Pandemi Covid-19, Bagaimana Umat Kristiani Mambangun Kekuatan dan Harapan?

Apakah pandemi ini adalah rencana Allah? Bagaimana kita memaknai pandemi ini dan semua penderitaan yang menyertainya?

0 36

Katolikana.com – Berada di batas hidup dan mati itu terjadi pada bulan September 2020. Prasetyo Nurhardjanto harus dirawat selama 12 hari di sebuah rumah sakit di Jakarta. Virus itu ikut menghinggapinya saat menjalankan tugas sebagai Koordinator Bidang Pelatihan Satgas Covid-19.

Sungguh sebuah kondisi yang tidak mudah. Saat merasakan kesakitan dan sesak nafas, rasa malu, tidak bisa menerima kenyataan, dan merasa dijauhi juga menjadi bagian dari hari-harinya sebagai pasien terinfeksi Corona.

Bagi Prasetyo, pengalaman sakit Covid-19 itu sudah cukup untuk bernazar akan mendonorkan plasma darahnya, setelah ia sembuh. Dan ia benar-benar melakukannya, bahkan hingga berkali-kali. Bahkan, Prasetyo tetap melanjutkan tugasnya sebagai relawan Satgas Covid-19.

“Ketika saya memilih kesempatan, saya akan mengambil peran di situ” ujar Prasetyo, saat sharing pengalamannya dalam forum diskusi ‘Membangun Optimisme dan Harapan’ yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Katolik, 5 Februari 2021.

“Situasi pandemi ini harus bisa dihadapi secara bersama-sama, melakukan peran yang apa kita bisa,” ujar Prasetyo Nurhardjanto.

Prasetyo menuturkan sejak awal pandemi di Indonesia hingga akhir 2020, ada 32.000 lebih orang yang telah mendaftarkan diri menjadi relawan Covid-19. Mereka dari berbagai lapisan masyarakat yang terpanggil, bermacam-macam latar belakang dan profesi. Ada ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan dan lain sebagainya.

 

Suster-suster dari Komunitas St. Theresia Halilulik, NTT siap turun aksi solidaritas lawan Covid-19. Foto: Komunitas St. Theresia Halilulik.

 

Manusia Diberi Kebebasan

Forum diskusi yang terbuka untuk umum ini sebenarnya lebih bertujuan untuk membahas harapan dan optimisme umat Kristiani dalam menghadapi pandemi. Apakah pandemi ini adalah rencana Allah? Bagaimana kita memaknai pandemi ini dan semua penderitaan yang menyertainya? Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko OFM, Uskup Pangkal Pinang, mencoba menjawabnya disini.

Mgr. Sunarko mengatakan bahwa tidak ada hal lain dalam rancangan Tuhan kepada manusia selain keselamatan. Ini adalah iman kita. Beriman adalah memilih pandangan hidup tertentu, yang kemudian didasarkan pada realitas, moral dan cara hidup. Ada beberapa dasar yang menjadi alasan kita untuk berharap, yaitu, mengingat sifat utama Allah adalah kasih.

“Pengalaman konkrit dikasihi, baik dahulu maupun sekarang, bisa memelihara harapan,” kata Mgr. Sunarko.

Ia mengungkapkan lebih dalam, bahwa Allah berinisiatif dan terlibat membangun relasi dengan manusia terus menerus. Hal ini dibuktikan dengan kisah Abraham, perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir. Jika dulu Allah sebegitu eratnya berelasi dengan manusia, maka saat ini pun masih demikian.

Baginya, situasi pandemi ini mengingatkan mengenai rencana Allah untuk manusia adalah keselamatan. Meskipun Allah menghormati kebebasan manusia, Dia juga mengajak seluruh manusia untuk terlibat dalam karya keselamatan tersebut.

Kepedulian adalah Kekuatan

Filosofi yang diuraikan oleh Mgr. Sunarko diperkuat oleh Romo Antonius Widyiarsono, SJ, yang juga menjadi narasumber dalam fokus ISKA ini. Romo Widi, sapaan akrabnya, mengatakan pandemi adalah bagian dari masalah kita sebagai manusia, seperti halnya masalah-masalah yang lain. “Kehilangan harapan dan putus asa juga adalah bagian dari kehidupan kita,” ujarnya.

Romo Widi menuturkan sebelum pandemi, kesedihan dan putus asa juga sudah sering kita temukan atau bahkan rasakan. Namun jika dipandang dengan kacamata iman, masih ada solidaritas dan iman diantara kita. Para medis, relawan Satgas Covid-19 dan masih banyak lagi masyarakat yang ambil peran dalam pelayanan kepada masyarakat yang terdampak pandemi. Padahal, sebenarnya mereka juga termasuk sebagai korban yang terkena dampak pandemi ini.

Hal itu tidak menyurutkan mereka untuk terus bergerak melayani. Pengadaan vaksin dan gerakan nasional donor plasma konvalesen yang dilakukan pemerintah juga menunjukkan bahwa kita masih maju bersama. Optimisme dan gotong royong masih identik dengan bangsa ini.

“Itu kenyataan, tapi tidak menyurutkan kita untuk tetap melayani. Karena sederhana saja, kalau tidak kita, siapa lagi yang akan melayani orang-orang yang sedang sakit ini,” kata Romo Antonius Widyiarsono, SJ.

Di sinilah letak kebebasan yang diberikan Allah kepada kita. Dan, di sinilah harapan itu muncul. Jika kita peduli satu sama lain, maka kepedulian itulah yang menjadi kekuatan kita untuk menghadapi dan mengatasi segala masalah yang ada.

Laporan Kontributor : Lusiana Hutabarat

Penulis: Lusiana Hutabarat

Editor: Basilius Triharyanto

 

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.