari di Ketapang Kalimantan Barat. Uskup ketapang Mgr. Pius Riana Prapdi (mantan romo paroki saat saya misdinar di Paroki Sragen). Untuk ketiga kalinya saya mengutarakan niat saya:

“Monsinyur, saya pengen sekali ikut stand up comedy boleh tidak?”

Kuwi ndak sing lomba lawak sing dewekan kaya neng tivi kae to?”

(Apakah itu lomba lawak yang sendirian seperti di tivi itu?)

Nggih leres monsinyur.” (benar monsinyur)

“Romo, apakah itu baik untuk panggilan romo atau tidak?”

“Ooo……nggih monsinyur.” (ooooo…..iya monsinyur)

Seperti Yesus jatuh tiga kali di bawa salib, saya mengurungkan niat saya untuk ketiga kalinya.

Suatu saat di pertengahan tahun 2018 saya ada kesempatan pulang kampung, saya naik pesawat Ketapang-Semarang dan singgah di Wisma Uskup di Semarang untuk merasakan menginap di Wisma Uskup. Saya boleh menikmati makanan yang tersedia di meja makan Bapak Uskup. Sambil cerita kesana-kemari, saya mencoba mengutarakan niat saya yang masih terpendam kepada Mgr. Rubyatmoko:

“Monsinyur, saya itu sejak dulu seneng ndagel, boleh gak kalau saya ikut audisi stand up comedy?”

“Apa kuwi?”

Sebetulnya Monsinyur Rubyatmoko itu tahu maksud saya tetapi pura-pura tidak tahu, lalu saya jelaskan.

Stand itu berdiri, comedy itu ndagel. Jadi artinya ndagel ning ngadeg!”

“Ooo….ngono to? Tapi masalahe kowe ki lucu po?” (Ooo..begitu ya? Tapi masalahnya kamu itu lucu apa?)

@#$%^&**&^%$ artinya: waduuuuuhhhhh.

Akhirnya saya menyerah, ternyata kalah lucu dengan Monsinyur Rubi. Ya sudah saya tak nglucu (melucu) di kandang ayam dan kebun saja.

Romo yang suka humor, tinggal di Kalimantan Barat

Leave A Reply

Your email address will not be published.