Pendeta Yerry Pattinasarany: Dulu Pecandu, Kini Pewarta

Bagi Yerry, sang ayah, Ronny Pattinasarany adalah pahlawan bagi dirinya dan keluarga.

0 1,298

Katolikana.com—Ingat legenda sepakbola Indonesia Ronny Pattinasarany? Ternyata, di balik segala prestasi yang diberikan Ronny kepada Indonesia, sang putera, Yerry Pattinasarany, hidupnya ‘berantakan’ akibat kecanduan narkoba.

Yerry Pattinasarany menjadi pecandu narkoba sejak kelas 1 Sekolah Menengah Pertama. Yerry mengungkapkan ayahnya pernah membelanya saat dituduh oleh satu sekolah telah mencuri barang di kelas.

Pendeta Yerry Pattinasarany: Dulu pecandu narkoba, kini pewarta sabda. Foto: Foto: galamedia.pikiran-rakyat.com

Yerry mengingat bahwa ayahnya berkata, “Yerry, kamu bukan maling. Kamu adalah anak papa. Angkat muka kamu!”

Kisah hidup Yerry bersama narkoba dimulai saat ia menjumpai seorang penjual minuman di sekolah. Saat itu penjual minuman tersebut menawarkan narkoba jenis nipam dan Yerry menerimanya.

Keesokan hari, keinginan Yerry untuk mencoba dan terjun ke dunia narkoba makin lebar dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan barang haram tersebut.

Padahal dalam kehidupan akademik, Yerry merupakan anak berbakat dan berprestasi di sekolahnya, seperti juara kelas dan selalu mendapat ranking.

Yerry memakai putaw dan terus kecanduan, bahkan menggunakannya sehari tiga kali.

“Di situ gua akhirnya adiksi dan terjebak dalam adiksi yang berdampak di sekolah. Bahkan gua sempat pindah sekolah SMP sebanyak dua kali, dan SMA sebanyak delapan kali,” ungkap Yerry dikutip dari kanal Youtube Daniel Mananta Network.

Masa sekolah Yerry hancur, hingga seluruh sekolah di Rayon Jakarta tidak ada yang mau menampungnya. Bahkan Yerry lulus sekolah di daerah Tegal.

Setelah menjalani kehidupan dengan narkoba, Yerry mulai merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya. Ternyata setelah ia bertanya pada teman-temannya, itu adalah gejala sakaw.

Yerry saat itu sudah menjual segala perabotan di kamar tidurnya, bahkan hingga tersisa sebuah kipas angin yang menemani tidurnya.

Di kelas 1 SMA, Yerry mulai mengaku kepada ayahnya, bahwa ia telah terlilit utang dan terjebak dalam adiksi narkoba.

Namun, saat itu yang menjadi kekaguman Yerry adalah ayahnya tidak menghujani dengan hukuman, tetapi malah membantunya untuk keluar dari jeratan barang haram tersebut.

Ayahnya saat itu tetap menemani untuk Yerry bisa lepas dari narkoba, tetapi Yerry akhirnya frustasi dan depresi bahkan pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Percobaan bunuh diri Yerry hampir berhasil. Namun, yang terjadi: setelah menenggak Baygon, ia hanya tidak sadar selama satu hari, lalu dia sadar dan merasa bahwa dirinya baik-baik saja.

Perjalanan bersama narkoba membuatnya luntang lantung dalam menjalani hidup, sampai pada akhirnya ia diterima di sebuah rumah milik pendeta. Pendeta tersebut mengkhususkan kamar anaknya untuk tempat tidur Yerry.

Di rumah pendeta tersebut ia membangun diri dan hidup kembali ke arah yang lebih baik di tahun 2005.

Setelah merasa dirinya sudah cukup baik, ia kembali pulang ke rumah keluarga.

Ia meminta maaf kepada keluarga dan memulihkan segala trauma yang dialami oleh adik yang biasa ia minta pinjam duit dari siapa pun, dan ibunya yang tiap kali mendengar suara motor selalu mengeluarkan keringat dingin.

Ada satu pelajaran penting yang diambil dari semasa perjalanannya bergelut dengan narkoba dan akhirnya bisa pulih.

“Jika gua cinta sama Tuhan, gua juga harus mencintai apa yang Tuhan cintai,” ungkap Yerry.

Pendeta Yerry Pattinasarany menjadi sorotan di dunia digital setelah sering muncul di konten Youtube bersama Coki Pardede dan Tretan Muslim.

Dalam  konten-konten itu, mereka berdiskusi mengenai toleransi umat beragama di Indonesia dan bagaimana menyikapi sesuatu yang dianggap kontroversial.

Pendeta Yerry, Biksu Zhuan Xiu, dan Habib Jafar. Foto: kurio.id

Perjuangan Melawan Stigma

Pendeta Yerry memahami bahwa masyarakat sering menganggap bahwa pecandu narkoba adalah orang tanpa masa depan dan hidupnya akan berakhir di rumah sakit atau penjara.

Sebagai bentuk apresiasi cintanya terhadap sang ayah dan melawan stigma di tengah masyarakat, Pendeta Yerry mendirikan yayasan anti narkoba yang diberi nama Ronny Pattinasarany Foundation.

Pendeta Yerry bersyukur kepada Tuhan karena ia masih diijinkan untuk hidup dan menggunakan masa lalunya untuk menolong dan menyelamatkan hidup banyak orang.

Tak hanya itu, Pendeta Yerry selalu memperjuangkan toleransi dan bergaul dengan tokoh-tokoh lintas agama, seperti biksu Zhuan Xiu dan Habib Jafar dalam berbagai channel Youtube.

Dalam pandangan Pendeta Yerry Pattinasarany, kegagalan megatasi stigma negatif tentang sesama yang berbeda, akan mempengaruhi masa depan bangsa.**

Kontributor: Grace Kezia, Viona Suryono, Cornelius Krisna, Zefanya Pilartiarso, Samuel Ivan (Universitas Atma Jaya Yogyakarta).

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.