Eksistensi Guru Agama Katolik di Era 4.0

Kesaksian iman menjadi penting apalagi bagi kaum muda millennial.

0 79
Br. Stefanus Agus Faisal, FIC

Oleh Agus Faisal, mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Katolikana.com—Perubahan zaman di era digital melahirkan generasi milenial. Generasi ini akrab dengan gawai dan teknologi.

Bagi mereka dunia seakan-akan ada di genggaman. Betapa tidak saat ini semua bisa saling terkoneksi. Jagat media sosial menawarkan sejuta kenikmatan dan kemudahan.

Era digital menjadi tantangan dan peluang dalam katekese iman Katolik. Guru Agama Katolik ditantang untuk menggunakan perkembangan teknologi untuk mendukung pembelajaran.

Guru yang ketinggalan zaman akan ditinggalkan anak milenial, sebaliknya guru yang bisa memaksimalkan perkembangan itu akan membuat katekesenya menarik dan sesuai anak milenial.

Th. Groome mengajak agar mempunyai paradigma baru. Ia mengajak semua komponen mulai dari, pemimpin Gereja, Katekis, guru agama, orang tua, dan pembina komunitas di paroki-paroki saling bersinergi untuk berkatekese total.

Lebih lanjut Th. Groome mengatakan bahwa perkembangan iman ialah karya Roh Kudus, tetapi kita semua memiliki tanggungjawab untuk  perkembangan iman Umat termasuk kaum milenial (Rm. Heryatno. W. W. SJ: 1).

Pertanyaannya, apakah eksistensi Guru Agama masih relevan untuk zaman ini? Masih tertarikkah kaum milenial dengan katekese?

Guru Agama Katolik

Kehadiran Guru Agama Katolik menjadi saluran rahmat Allah untuk mewartakan Sabda-Nya. Allah menganugerahkan kepada mereka karunia untuk mengajar. Melalui kesaksian hidup mereka menjadi sarana Allah memberi pemahaman untuk bisa mengerti kehendak-Nya.

Zaman ini terdapat aneka tantangan dalam berkatekese. Kita patut bersyukur sense religion di Indonesia masih cukup terpelihara. Hanya saja perlu mendapat perhatian lebih, mengingat tantangan globalisasi masih membayangi kehidupan generasi emas Gereja dan Indonesia.

Guru Agama Katolik perlu membekali diri dengan aneka keterampilan, baik menyangkut keterampilan dasar keguruan, maupun keterampilan sebagai orang beriman Kristiani. Hal ini penting agar di tengah gempuran teknologi, iman tetap teguh.

Keterampilan Sebagai Guru

Teknologi ada untuk membantu manusia dekat dengan Allah dan sesamanya. Maka dibutuhkan inovasi dan kreativitas dalam menyajikan suatu katekese iman. Menurut Helmiyati (2013: 43) dasar mengajar yang harus dikuasai oleh guru antara lain:

  1. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.

Tujuan dari keterampilan membuka pembelajaran yaitu: mempersiapkan mental, fisik, psikis dan emosional siswa, memusatkan perhatian dan menarik minat siswa pada materi pelajaran, serta menciptakan suasana yang menyenangkan. Keterampilan menutup pembelajaran juga penting.

Pada tahap ini, guru dapat melakukan penguatan atas materi yang telah siswa pelajari. Perlu menjadi catatan di sini bahwa pembelajaran dapat menggunakan aneka metode, termasuk musik, video, permainan dan berbagai inovasi yang menimbulkan minat dan antusiasme anak-anak.

  1. Ketrampilan menjelaskan

Dengan orientasi dimaksudkan supaya penjelasan itu terarah atau menunjuk konteks dan maksud dari penjelasan yang disampaikan.

Bahasa yang sederhana dan jelas: kejelasan penjelasan dapat ditingkatkan dan didukung dengan penggunaan bahasa (dan suara) yang komunikatif dan mudah dimengerti.

Penggunaan Contoh/ Ilustrasi: pemahaman siswa terhadap konsep baru atau konsep yang sulit, dapat ditingkatkan dengan menghubungkan konsep tersebut dengan pengetahuan atau situasi yang telah diketahui siswa.

Struktur/Sistematika: agar penjelasan guru mudah ditangkap siswa, hendaknya tata susunan atau urutan langkah-langkah atau jalan pikiran ditunjukkan dengan jelas.

Variasi: guru harus pandai memikat perhatian siswa dengan menggunakan metode yang menarik dan tidak monoton.

Balikan: dengan menjelaskan, guru hendaknya memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman atau pun keraguannya (ketidakmengertiannya) ketika penjelasan itu berlangsung.

Keterampilan menjelaskan ini juga harus diimbangi dengan dinamika kelas yang kondusif. Tujuannya memberi ruang seluas-luasnya bagi anak-anak untuk belajar berbagai hal termasuk public speaking.

  1. Keterampilan bertanya

Keterampilan bertanya ini meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Jenis pertanyaan menurut maksudnya antara lain pertanyaan permintaan, retoris, penuntun, dan menggali informasi, dll.

Jenis pertanyaan menurut kedalaman isi: pertanyaan ingatan, pertanyaan pemahaman, pertanyaan penerapan, pertanyaan analisis, pertanyaan sintesis, pertanyaan evaluasi, pertanyaan ganda.

Metode ini juga dapat digunakan untuk membantu anak agar bisa merumuskan gagasannya dalam sebuah pertanyaan. Hal ini membantu anak untuk berani mencoba dan membahasakan perasaan dan gagasannya dalam suatu kalimat.

  1. Keterampilan bercerita

Bercerita adalah suatu bentuk penyajian bahan ajar dengan cara mengisahkan (narasi) pengalaman, peristiwa, kejadian. Seorang guru diharapkan menjadi seorang narator yang baik, dengan didukung berbagai keterampilan. Meski demikian, dengan adanya teknologi memungkinkan untuk menambah aneka variasi dalam bercerita.

  1. Keterampilan mengadakan variasi

Guru kreatif dapat menemukan aneka variasi dalam proses belajar mengajar. Anak-anak zaman berada dalam kondisi serba cepat dan instan.

Pemberian materi yang monoton dan kurang variatif akan cenderung membuat anak bosan. Untuk itu dibutuhkan keterampilan untuk bisa menemukan aneka variasi yang bisa membuat anak antusias.

Kurikulum Merdeka menjadi angin segar dalam dunia pendidikan hari-hari ini. dalam kurikulum ini peserta didik menjadi pusat. Dengan demikian, keterampilan guru dalam melibatkan mereka akan meningkatkan kemungkinan antusiasme anak-anak dalam menerima pelajaran ataupun katekese.

  1. Keterampilan memberi penguatan

Penguatan merupakan respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan perhatian, memelihara motivasi siswa, memudahkan siswa belajar, mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.

Penggunaan penguatan secara efektif harus memperhatikan tiga prinsip, yakni: kehangatan, keantusiasan, dan kebermaknaan. Penguatan ini bisa diberikan secara verba  (kata-kata pujian dan positif) dan penguatan non-verba (mimik dan gerakan badan).

Seorang guru agama Katolik harus menjadi pewarta iman yang ulung.

Kesaksian Iman Pewarta

Di samping keterampilan dasar keguruan, seorang guru agama Katolik harus menjadi pewarta iman yang ulung. Hidupnya menampakkan kesaksian sebagai murid Yesus.

Kesaksian iman ini menjadi penting apalagi bagi kaum muda millennial. Bagi mereka teladan akan lebih efektif dari pada kata-kata.

Kesaksian iman dapat didukung melalui keterampilan. Pertama, mempertanggungjawabkan secara lisan mengenai kebenaran iman. Iman yang sejati bukanlah iman yang buta. St. Anselmus mendorong dalam beriman perlu mencari pemahaman (Fides Quarens Intellectum).

Kedua, sharing pengalaman akan kehadiran dan peranan Allah dalam hidup konkret (keterampilan menghayati iman). Refleksi iman terhadap pengalaman akan Allah membantu dalam pewartaan. Kesaksian iman melalui pengalaman ini akan lebih hidup dan memberi inspirasi.

Ketiga, menjalani hidup sebagai orang kristiani secara normatif. Peduli pada penderitaan sesama dan murah hati, hidup dalam damai, mengampuni, dan bersedia mohon ampun, tenggang rasa, semangat berkorban, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Sebagai seorang pendidik iman Guru Pendidikan Agama perlu memiliki keterampilan bersaksi akan iman yang hidup.

Pertama, pengalaman menjalankan pesan Sabda Allah (penghayatan hukum kasih). Kedua, pengalaman menghayati kehadiran dan peranan Allah dalam hidup konkret.

Selain itu juga memiliki keterampilan sebagai Pendidik Iman yang mampu mengelola kelas, serta menggunakan berbagai media serta variasi dalam metode.

Lebih dari pada itu, seorang pewarta harus memiliki hati untuk dengan siap sedia melayani.

Suatu Panggilan

Paus Fransiskus mengajak untuk kembali menyadari panggilan sebagai pewarta Kristus. Th. Groome dalam karyanya, “Will there Be Faith” juga mengajak para katekis untuk meneladan Yesus Sang Guru.

Yesus menurutnya memakai pedagogi  Ilahi, dengan empat sikap: (1) ramah dan terbuka pada siapa saja, (2) hormat kepada setiap murid, (3) punya hati dan kepedulian, dan (4) menekankan kemitraan serta sosok pemimpin yang melayani. (Rm Heryatno. W. W. SJ: 9).

Selain empat kualitas tadi, seorang Katekis hendaknya kreatif dalam mengoptimalkan sarana dan prasarana, seperti Yesus. Ia menggunakan berbagai media yang ada pada zaman-Nya untuk masuk dalam dunia para murid.

Seperti halnya ketika Ia mengajar para nelayan, Ia memakai perumpamaan tentang pukat, jala, perahu dll. Seorang katekis hendaknya juga seperti itu. Ia harus bisa masuk ke segala lini kehidupan umat di segala zaman, tidak terkecuali di era 4.0 ini.

Jika kita tetap menghidupi panggilan seorang Katekis dan meneladan Yesus, kita bisa berharap pewartaan iman akan Allah, senantiasa hidup di antara Umat di segala zaman. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.