Jembatan Belas Kasih Menuju Tahun Mukjizat

Masa annus horribilis (tahun yang mengerikan) justru menandai terang kasih Allah yang hadir dalam sosok-sosok pembawa harapan hidup. Para nakes sebagai orang sederhana yang bekerja secara teratur dan disiplin menawarkan kepada kita terang kehangatan dalam tindakan nyata.

0 47

Pintu tahun 2020 sudah ditutup. Beragam peristiwa dan gejolak telah kita lalui bersama. Kondisi pandemi akibat virus SARS-Cov-2 yang lebih dikenal dengan Corona memukul banyak aspek kehidupan manusia. Berpuluh kesan dan perasaan duka menyelimuti jiwa dan benak kita.

Satu per satu tenaga kesehatan (nakes) berguguran dalam menjalankan tugas pelayanannya. Terhitung hingga 31 Desember 2020 lalu, 523 orang nakes telah meninggal dunia akibat menanggung beban setelah tertular penyakit Covid-19 (Laporcovid.org). Mereka meliputi dokter spesialis, perawat, dan guru besar.

Ibarat pion yang menjejak papan permainan catur, laku hidup mereka seperti diperhadapkan pada dua pilihan langkah: hitam atau putih. Mengingkari sumpahnya sebagai tenaga medis untuk mengelakkan bahaya, atau tetap melayani meski bukan tak mungkin meretas jalan kemartiran: bersiap menerima risiko kematian dalam bertugas.

Berdasarkan taksiran Ikatan Dokter Indonesia, setiap satu orang dokter melayani kebutuhan 30.000 penduduk di Indonesia. Maka, kehilangan satu dokter saja jelas dapat mengancam kualitas pelayanan kesehatan bagi 30.000 penduduk di masa mendatang.

Kondisi tersebut menjelaskan bahwa kengerian yang disebabkan wabah Covid-19 tak lantas memudarkan pancaran belas-kasih. Masa annus horribilis (tahun yang mengerikan) justru menandai terang kasih Allah yang hadir dalam sosok-sosok pembawa harapan hidup. Para nakes sebagai orang sederhana yang bekerja secara teratur dan disiplin menawarkan kepada kita terang kehangatan dalam tindakan nyata.

Mereka menjadi penolong bagi yang sakit, penyembuh yang terbaring lemah—terjangkit virus Corona. Tidakkah kesaksian hidup mereka yang rela memartirkan dirinya bagi sesama mencelikkan mata kita?


Tahun yang Ambyar

Tak sedikit dari kita yang menyayangkan rencana-rencana yang gagal terwujud di 2020. Saya pun terdampak cukup parah: sempat dirumahkan tiga bulan, terhambat dalam relasi dengan kekasih, hingga harus mencari peluang kerja dan usaha untuk menutupi biaya bulanan. Alhasil, tahun 2020 bisa dikatakan menawarkan kondisi ambyar dan perasaan tawar—jika bukan pahit.

Maka di masa jelang pergantian tahun, umumnya kita memasang ancang-ancang rencana (resolusi). Dalam sebuah jajak pendapat (japat) ringkas yang saya bagikan di Twitter, saya melempar pertanyaan: Mengapa kita perlu membuat resolusi pribadi sebelum tahun baru?

Terhimpun sebanyak 60% pengisi japat menjawab “agar tidak gagal lagi”. Sementara sisanya memilih alasan “agar target-target mereka dapat tercapai”. Nampaknya, kelemahan kita sebagai manusia yang tak luput dari kelalaian sering menjadi biang kerok kegagalan. Maka pokok-pokok resolusi disusun sebagai harapan sebagai fokus perhatian dari setiap usaha dan karya.

Tidak terjatuh dalam kegagalan yang sama, tentu menjadi sebuah sikap wawas diri yang mesti kukuh dipegang dalam hari-hari yang akan bergulir ke depan. Sebab manusia bukanlah seperti keledai yang bisa saja jatuh ke lubang yang sama.

Di sisi lain, annus horribilis (tahun yang mengerikan) sejak dua bulan pertama di tahun 2020 memberi pukulan yang menyentak batin kita. Dalam masa pandemi Covid-19, dampak kengerian begitu jelas tampak: tak saja jumlah korban meninggal para nakes dan warga lain yang terjangkit; roda perekonomian rumah tangga kita juga macet.

Sungguhpun begitu, sisi manusia modern kita yang terpampang di media sosial menampakkan cermin yang kerap berbeda dengan kenyataan yang sedang dirasakan. Di balik senyum manis, dandan eksentrik, dan gemerlap isi postingan medsos kita, sesungguhnya tak jarang tersisip perasaan sedih-pedih. Senyum bahagia kita di layar ponsel kontras dengan masalah-masalah yang bersembunyi di dalam pikiran-perasaan. Ia semacam duri dalam daging.

Kini, di tahun baru yang belum benar-benar tanggal dari mendung pandemi, kecenderungan kita untuk menutupi kemunduran, kemandegan, bahkan luka kecemasan hidup telah turut digoyahkan. Mau tak mau yang kemudian muncul ialah ekspresi-ekspresi mendekati jujur, yang sedikit demi sedikit membuat selubung hidup artifisial meranggas. Ketakutan tidak perlu lagi disangkal. Jikapun harus bersedih, kita sudah bisa lebih legawa menerima—jika tidak benar-benar menyambut—risiko dari dampak pandemi.

Juruselamat di Tengah-tengah Kita

Izinkan saya menamai kondisi tahun-tahun di masa pandemi sebagai sebuah rangkaian panjang dari dua konsep waktu. Ada dua konsep waktu yang saya pahami yang dalam istilah Latin disebut sebagai kronos dan kairos.

Kronos memandang waktu dalam urutan atau kronologi peristiwa. Jika diletakkan dalam kronologi, setidaknya kita bisa memaknai bahwa tahun 2020 ialah permulaan dari annus horribilis ‘tahun yang mengerikan” karena pagebluk yang menghantam kehidupan manusia sejagat. Lalu di awal tahun ini, kita perlu menggelorakan kerelaan pelayanan tanpa pamrih para nakes—yang malah bertaruh nyawa—sebagai momentum “penahbisan” 2021 sebagai annus compasionnis ‘tahun welas-asih’.

Hingga kapankah musim semangat belas-kasih itu perlu kita masifkan dalam laku yang konkret? Untuk menjawabnya, marilah menilik waktu sebagai kesatuan dalam proses kehidupan manusia menjalani kehidupannya. Inilah waktu kairos. Terkait usaha kita memutus penularan Covid-19, inilah masa-masa kita untuk menabur benih-benih belas-kasih.

Perayaan Natal nan sepi di tahun 2020 yang disambung masa liburan akhir tahun, menyediakan kesempatan terbaik untuk kita berefleksi. Putra Allah yang kelahiran-Nya telah dinubuatkan ribuan tahun lalu menjelma dalam rupa Bayi Mungil yang bersolider dengan kita, memeluk kelemahan manusiawi kita.

Keindahan Natal pun berganti, bukan lagi ditonjolkan oleh kelap-kelip pohon Natal berhias gantungan warna-warni, libur atau cuti panjang dari pekerjaan, dan perjalanan berwisata. Kesunyian dalam kecemasan menyentuh perhatian kita untuk memalingkan diri pada dukacita semesta. Alam bumi yang kian tergerus oleh keserakahan manusia lantas terdera pula dengan derita manusia yang terkena Covid-19.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Seperti tertuang dalam ayat tersebut, kelahiran Yesus Sang Juruselamat menjadi tanda kasih sekaligus misi Allah merangkul manusia untuk masuk dalam bahtera keselamatan. Kelahiran-Nya untuk memberikan anugerah cuma-cuma bagi manusia seakan terasa nyata dalam kehadiran orang kecil dalam garda terdepan penanganan Covid-19. Dia yang tak memandang diri-Nya menyambut jalan salib hingga maut di Puncak Golgota.

Petugas kesehatan yang tabah merawat warga yang sakit terjangkit virus memantulkan pengorbanan dan solidaritas Yesus yang hadir setara dengan kita manusia. Angka 523 sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kerelaan berkorban nakes.

Tidakkah semangat yang sama menjiwai tingkah-laku kita berbelas-kasih secara konkret?


“Pribadi Resolusi”

Sembari usaha pemerintah mempersiapkan vaksinasi Covid-19, apa yang perlu dilakukan oleh masing-masing kita? Barangkali bagi yang bukan petugas medis, kita bisa mengembangkan semangat solidaritas untuk meringankan beban nakes, juga turut mempercepat penanganan wabah Covid-19.

Sebagai kelanjutan dari waktu sebagai rangkaian proses hidup, kita dapat mengandaikan 2022 sebagai tahun mukjizat ‘annus mirabilis yang sudah pulih dari pandemi.

Segala rupa kegelisahan dan ketakutan yang bersanding dengan keberanian, perlawanan, dan pengorbanan pada 2020 akan berlanjut pada tahun belas-kasih 2021. Dengan terus-menerus menyapa sesama yang memerlukan pertolongan, kita bisa membayangkan 2022—semakin cepat tentu semakin pantas—sebagai semacam “Tanah Terjanji”. Ia adalah tahun mukjizat dalam kondisi hidup yang normal kembali. Kita semua dapat beraktivitas dengan tenang, damai, dan lancar seperti sedia kala.

Menyitir prinsip protokol kesehatan, kita dapat menerapkan “3M” secara tekun di tahun yang baru.

M pertama ialah “mencuci tangan” dari pola laku lama yang cenderung hedonis dan lebih mengutamakan keperluan pribadi (egoisme). Seperti dicontohkan para nakes yang mengorbankan waktu, niat, dan tenaga, kita diundang lebih mematuhi cara hidup yang baru dengan berbelarasa dan berbelas-kasih kepada yang berkekurangan dan menderita. Sebagai contoh, kita dapat berbagi kepedulian terutama kepada mereka yang terpinggirkan dan terdampak secara ekonomi akibat virus Corona.

M kedua ialah “memakai masker” untuk menutupi tuturan berlebih dan sia-sia dari mulut kita. Sebaliknya, kita perlu lebih banyak dan lebih cermat untuk mendengarkan. Laku perbaikan diri ini sebaiknya disokong dengan keterbukaan menampung masukan, saran, ataupun kritik dari orangtua dan orang terdekat lainnya.

Memakai masker di sini juga bermakna menyaring pendengaran dari ucapan pihak lain hingga menemukan kebenaran. Sebab kebenaran yang disampaikan tanpa sikap kasih yang tepat malah berpeluang menyesatkan. Menyimak dengan jeli beragam informasi dan berita dari potensi hoaks atau sekadar obrolan simpang-siur adalah salah satu contohnya.

M ketiga, akhirnya, ialah bersikap lebih “menjaga jarak” dari kecenderungan lalai dan alpa. Jika selama ini kita kerap membicarakan orang lain di belakang—penggosip gratisan—beranikah menegur sesama secara langsung dan empat mata? Namun, alih-alih menggurui, apakah kita sudah lebih dulu bertanya ke dalam diri: adakah seekor gajah hinggap di pelupuk mata kita sendiri?

Alih-alih menjaga jarak fisik dengan sesama, kita perlu tetap membangun “komunikasi hati” satu sama lain. Di sinilah semangat tahun belas-kasih menemukan relevansinya. Hati yang rentan menjadi sunyi atau kesepian karena antarpribadi menjauh dari pertemuan tatap-muka mesti disangga komunikasi alternatif memanfaatkan ragam media komunikasi digital.

Dengan begitu, bukan hanya diri kita masing-masing bisa bertahan hidup, melainkan juga memperkuat kepedulian dalam jejaring sosial. Kita menumbuhkan rasa peka terhadap kebutuhan, kegembiraan, dan kesusahan orang lain.

Mari menerima tahun baru 2021 dalam semangat kasih yang konkret, jujur, dan giat. Maukah kita memperjuangkan hingga nanti kita tiba di “Tanah Terjanji”? Sebuah tempat mana kala menempatkan kita dalam “tahun mukjizat” yang penuh sukacita terlepas dari ketakutan pandemi Covid-19? Semoga kita pun nanti tak lagi cemas untuk kembali berbagi dalam rupa raga, suara, dan perilaku yang lebih ceria dan bahagia.

Jurnalis, penulis, dan pekerja kreatif, tinggal di Jakarta

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.