Memutus Rantai Kekerasan, Mungkinkah?

Refleksi dari peristiwa Kamis Putih, prosesi penyaliban, hingga kebangkitan-Nya bisa membantu mengatasi berbagai bentuk kekerasan.

0 75

Katolikana.com—Peristiwa penyaliban Yesus sungguh kental akan peristiwa kekerasan. Derita dan pengorbanan yang dialami Yesus diakibatkan kekerasan manusia.

Dari Taman Getsemani hingga ke Bukit Golgota, selama perjalan itu, terlalu banyak kekerasan yang dialami Yesus.

Tak terhitung pukulan maupun cambuk yang mendarat ke tubuh Sang Guru, selain caci maki, hinaan sebagai kekerasan verbal, hingga meregang Ia nyawa di kayu Salib.

Meski jalan derita dan penuh kekerasan ini sangat menyiksa,Yesus tetap kuat menjalaninya.

Bahkan di puncak penderitaan-Nya, ia masih sempat memaafkan mereka yang bertindak kejam, termasuk mengampuni penjahat yang bertobat.

Kondisi Alami?

Adakah manusia lain dapat melakukan demikian ? Apakah manusia bisa lepas dari rantai kekerasan?

Kekerasan merupakan salah satu peristiwa dalam hidup manusia yang tidak pernah hilang.

Hampir setiap orang pernah mengalami atau menjadi pelaku kekerasan, baik secara fisik maupun secara verbal.

Ruth Klüger, seorang wanita yang selamat dari Kamp Konsentrasi Nazi mengatakan kekerasan menjadi kondisi alami yang melekat pada manusia. Kucing mencakar, anjing menggigit dan manusia membunuh (Reemstma, 2013).

Agustin Fuentes, seorang Profesor Antropologi, mengulas bahwa kekerasan atau agresi merupakan bagian dari bawaan setiap manusia.

Pembawaan (alami) ini hanya mampu dikendalikan dan dipegang oleh kemampuan intelegensi manusia dan sistem kebudayaannya, baik melalui hukum maupun norma sosial (Fuentes, 2017).

Kehadiran, intelegensi, dan sistem kebudayaan membuat bawaan alami menjadi pertimbangan dan awasan bagi naluri alami ini yang menyebabkan efek destruktif bagi manusia.

Manusia selalu punya potensi menjadi bintang buas yang siap melahap sesamanya (Hobbes, 1651).

Sejumlah peristiwa aktual mencerminkan bagaimana manusia yang telah kehilangan intelegensi pun sistem kebudayaan sebagai pengendali naluri kekerasan.

Pada level global, Rusia belum menghentikan invasinya ke Ukraina, meski banyak korban berjatuhan dan sejumlah pengungsi kehilangan rumah.

Di tanah air, kasus penganiayaan menimpa Ade Armando beserta ragam analisis ataupun konspirasi di baliknya.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT) ada sejumlah kasus kekerasan. Salah satunya, pembunuhan keji kepada wanita bernama Astrid dan Lael anaknya, di Kupang.

Masih ada kasus-kasus lain yang tidak diketahui atau yang diketahui dan didiamkan begitu saja.

Jika kekerasan begitu marak dan begitu bertubi-tubi pada manusia, apakah manusia sanggup hidup tanpa kekerasan? Adakah yang dapat memutuskan rantai kekerasan?

Ada sejumlah teori atau pendekatan untuk membahas hal ini, mulai dari telaah tentang teori konflik atau kajian-kajian manajemen konflik. Pembahasan dibuat untuk meminimalisir tindak agresi atau kekerasan.

Penderitaan Yesus menjadi jalan keselamatan, termasuk memutuskan berbagai tindakan kejahatan dan kekerasan di dunia ini.

Bercermin pada Yesus

Tindakan Yesus yang dengan rendah hati dan penuh cinta mencuci kaki para murid dan mengadakan perjamuan kasih pada malam Kamis Putih bisa menjadi cermin umat manusia bahwa kerendahan hati menjadi salah satu cara mengatasi atau memutuskan rantai kekerasan.

Kekerasan berpotensi timbul ketika banyak orang menjadi egois dan tinggi hati. Orang tidak memikirkan atau memandang orang lain sebagai sesamanya.

Peristiwa Holocaust oleh rezim Nazi di bawah Hitler menunjukan hal ini. Hitler membantai orang-orang Yahudi karena memandang mereka bukan sebagai manusia yang punya hak yang sama untuk hidup.

Tindakan memaafkan Yesus kepada mereka yang telah menyiksa dan menyalibkan Dia, menjadi contoh nyata bagaimana memutuskan rantai kekerasan.

Memaafkan sangat penting karena sebuah tindakan kekerasan berpotensi menimbulkan tindakan kekerasan lain.

Meskipun manusia sudah memasuki di era modern, prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi versi hukum Hamurabi kuno, tidak pernah samasekali meninggalkan manusia.

Balas dendam hampir menjadi efek yang selalu timbul ketika terjadi tindakan kekerasan.

Tindakan memaafkan menjadi cara ampuh untuk memutuskan rantai kekerasan. Yesus telah menunjukkan hal itu, bahkan di puncak penderitaannya sekalipun.

Leonardo Boff, dalam teologi keselamatannya (soteriologi), menguraikan bahwa penderitaan Yesus menjadi jalan keselamatan, termasuk memutuskan berbagai tindakan kejahatan dan kekerasan di dunia ini (Hidayat, 2016).

Kekerasan dan balas dendam muncul dari gelapnya hati dan kebutaan nurani manusia. Manusia tidak bisa lagi memilahkan dan melihat secara jernih akan akibat dari tindakan kekerasan.

Tindakan menyalakan lilin di Hari Sabtu suci menjadi tanda bahwa selalu diperlukan pertimbangan matang dan pikiran terang sebelum melakukan berbagai aksi untuk merespon tindakan kekerasan.

Bukan tidak mungkin, pikiran terang dan nurani jernih sangat ampuh untuk memutuskan keinginan untuk membalas dendam atas berbagai tindakan kekerasan.

Banyak pengalaman menunjukkan kekalutan pikiran dan gelapnya batin pun nurani, selalu mengantarkan manusia pada perang dan balas dendam.

Refleksi dari peristiwa Kamis Putih, prosesi penyaliban, hingga kebangkitan-Nya bisa membantu mengatasi berbagai bentuk kekerasan.

Apabila semua hal itu diupayakan dalam banyak lakon hidup, maka secara perlahan rantai kekerasan bisa diputuskan dalam sejarah umat manusia.

Meskipun terkesan ideal dan memantik sikap pesimis pada kapasitas dan ketidaksempuraan manusia, hal-hal itu bukan mustahil dilakukan.

Tindakan Paus Yohanes Paulus II yang memaafkan Mehmet Ali Agca walaupun telah menyarangkan empat peluru ke perut, tangah dan lengannya di Lapangan Vatikan pada 1981, bisa menjadi salah satu bukti bahwa hal itu bukan mustahil dibuat manusia (Kompas.com 15/02/22).

Kita berharap bahwa rantai kekerasan dalam bentuk apapun dan dilakukan oleh siapa pun bisa perlahan diputuskan dan dihapuskan.

Setelah semuanya itu, umat manusia bisa bangkit dalam semangat hidup yang baru, hidup yang penuh cinta dan kasih tanpa kekerasan.**

 

 

 

Pengajar STPM St Ursula, Ende

Leave A Reply

Your email address will not be published.