Menjadi Hamba Allah yang Setia

Yesus adalah pribadi yang memungut kembali orang-orang yang telah dibuang masyarakat.

0 105

Katolikana.com—Setahun lebih kita dikepung pandemi Covid-19. Tiap hari kita dengar tangisan kehilangan, putus harapan, kekhawatiran, ketidakpastian, dan kesulitan-kesulitan lain. Tak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir.

Banyak hal telah berubah, termasuk cara kita beribadah, bekerja, belajar, dan bermain. Pandemi membawa kita ke dalam perubahan yang cepat, sekaligus menempatkan kita pada ruang yang tidak pasti.

Bagi umat Kristiani, suasana Pekan Suci tahun ini kurang lebih sama dengan tahun lalu. Bedanya, harapan akan hari depan yang lebih baik, kini mulai menguat.

Program vaksinasi yang tengah gencar dilakukan di seluruh dunia membuat kita yakin bahwa situasi lebih baik itu kian dekat. Cahaya mulai merekah.

Sang Hamba Allah

Selama Pekan Suci, umat Kristiani merefleksikan kembali Kisah Sengsara Yesus Kristus, Sang Juruselamat manusia.

Nabi Yesaya menggambarkan Yesus sebagai sosok hamba Allah. Hamba yang membiarkan diri-Nya disiksa demi ketaatan-Nya kepada Bapa dan cinta-Nya manusia.

Sosok Yesus ditampilkan sebagai hamba yang mau menderita dan disiksa demi manusia. Di sini terkandung makna yang begitu mendalam, bahwa kasih Allah pada manusia tak terbatas, menembus ruang dan waktu.

Itulah kasih yang abadi dan kasih ideal: mau berkorban demi orang yang dicintai secara total.

Dennis McBride dalam buku Apa Kata Mereka Tentang Yesus (1996) menulis, “Yesus adalah pribadi yang memungut kembali orang-orang yang telah dibuang masyarakat. Ia membuat mereka mengenali harga dirinya”.

Kebenaran itu nyata dalam diri Zakheus si pemungut cukai, wanita yang kedapatan berzina, dan banyak lagi orang-orang terbuang yang dirangkul Yesus.

Di sana tergambar dengan jelas betapa Yesus hadir, menerima setiap orang, apa pun latar belakang, sejarah, dan kedosaannya.

Bagi Yesus, setiap manusia itu setara, berharga, dan pantas dicintai. Sikap inilah yang menyentuh banyak hati untuk mengikuti dan mencintai-Nya. Di dalam Dia, setiap manusia mengenali dan mendapatkan dirinya berharga dan bernilai.

Hari-hari ini kita merenungkan pengorbanan Yesus yang begitu mulia dan maha kasih. Peristiwa Salib merupakan peristiwa mengerikan karena kemanusiaan Allah terkoyak habis demi manusia. Namun, di situlah bukti cinta Allah pada manusia menjadi tak terbantahkan.

Sebelum pandemi, umat Katolik selalu berdoa bersama di gereja dan merenungkan pengorbanan dan cinta Yesus yang begitu dahsyat, dalam kekhusyukan lantunan doa, tangisan, dan air mata.

Semua orang berkumpul menghayati setiap menit dan detik, masuk kembali ke peristiwa salib 2.000 tahun lalu ketika Tuhan mengalami detik-detik yang berat, sakit, sepi, dan sendiri.

Pada masa pandemi kali ini, tak ada lagi kebersamaan di gereja. Meski demikian, dalam situasi sulit ini, arti pengorbanan Tuhan itu tak bisa direduksi.

Kita diundang merenungkan pembuktian cinta-Nya bagi kita secara personal. Kita diundang masuk ke dalam diri, dalam suasana hening, sepi, sendiri, dan merenung secara pribadi. Inilah waktu mengenali diri dan Tuhan secara lebih dekat, akrab, dan intim.

Memang, masuk ke dalam permenungan itu tak mudah. Justru di situlah bukti ketulusan dan totalitas cinta kita hadir, ada, dan bersama-Nya. Dia telah memberikan teladan mulia bagi kita: memilih jalan hening, sepi, berat, menyakitkan.

Mereka dan Aku

Barangkali kita akan merasa kesal mendengarkan bacaan tentang Yudas yang menjual Tuhan, Petrus yang menyangkal, dan murid lain yang meninggalkan Tuhan ketika salib makin mendekat dan penderitaan makin tak berjarak.

Rasa kesal, marah, atau kecewa itu wajar. Makin kita mencintai Tuhan, kita akan makin kecewa bila ada orang yang menghina dan menyiksa-Nya. Namun, apakah aku lebih baik dari mereka, atau sama saja?

Mungkin, cara kita menyangkal atau mengkhianati-Nya tidak persis sama dengan para murid. Namun, isinya bisa sama.

Jawaban, “Bukan aku Tuhan!” dari Yudas menunjukkan sisi kemanusiaan yang sering menghindar dari tanggung jawab, cuci tangan atas masalah, merasa benar sendiri, menolak mengakui kerapuhan, dan lain-lain.

Tidak adanya keharmonisan antara iman dan hidup keseharian kita, tampak dari: ketidakpatuhan pada protokol kesehatan, sikap ingat diri yang berlebihan, tak peduli terhadap orang lain, suka melempar tanggung jawab, tidak setiap pada tugas, enggan mengakui kesalahan, dan lain-lain.

Pada malam perjamuan terakhir, Petrus begitu lantang berseru akan mengikuti Tuhan, menaati segalanya dengan sebaik-baiknya dan akan setia bersama-Nya.

Faktanya, seperti Petrus, kita sering takluk pada kerapuhan manusiawi, menyangkal, dan lari. Akibatnya, banyak orang merasa kecewa, sedih, tersiksa, ditinggalkan, terluka, dan menderita.

Di titik ini kita diundang untuk merenung: jika kita tidak bisa menjadi Simon dari Kirene, setidaknya kita tidak menjadi algojo dan manusia tanpa hati bagi orang lain.

Menjadi Hamba Allah

Kita manusia rapuh sekaligus dicintai, rapuh sekaligus terberkati. Kita hidup dalam dunia tak pasti.

Kita diajak untuk kembali mengarahkan diri pada guru dan teladan kita. Yesus adalah Allah yang inkarnatoris: Ia masuk, hadir, dan terlibat dalam dunia yang carut marut dan tak pasti, penuh intrik dan kepentingan diri, demi keselamatan dan kebaikan semua orang.

Kita diundang masuk, bergulat, dan memperjuangkan kebaikan bersama Tuhan di tengah dunia yang tak pasti.

Kita diajak meneladani hamba Allah seperti yang dilukiskan Nabi Yesaya: menjadi hamba yang setia, bertanggung jawab, dan total, meski harus menjalani proses yang tak mudah, yang selalu berada dalam ketegangan realitas yang ideal dan tak ideal.

Kita adalah manusia yang tak sempurna dan rapuh. Tapi kita punya kehendak bebas untuk memilih mau berpikir, merasa, dan berkehendak seperti apa.

Dalam keterbatasan, ada kebebasan. Dengan kebebasan itu, kita berani hidup dalam niat hati yang tulus dan mengarahkan segala pada-Nya. Apabila gagal, jatuh, dan terpuruk, mari bangkit lagi.

Wilhelmus van der Weiden, dalam Setia Kendati Lemah (2011) menuliskan bahwa tokoh-tokoh pendahulu kita, seperti Abraham, Musa, dan sebagainya pun mengalami dinamika seperti kita. Mereka kadang kala lemah, patah semangat, kecil, tetapi lama-kelamaan setia.

Mari terus belajar setia, kendati lemah. Ketika sedang galau, susah, sedih, putusa asa, berserulah seperti Santo Alfonsus Rodriguez, “Tuhan, tunjukkanlah cara-cara-Mu”.[]

Mahasiswa STF Driyarkara Jakarta

Leave A Reply

Your email address will not be published.