Romo Mangun Tidak Mengkristenkan Kampung Code

0 119

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau biasa dipanggil dengan Romo Mangun adalah sosok pastor Katolik yang unik dan langka. Semasa hidupnya Romo Mangun tak hanya berkiprah sebagai pemimpin gereja. Dia juga dikenal sebagai arsitek, sastrawan, pendidik, dan pejuang kemanusiaan.

Kampung Code menjadi salah satu mahakarya paling terkenal. Kiprah Romo Mangun di kampung ini bermula saat Pemerintah Kota Yogyakarta merencanakan penggusuran kampung tepi sungai ini sebagai jalur hijau.

Romo Mangun berusaha menggagalkan rencana tersebut dengan cara menata kampung ini agar warga setempat dapat terhindar dari penggusuran.

Tak hanya sukses melawan penggusuran, kampung ini bahkan meraih penghargaan arsitektur prestisius, Aga Khan Award. Tangan dingin Romo Mangun yang rela tinggal Bersama warga mampu mengubah wajah kampung ini.

Awalnya, upaya cawe-cawe Romo Mangun sempat menuai kecurigaan. Predikatnya sebagai pastor yang bersedia terjun langsung membantu kaum marjinal masih dianggap aneh bagi masyarakat.

“Pastor seharusnya bekerja di gereja saja.” Mungkin demikian pikir banyak orang.

Apalagi Romo Mangun menolak bermukim di pastoran selama mengurus Kampung Code. Romo Mangun meminta izin Uskup untuk tinggal bersama warga yang dia bantu.

Gerbang Kampung Code, Yogyakarta.

Tinggal Bersama Warga

Romo Mangun membangun gubuk sederhana di bawah jembatan Gondolayu sebagai tempat tinggal.

Tak ayal, banyak orang menyindir Romo Mangun tengah melakukan upaya kristenisasi di Yogyakarta.

Pandangan ini didukung juga dengan profil warga setempat. Kampung Code memang kampungnya orang-orang yang tersisihkan dari deru pembangunan Yogyakarta.

Penghuninya terdiri dari segala macam profesi yang biasa dianggap sebagai sampah masyarakat. Mulai dari pengamen, pedagang asongan, loper koran, maling, preman, hingga pelacur. Demografi seperti ini membuat warga Code tak terlalu acuh dengan agama.

Filsafat Lonte

Dengan kondisi demikian Romo Mangun mulai masuk dan menata Kampung Code. Dia datang ke kampung tersebut dengan “filsafat lonte”, sebuah filsafat jalanan bikinannya sendiri. Sudah jelas filsafat ini tak ada dalilnya dalam ajaran resmi agama Katolik.

Melalui filsafat ini, Romo Mangun menasehati anak-anak di kampung tersebut dengan bahasa yang membumi agar mereka tetap mau bersekolah sebelum atau setelah mereka menjadi loper koran atau mengasong.

Oleh wae ibumu lonte, tapi kowe ra oleh dadi lonte.”  “Boleh saja ibumu seorang pelacur, tapi kamu tidak boleh jadi pelacur juga,” pesan Romo Mangun.

Kehadiran Romo Mangun dan pendekatannya yang sederhana ternyata mengena di hati warga Code.

Lukisan wajah Romo Mangun di Kampung Code. Foto: caritra.org

Merasa Dirangkul

Orang-orang kecil merasa dirangkul dan dipandang sebagai manusia beradab. Mereka pun termotivasi untuk ikut berpartisipasi menata tempat tinggal mereka menjadi lebih bermartabat.

Romo Mangun berperan mendesain rumah-rumah warga agar terhindar dari banjir Kali Code dan sedap dipandang mata.

Warga juga mendukung dengan perubahan perilaku. Mereka bersatu menjadi sekumpulan warga yang guyub.

Dengan modal tersebut mereka turut serta menghijaukan kampung, menghilangkan kebiasaan buang sampah di kali, dan mendorong anak-anak memperoleh pendidikan yang layak.

Perubahan perilaku ini tampak juga di aspek religiusitas. Warga Code yang semula berjarak dengan agama mulai mau lebih mengenal agama.

Masjid Kalimosodo. Foto: arghshitechcureproject.com

Membangun Masjid

Romo Mangun merancang sebuah masjid sederhana di tengah Kampung Code. Benar, masjid. Romo Mangun tak pernah membangun gereja ataupun membaptis orang di Code.

Alih-alih mengajak warga Code ramai-ramai berpindah agama, Romo Mangun lebih suka memfasilitasi mereka untuk bisa mendalami Islam dengan lebih baik.

Hingga kini, Masjid Kalimosodo karya Romo Mangun masih berdiri kokoh di Kampung Code. Selain masjid, warga Code juga memiliki fasilitas umum lain berupa balai pertemuan dan perpustakaan.

Ironisnya, bekas rumah tinggal Romo Mangun di Code kini lenyap tanpa sisa akibat terkena pelebaran jembatan Gondolayu.

Kampung Code kini dicat warna-warni. Foto: The Jakarta Post

Masyarakat yang sempat menaruh curiga bisa bersorak gembira. Romo Mangun bisa dibilang “gagal total” dalam upaya mengkristenkan Code. Umat Islam masih menjadi kelompok mayoritas dalam demografi penduduk Kampung Code.

Sejatinya, niat Romo Mangun datang ke Code bukan untuk menambah jumlah statistik pemeluk Katolik. Romo Mangun tidak hadir untuk menyebarkan agama Katolik.

Romo Mangun hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Katolik yang membawa damai bagi semua umat manusia.

Karya Romo Mangun murni karena alasan kemanusiaan. Sebuah nilai universal yang, sayangnya, selama ini lebih sering terdengar di mimbar kotbah daripada dihadirkan secara riil bagi masyarakat yang terpinggirkan.*

Ageng Yudhapratama, Penggerak GUSDURian Jakarta. Alumnus Fisipol UGM.

 

Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.