Romo F.X Murti Hadi, SJ: Memangnya Film Katolik Itu Ada?

Karya Film Tidak Pernah Didasari Atas Nama Agama

0 92

Katolikana.comFilm yang mengangkat cerita tentang ‘Katolik’ justru secara tidak langsung terlihat dari nilai-nilai universal yang ditonjolkan seperti kasih, kemanusiaan, kepedulian, dan masih banyak lagi.

Bagi kebanyakan orang, film adalah gambar hidup yang bercerita serta bisa menjadi sarana hiburan. Dalam rangka Hari Film Nasional, Katolikana berkesempatan mewawancarai Romo F.X Murti Hadi, SJ. via Zoom, Selasa (30/3/2021) lalu.

Romo Murti adalah pastur kelahiran Magelang yang kini berkarya di Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta dan pernah menjadi produser film Soegija.

Awal Mula Terjun ke Dunia Audio Visual

Romo Murti menceritakan awal mulanya terjun ke dunia audio visual dengan mulai bekerja di Puskat selama 22 tahun, mulai dari tahun 1998 hingga saat ini. Di tahun 2012, untuk pertama kalinya Romo Murti menggarap film layar lebar berjudul “Soegija”.

Saat itu Romo Murti bertindak sebagai produser dengan menggandeng SAV Puskat dan sutradara kawakan asal Yogyakarta, Garin Nugroho.

Namun, sebelum menggarap film Soegija, Romo Murti mengatakan bahwa dirinya lebih banyak menggarap film-film dokumenter yang bekerjasama dengan para LSM, pemerintah, atau gereja daripada membuat film yang bertema Katolik.

“Saya malah jarang membuat film tentang Katolik. Karena bekerja sama dengan pemerintah, maka film dokumenter yang sering saya buat tentang gunung-gunung di Indonesia. Saya sudah tiga kali menyutradarai film tentang Merapi,” ujar Romo Murti.

Selain memproduksi film dokumenter tentang Merapi, Romo Murti juga pernah membuat film terkait dengan pasca terjadinya tsunami di Aceh tahun 2004, bekerja sama dengan LSM dari Amerika.

Fokus dari film tersebut berada pada rekonsiliasi konflik, kecurigaan terhadap orang-orang asing yang akan rekonsiliasi pada waktu itu.

Tahun 2015, Romo mengambil cuti untuk melanjutkan pendidikan S2 Perfilman  di Paris dan selesai tahun 2017.

Setelah kembali dari Paris, Komsos KWI meminta bantuan kepada Romo Murti untuk memberi training membuat film dengan memanfaatkan media sosial kepada orang muda katolik se-Indonesia.

Poster filmThe Passion of the Christf/Foto: imdb.com

Pandangan Romo Murti Terhadap Film ‘Katolik’

Mungkin Anda sempat berpikir bahwa ada yang namanya film bertema Katolik. Namun ternyata sebenarnya para pelaku industri film jarang membuat konsep atas nama agama.

Film-film internasional memang cukup banyak mengangkat mengenai kisah-kisah Yesus dan kekatolikan.

Romo Murti mengungkapkan bahwa cerita tentang kisah Yesus memang dilihat menarik karena terdapat konflik dan drama. Cerita Yesus merupakan legenda yang selalu mengangkat mengenai penyelamatan namun selalu ada gangguannya.

Kisah Yesus menarik untuk dijadikan sebuah film, namun memang bukan atas nama agama karena justru yang memproduksi film tersebut adalah orang-orang sekuler.

Sedangkan film bertema Katolik lebih tampak dari hasil produksi orang-orang Gereja, seperti Komsos dan OMK.

“Jadi film-film OMK, film-film yang atas nama gereja, itu menurut saya belum film yang bercerita. Tetapi orang harus sarat dengan khotbah, sarat dengan nilai yang diomongkan. Jadi kepentingannya bukan cerita tapi berkhotbah,” ungkap Romo Murti.

Romo Murti menambahkan, “Film yang bagus dikemas dengan cerita yang bagus biasanya dibuat orang-orang seniman yang awam, atau mungkin bukan beragama Katolik.”

Film Bertemakan Hukum Katolik
Membahas mengenai film yang mengambil cerita dari hukum Katolik secara eksplisit memang masih jarang diangkat. Namun, nilai-nilai Kristiani lah yang coba untuk disisipkan dalam sebuah film, sehingga ceritanya dibuat rasional dan terdapat nilai-nilai tersirat dari adegan maupun dialog.

Romo Murti menambahkan, orang Katolik merupakan kelompok minoritas di Indonesia. Sehingga tidak mungkin melakukan khotbah secara langsung melalui sebuah film. Namun justru mengemas alur cerita dengan memunculkan nilai-nilai seperti kejujuran, kasih, dan lain-lain.

Kemudian biasanya nuansa Katolik juga sering ditampilkan melalui simbol-simbol seperti salib, keluarga Katolik yang pergi ke Gereja, dan peduli terhadap sesama.

“Menurut saya, film Katolik dalam arti sebenarnya ya film tentang Tuhan Yesus, karena ‘memindahkan’ kitab suci ke dalam film,” ujar Romo Murti sebagai pembuat dan pengamat film.

Film Sebagai Pembawa Nilai

Romo Murti juga memandang film sebagai sarana atau media untuk menanamkan nilai-nilai melalui cerita dan emosi yang diperankan oleh para pemain.

“Nilai itu bisa nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan agama. Jadi, film adalah values carrier atau pembawa nilai. Ya, caranya itu melalui emosi,” tegas Romo Murti.

Sebuah karya film tidak dapat dimungkiri sering kali membuat para penontonnya terusik akan alur ceritanya dan kemudian akan menimbulkan diskusi kecil setelah menonton film.

Menurut Romo Murti, film yang tidak menyentuh malah kurang berkesan. Justru karya film yang bagus adalah yang tidak hanya berhenti di layar melainkan menimbulkan diskusi dan refleksi.

Film Sebagai Pengajaran

Lusiana Surya Widiani dkk dalam satu artikel mengungkapkan bahwa film dapat dijadikan sebagai alat komunikasi yang dapat membantu proses belajar mengajar yang efektif. Apa yang dilihat dan didengar melalui sebuah film dapat lebih mudah diingat, daripada harus membaca.

“Lewat film siswa dilatih untuk mengambil poin-poin penting yang berada dalam isi pokok sebuah film dan mampu mengolah informasi yang telah didapat,” tulis Widiani, dkk tentang manfaat film sebagai media pembelajaran.

Namun, di era Internet saat ini, film bajakan sangat mudah didapatkan karena tersebar di berbagai situs yang ada di Internet.

Romo Murti menjelaskan bahwa saat ini orang-orang sudah tidak ada lagi yang berteriak mengenai pembajakan film karena situasinya pembuat film ingin filmnya ditonton oleh banyak orang.

Lalu, apakah boleh menonton film melalui kanal YouTube misalnya untuk kepentingan pengajaran atau diskusi?

“Selama hanya digunakan hanya untuk kepentingan diskusi dan tidak ada kepentingan komersial atau mencari keuntungan, seharusnya tidak menjadi masalah. Biasanya si pembuat film akan senang karena filmnya digunakan untuk belajar,” ungkap Romo Murti.

Harapan Terhadap Industri Film ‘Katolik’

Produksi film-film di Indonesia kini cukup booming dan bagus karena banyak sutradara dan penulis naskah yang hebat. Cara berceritanya pun hampir mirip dengan karya film kelas internasional.

Romo Murti berharap bahwa sebaiknya film-film tidak secara langsung berkhotbah. Sebaiknya belajar dari para pembuat film sekuler supaya nilai-nilai dalam film tidak terlalu agamis. Melainkan ada nilai-nilai universal dalam film tersebut yang bisa dinikmati oleh semua orang tanpa harus mengkotak-kotakan agama.

“Kalau semakin tidak kentara jelas katolik malah semakin bagus menurut saya,” tegas Romo Murti.

Kontributor: Maria Nariswari, Laurencia Eprina Dian, Kevin Aditya (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.