Media Perlu Dilihat Sebagai Ladang yang Mesti Digarap Secara Serius

Mathias Haryadi: “Menulis mesti ada keberanian untuk memulai, mesti ada ambisi.”

0 103

Katolikana.com—Keberadaan media saat ini sangat penting bagi Gereja Katolik. Lewat perkembangan teknologi, Gereja Katolik mesti ambil bagian di dalamnya demi tersalurnya pewartaan Kerajaan Allah.

Kaum beriman Kristiani diminta untuk menulis sesuatu di media agar misi Gereja Katolik untuk mewartakan kebenaran dan kebaikan dapat terwujud.

Dengan menulis berdasarkan misi sebagai orang Katolik, yakni mewartakan kebenaran, kita bisa membentuk opini publik. Dengan itu, tulisan kita dapat memengaruhi umat lain yang saat ini mudah termakan berita bohong.

Hal ini ditegaskan oleh Founder CEO Sesawi.net dan wartawan Asia News Mathias Haryadi dalam diskusi bertajuk ‘Menulis Artikel untuk Media Katolik’, Sabtu (8/5/2021).

Diskusi via Zoom ini diselenggarakan oleh Komisi Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk memeriahkah Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 yang jatuh pada 16 Mei 2021. Diskusi dipandu oleh Anggota Badan Pengurus Komisi Komsos KWI Agung Nugroho.

Menulis Perlu Ambisi

Mathias menegaskan, dalam menulis mesti ada keberanian untuk memulai, mesti ada ambisi. Sebab, ambisi adalah sebuah energi batin yang sangat positif. Jika tidak ada ambisi, impian kita untuk menjadi penulis tidak akan terwujud.

Menurut Mathias, ambisi adalah kehendak yang sangat kuat; ibarat ‘mesin penggerak’ untuk hidup lebih baik, maju dan berkembang.

“Dalam bahasa Henry Bergson, ambisi itu bagaikan sebuah elan vital—mesin jet—di lubuk emosi yang mendorong kemauan kuat untuk mau maju, ‘tidak terima’ dengan kondisi waktu itu,” tandas mantan wartawan Kompas tahun 1995-2002 ini.

Sesuai Marwah dan Moralitas

Meski demikian, menurut Mathias, ambisi kita sebagai orang Katolik untuk menulis mesti sesuai dengan marwah dan moralitas orang beriman. Sebab, tulisan memiliki kekuatan yang luar biasa yang dapat memengaruhi orang lain.

“Moralitas berbahasa dan moralitas komunikasi mesti dijunjung tinggi dalam menulis, yakni dengan mewartakan kebenaran dan kebaikan. Dengan itu, tulisan kita dapat memengaruhi orang lain dengan buah-buah kebenaran dan kebaikan,” ujar Mathias.

Mengutip Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 tahun 2021, Mathias menegaskan bahwa kebenaran dan kebaikan itu bisa dicapai ketika seseorang melihat langsung peristiwa itu sendiri atau melakukan verifikasi langsung lewat orang-orang yang dikenal atau yang ada di tempat kejadian.

“Tulisan yang dibuat akan menjadi benar dan baik apabila kita melihat sendiri peristiwa tersebut di mana emosi kita tercurah ke dalam peristiwa. Dengan datang ke lokasi, dengan turun langsung ke lapangan, peristiwa itu akan membentuk cakrawala dan emosi kita,” papar Mathias.

Di tengah arus zaman yang ditandai dengan budaya instan, tak dapat dimungkiri, fenomena copy-paste dalam tulisan mulai menjamur.

Mathias mengingatkan agar penulis Katolik agar tidak mudah terjerumus ke dalamnya. Hal ini beralasan, menulis itu kerja intelektual, sebuah pekerjaan sulit yang tidak bisa sekali jadi. Setiap orang mesti mulai sedikit demi sedikit; mesti mulai dari ‘nol’.

Tulisan juga, lanjut Mathias, tidak boleh mengawang-awang. Tulisan mesti riil dan menggunakan gaya bahasa sederhana. “Makin bahasa itu sederhana, makin orang lain paham dan mengerti tulisan kita dengan baik.”

Tantangan Media Katolik

Kehadiran media saat ini mesti dilihat sebagai ladang yang mesti digarap secara serius. Meski demikian, media umum dan media Katolik memiliki perbedaan visi dan misi.

Media umum dikategorikan sebagai industri media di mana pengejaran profit lewat iklan menjadi penting (profit making business), sementara ada beberapa media Katolik dibangun secara sukarela dan tidak dikategorikan dalam media profit. Pertanyaannya, apakah media Katolik tersebut mampu bertahan dalam situasi ini?

“Ada beberapa media Katolik yang biasanya ambigu: maunya misi suci (pewartaan), tetapi ada bisnis di dalamnya. Artinya, mencari sumber finansial agar kegiatan produksi berita dapat berjalan lancar, seperti donasi dan kapling iklan,” ujar Mathias.

Meski demikian, lanjut Mathias, ada beberapa media Katolik yang melawan tendensi itu dan berani tampil ‘beda’.

“Ini dikarenakan by nature-nya adalah non-komersial. Contohnya Sesawi.net, asianews.it, fides.org, dapat diakses secara bebas.”

Sebuah opsi solutif yang ditawarkan Mathias ketika media Katolik dibangun dengan misi pewartaan Kerajaan Allah, tetapi tidak mengejar profit adalah komitmen.

Komitmen ini penting agar media tersebut dapat bertahan. Alasannya jelas, tidak ada ruang untuk iklan. Orang-orang yang bekerja di dalamnya mesti bekerja secara sukarela dan membiayai media itu secara sukarela pula. “Ini tantangan terbesar Media Katolik,” tegas Mathias. *

Alumnus STFK Ledalero, Maumere, Tinggal di Maumere

Leave A Reply

Your email address will not be published.