Jacques Fabre-Jeune, Uskup Kulit Hitam Pertama di Keuskupan Charleston

Fabre dilantik dan ditahbiskan sebagai uskup ke-14 di Keuskupan Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat.

0 280

Katolikana.com—Keuskupan Katolik Roma di Charleston, Carolina Selatan, Amerika Serikat memiliki Uskup baru berkulit hitam.

Gereja universal makin terwujud dengan pelantikan Jacques Fabre-Jeune sebagai uskup berkulit hitam pertama dalam sejarah 200 tahun Keuskupan Charleston, pertengahan Mei 2022 lalu.

Fabre berjalan di antara kerumunan dan mengangkat surat pengangkatan sebagai uskup baru oleh Paus Fransiskus.

Uskup Fabre saat Menunjukkan Surat Paus Fransiskus. Foto: The Post and Courier

Fabre dilantik dan ditahbiskan sebagai uskup ke-14 di Keuskupan Charleston. Ribuan orang berkumpul di Charleston Area Convention Center menyambut Fabre dengan bersorak dan merekam momen bersejarah tersebut.

“Seorang gembala yang penuh kasih yang meruntuhkan hambatan bahasa dan budaya. Fabre merupakan orang biasa dari Haiti yang ditunjuk menjadi uskup,” ujar Uskup Agung Atlanta Gregory Hartmayer, dilansir dari The Post and Courier.

Kerumunan umat kulit hitam, kulit putih dan Hispanik (orang Amerika keturunan negara-negara berbahasa Spanyol di Amerika Latin dan Spanyol) dengan berbagai budaya hadir dalam upacara tersebut.

Uskup Jacques Fabre-Jeune. Foto: WIS News 10

Selain itu, terdapat beberapa uskup Katolik dari berbagai belahan negara, pemimpin dari beberapa denominasi Protestan, pejabat terpilih negara bagian dan kota serta perwakilan komunitas Haiti Atlanta yang turut hadir.

Homily disampaikan oleh Uskup Agung Washington Wilton Kardinal Gregory. Kitab Suci dibacakan dalam bahasa Kreol dan Spanyol. Kardinal Gregory berpesan kepada Fabre untuk menjaga hati, seperti yang ia lakukan dalam kehidupan karirnya bagi mereka yang miskin secara materi dan spiritual.

“Sebagai uskup, tanggung jawab utama kami adalah menjaga semua ‘jiwa’ yang ada di keuskupan. Gambaran Yesus bagi banyak orang yang telah Tuhan tempatkan untuk saya, sehingga saya dapat melayani dengan tulus, rendah hati dan tentu saja dengan cinta,” ujar Fabre seperti dilansir dari Chatolic News Agency.

Direktur Office of Black Catholics and Native American Ministry Keuskupan Charleston Kathleen Merritt mengatakan, uskup baru kami telah memicu tidak hanya umat Katolik kulit hitam dan kaum minoritas lainnya, namun semua orang.

“Memiliki uskup kulit hitam dapat menumbuhkan banyak panggilan dalam komunitas kulit hitam, karena anak muda kita sekarang akan melihat dan meneladan seorang gembala yang mirip dengan mereka,” ujar Kathleen.

Umat Katolik Kulit Hitam. Foto: National Chatolic Reporter

Perjalanan Panggilan

Jacques Fabre-Jeune meyakini perjalanan karirnya sebagai misionaris dengan semangat Injil menjelajah budaya lain dapat menjadi aset dalam perannya sebagai uskup.

Dia juga berencana melayani dan mencintai semua orang tanpa memandang bahasa ataupun budaya yang mengacu pada Katolik yang universal.

Ibu Fabre, seorang pemimpin kelompok Legio Maria, menjadi pendorongnya untuk menanamkan cinta iman. Ia merasa terpanggil menjadi imamat di usia 11 tahun.

Sempat merasakan pudarnya panggilan di usia 16 tahun, Fabre menguatkannya kembali selama kuliah di Universitas St. John, New York, Amerika Serikat. Ia meneladan kehidupan imamat yang dikenal di New York, termasuk Kongregasi Roh Kudus.

Setelah lulus dari St. John, Fabre bergabung dengan Misionaris St. Charles Borromeo yang juga dikenal sebagai Scalabrinians.

Sebagai imigran, Fabre merasa dirinya terpanggil untuk melayani sesama imigran. Masa Novisiat dilakukan di Guadalajara, Meksiko. Kala itu, Fabre belajar bahasa Inggris, Spanyol, Kreol Haiti, Italia dan Prancis.

Setelah melalui perjalanan panjang, Fabre ditahbiskan menjadi imam tahun 1986 di Brooklyn, New York ketika berusia 30 tahun.

Sebagai tugas pertama, Fabre bekerja dengan banyak orang Haiti dan Hispanik, kemudian melayani pengungsi Haiti di Teluk Guantanamo tahun 1990-1991.

Ketika tiba di Georgia, Fabre menjabat sebagai vikaris dua paroki pada 2006. Selama 12 tahun, Fabre mengelola kongregasi Misión Católica San Felipe de Jesús di Forest Park, Georgia.

Infografis: Blanka Rahel

Black Chatolic

Panggilan Fabre mengingatkan kepada sejarah umat Katolik kulit hitam (Black Chatolic), di mana pada abad ke-18, terdapat orang-orang kulit hitam dan pengungsi dari Haiti yang datang sebagai budak.

Tahun 1820, Uskup John England menugaskan seorang imam untuk membangun gereja dan mengurus perkebunan untuk melayani umat Katolik kulit hitam.

Tahun 1980-an, umat Katolik kulit hitam di keuskupan mengalami penurunan dengan ditutupnya paroki, sekolah dan kesulitan lainnya yang menghambat. Namun, hingga saat ini, setidaknya masih terdapat lima paroki yang berdiri dan didominasi kulit hitam.

Beberapa umat Katolik berkulit hitam di Amerika Serikat masih mendapat perlakuan rasis. Di samping itu, banyak umat Katolik kulit hitam yang teguh menghidupi imannya dalam tindakan keadilan dan belas kasihan, namun belum banyak disorot atau didengar kalangan luas.

Dilansir dari National Chatolic Reporter, Pew Research Center menemukan hasil riset yang menjadi sorot utama terhadap umat Katolik berkulit hitam di Amerika Serikat.

Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat 3 juta umat Katolik berkulit hitam dan 75 persen di antaranya beribadah di Gereja yang umatnya multiras.

Riset tersebut mencatat hanya 25 persen umat Katolik kulit hitam yang beribadah di gereja khusus untuk umat berkulit hitam. Sebanyak 80 persen umat Katolik kulit putih beribadah di gereja yang umatnya juga berkulit putih dan 68 persen umat Kristen Protestan kulit hitam beribadah didominasi umat kulit hitam.

Sebagian besar umat Katolik kulit hitam beribadah di paroki tempat asalnya, di mana gereja tersebut tidak hanya dihadiri oleh umat berkulit hitam.

Gereja memiliki umat dari berbagai latar belakang budaya dan warna kulit yang beragam. Bila dibandingkan, hanya umat Katolik kulit hitam yang berpartisipasi di gereja-gereja yang lebih ‘universal’.

Gereja Katolik sejatinya adalah universal dengan kekuatan dari kebaikan, keadilan, iman, ketekunan dan pengabdian umatnya, tanpa memandang ras dan warna kulit.

Umat Katolik kulit putih, Hispanik, Vietnam, Filipina, kulit hitam dan lainnya. Bahkan tanpa pengabdian umat Katolik berkulit hitam, gereja universal akan terasa kosong atau tidak ada kehadiran atau suara penting.

Kontributor: Blanka Rahel Maretha Joanne (Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.