Lamro Sihotang, Relawan Guru Kristiani: Masyarakat Sudah Paham Perbedaan

Relawan guru Kristiani di sekolah yang didirikan santri

0 215

Katolikana.com – Program kelas multikultural SMK Bakti Karya Parigi adalah sebuah inisiatif yang digagas oleh santri-santri asal Pangandaran untuk memperkenalkan multikulturalisme. Uniknya, meski menerima siswa-siswi dari berbagai latar belakang, hampir semua gurunya beragama Islam. Akan tetapi, tersempil nama seorang non-Muslim di sana. Ia adalah Lamro Sihotang.

“Jangan panggil guru, Bung. Saya bukan guru tetap. Saya hanya relawan di sini,” begitulah ia memperkenalkan dirinya dengan merendah. Pria yang akrab disapa Bung Lamro ini telah mengabdikan dirinya sejak tahun 2018 di SMK Bakti Karya Parigi. Selama tiga tahun ini, ia telah mengambil peran menjadi pendamping siswa-siswi Kristiani di sekolah itu.

Pemuda kelahiran Lampung ini lebih suka dijuluki sebagai relawan pendamping karena ia tidak mengajar mata pelajaran agama. Ia menyebut perannya lebih sebagai “kakak iman” bagi siswa-siswi Kristiani di SMK Bakti Karya Parigi.

Pariwisata ke Pendidikan

Setahun setelah menuntaskan kuliah dari jurusan pariwisata di Universitas Pendidikan Indonesia, takdir membawa Lamro ke Pangandaran. Di sana, ia memperoleh pekerjaan tak jauh dari bidang yang ia tekuni di bangku kuliah, pariwisata.

Meski demikian, nyatanya Lamro tak hanya mencukupkan diri datang ke Pangandaran untuk mencari uang. Lewat informasi dari kakak tingkatnya, ia mengetahui SMK Bakti Karya Parigi juga membuka lowongan untuk menjadi relawan.

Di rentang waktu yang hampir bersamaan, teman-temannya di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) juga mengajaknya untuk menyelangggarakan Peace Camp di SMK Bakti Karya Parigi karena ia menetap di Pangandaran. Siapa sangka, perkenalan awal melalui Peace Camp lantas mengantar Lamro berkiprah lebih jauh lagi di sekolah tersebut.

“Nah di sana (sekolah) kita ngobrol-ngobrol nih. Mereka (pengurus sekolah) bilang belum ada nih yang ngedampingin adik-adik Kristianinya,” cerita Lamro.

Bahkan ketua yayasan sendiri juga ikut memberikan tawaran tersebut. Oleh pihak yayasan, profil Lamro sebagai seorang Kristen dianggap dapat mendampingi siswa-siswi Kristiani di sekolah. Kehadiran Lamro juga mendukung upaya sekolah menghadirkan potret keberagaman di jajaran guru program kelas multikultural.

Tanpa pikir panjang, Lamro mengiyakan ajakan tersebut. Halangan jarak yang harus ia lalui dari tempat kerjanya ke asrama sekolah sekitar 60 menit sekali jalan tak terlalu ia persoalkan.

Akan tetapi, Lamro menyanggah jika datangnya tawaran ini dianggap sebagai kebetulan semata. “Kalau dalam kepercayaan saya nggak ada yang namanya kebetulan, Bung. Jadi pasti memang ada tujuan-Nya saya ditempatkan di situ,” katanya.

Maka setiap sore, selama lima hari dalam seminggu, ia rutin datang ke sekolah untuk mendampingi siswa-siswi Kristen dan Katolik beribadah bersama serta mendalami Alkitab. Kehadirannya sukses memberi warna baru di SMK Bakti Karya Parigi.

“Kalau Sabtu-Minggu mereka ibadah ke gereja kan. Sabtu itu temen-temen yang Katolik. Minggu itu temen-temen yang Protestan. Jadi saya ke sekolah Senin sampai Jumat,” kata Lamro.

“Saat temen-temen lainnya di asrama salat maghrib dan isya itu saya ajak mereka ibadah bareng, membaca Alkitab, mengenal tokoh-tokoh di Alkitab. Dan, puji Tuhan, mereka pun senang. Mereka sangat antusias,” tutur Lamro menceritakan rutinitasnya.

 

Siswa-siswi Kristiani di SMK Bakti Parigi sedang menggelar doa bersama di asrama/Foto: Lamro Sihotang

Menolak Jadi Guru Tetap

Lamro sendiri turut bahagia menyaksikan perkembangan siswa-siswi yang didampinginya. Ada siswa-siswi yang sebelumnya berperilaku cenderung temperamental dan tidak bisa mengontrol sikap ketika marah. Setelah ia dampingi, siswa-siswi tersebut berangsur-angsur sudah dapat mengendalikan perilakunya saat berinteraksi dengan orang lain.

Ia juga melihat siswa-siswi yang kurang memiliki pengetahuan agama perlahan-lahan jadi memiliki pengetahuan dasar tentang iman. “Bahkan ada yang tadinya nggak tahu kisah nabi ini, nabi itu, itu nggak tahu. Jadi emang nggak dapet (pengetahuan agama) di jenjang pendidikan sebelumnya,” ucap Lamro.

Namun, status keberadaan Lamro yang “hanya” sebagai relawan pendamping sebenarnya cukup dilematis. Di satu sisi, sekolah dituntut wajib memiliki guru agama tetap untuk memfasilitasi siswa-siswi yang ada di dalamnya. Di sisi lain, ada syarat administrasi dan birokrasi tertentu yang harus dilalui untuk mengangkat seseorang menjadi guru tetap.

Kepala sekolah SMK Bakti Karya Parigi bukannya tak pernah mendorong Lamro untuk mengurus persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi guru tetap. Akan tetapi, justru Lamro yang menolak. Ia merasa bisa bermanfaat lebih maksimal untuk mendampingi siswa-siswi dengan posisinya yang fleksibel seperti sekarang ini.

“Selama ini kan hambatannya ya jam kerja. Biasanya ketemu mereka (siswa-siswi) sekitar satu sampai satu setengah jam. Yang penting kalau dari saya udah diniatin mau habisin waktu lebih panjang lah kumpul dengan mereka. Jadi waktu belajar firman, tuh, lebih panjang. Sedang diatur semoga ke depannya bisa begitu,” harap Lamro.

 

Para pelajar Kristiani dalam sebuah kegiatan bersama didampingi Lamro Sihotang/Foto: Lamro Sihotang

 

Pengalaman Berharga

Masa pengabdian selama tiga tahun terakhir sebagai relawan pendamping di SMK Bakti Karya Parigi, diakui Lamro sebagai pengalaman berharga. Sebab ia dapat menjalin relasi baik dengan warga setempat yang seluruhnya berlatar belakang muslim. Ia merasa diterima dengan hangat. Ia juga menyebut sama sekali tidak ada penolaka dari warga atas kehadirannya sebagai relawan pendamping di sana.

Meskipun demikian, Lamro juga bercerita di awal-awal kedatangannya ke sekolah ia sengaja memutuskan tidak pernah singgah menginap. Hal ini dilakukannya untuk mengambil kepercayaan warga, agar warga tidak memiliki asumsi yang macam-macam terhadapnya.

“Jadi dulu arahan dari ketua yayasan memang bilang, “Bung Lamro kalau (kegiatan pendampingan) selesai malam, langsung pulang ya. Nggak bisa menginap dulu.” Itu di awal-awal begitu,” sebutnya.

Proses interaksi Lamro bersama warga pun berlangsung secara natural. Tiap kali datang ke sekolah, ia tak hanya menghabiskan waktunya guna mendampingi siswa-siswi Kristiani. Ia sempatkan pula untuk ngobrol santai dengan siswa-siswi yang Islam ataupun dengan warga sekitar.

Sekarang Lamro telah dikenal baik oleh warga. Sudah tak ada perkara semisal sesekali ia mesti bermalam di sekolah karena kemalaman. Soal hal ini, Lamro pun tak lupa mengapresiasi pandangan warga yang tidak lagi mempersoalkan keberagaman.

“Kalau sekarang masyarakat sudah sangat terbuka. Mereka sudah lebih memahami kalau perbedaan itu ya nggak harus dihindari lah. Nggak harus ditakuti,” pujinya.

*) Artikel ini adalah hasil kerja sama Katolikana dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI

Kontributor Katolikana.com di Jakarta. Alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada. Peneliti isu-isu sosial budaya dan urbanisme. Bisa disapa via Twitter @ageng_yudha

Leave A Reply

Your email address will not be published.