Kisah Inspiratif Laurentia Arlia Octapia Saputra, Survivor Kanker Otak

Impian Lia memecahkan rekor MURI sebagai Survivor Kanker Otak Stadium 2B lebih dari 30 tahun.

0 128

Oleh Laurentia Arlia Octapia Saputra, biasa dipanggil Kak Lia, sukarelawan anak-anak kanker sejak 2011 di RSCM.

Katolikana.com—Impian yang terpatri dalam hati saya menggambarkan sebuah perjalanan yang kuharapkan, melalui tiga kata: Iman, Imun, dan Amin.

Impian ini sederhana namun mendalam bagiku. Menyulap senyuman di wajah para pasien yang tengah berjuang melawan penyakit, sementara juga menghadirkan hiburan bagi mereka, merupakan impian yang kutuju.

Melihat senyuman itu merekah di bibir mereka, dan meninggalkan kesan yang bermanfaat serta bernilai di hati mereka, adalah tujuan utamaku.

Tidak hanya itu, dalam impianku juga terselip keinginan kuat untuk melihat negeriku selalu berada di garis terdepan, terus maju tanpa henti. Mari bersama, Indonesia, teruslah maju!

Meskipun impian pertamaku tidak terwujud sebagaimana yang kuharapkan, saya menyadari bahwa Tuhan telah memberiku jalan lain untuk mencapainya.

Awalnya, impianku adalah menjadi seorang dokter anak. Namun, ketika kanker menyapaku di kelas 4 SD, segalanya berubah. Biaya pendidikan dokter yang luar biasa tinggi membuatku terpaksa membuang impian itu.

Laurentia Arlia Octapia Saputra alias Lia kecil.

Keluargaku bahkan harus menjual rumah kami untuk membayar biaya pengobatanku yang tak terduga. Namun, di tengah segala kesulitan itu, Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya kepadaku. Dia membayar hutang-hutang kami dengan kasih-Nya.

Kisah hidupku berawal sekitar tahun 1990, ketika gejala-gejala yang aneh mulai muncul. Pusing-pusing, muntah-muntah, dan kelainan pada mataku menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Kunjungan ke dokter mata mengindikasikan kemungkinan adanya tumor di otak, mengganggu kinerja mataku. Mataku terasa juling ketika berjalan, namun Amin terlihat hanya pada mata yang sebelah kiri.

Setelah pemeriksaan awal oleh seorang dokter spesialis mata menimbulkan kecurigaan akan adanya tumor di otak yang mengganggu aktivitas mataku, saya dirujuk untuk pengobatan lebih lanjut. Rujukan tersebut membawa saya ke dokter saraf, di mana saya menjalani serangkaian tes kesehatan.

Setelah pemeriksaan, dokter memberi tahu orang tua saya tentang kecurigaan akan adanya tumor di otak. Namun untuk memastikan, saya dirujuk ke Profesor Padmo Sandjojo SpBS, seorang ahli bedah saraf terkemuka di RSCM.

Meski pun keluarga saya ragu dan mencari pendapat kedua dari seorang ahli onkologi di daerah Tomang, Jakarta Barat, yang juga merujuk saya ke Profesor Padmo di RSCM. Akhirnya, kami mengambil keputusan untuk menemui Profesor Padmo.

Momen pertama kali bertemu Profesor Padmo terukir dalam ingatan dengan kuat. Selain dikenal sebagai sosok rendah hati, ruang kerjanya pun menampilkan seni seolah galeri, dengan lukisan-lukisan indah di dinding dan hiasan seni di meja. Tak lupa, terdapat patung kepala Hipokrates yang menghiasi meja.

Saya yang memiliki minat pada artefak dan sejarah merasa terkesima. Di samping itu, saya menjalani serangkaian tes kesehatan dan direkomendasi untuk menjalani CT scan kepala guna memastikan diagnosis.

Lia memegang buku Aku dan Bedah Saraf di Indonesia.

Pada bulan Februari 1993, hasil CT scan menunjukkan adanya tumor di otak kecil saya, yang membuat Profesor Padmo menyarankan agar saya segera menjalani proses lebih lanjut.

Setelah berdiskusi dengan keluarga tentang biaya dan persiapan lainnya, saya kemudian dijadwalkan untuk masuk rumah sakit pada Rabu, 17 Maret 1993, dengan operasi besar yang direncanakan pada Jumat, 19 Maret 1993.

Hari Jumat yang mendebarkan itu dimulai dari pukul 07.00 WIB, dan baru keluar dari ruang operasi pukul 14.00. Keadaan ini membuat orang tua saya khawatir, namun akhirnya mereka lega saat mendengar panggilan dari pihak rumah sakit.

Setelah operasi, saya dirawat di ICU selama tiga hari. Di sana, saya mendengar kisah tragis seorang teman sekamar ICU yang meninggal karena leukemia, yang membuat ibu saya semakin khawatir.

Setelah keluar dari ICU, saya dipindahkan ke kamar rawat kelas 1 dengan biaya Rp 35.000,- per hari. Meski suasana di RSCM terasa menakutkan, saya dan ibu memutuskan untuk meminta pindah ke kelas 3 karena kelas 1 hanya dihuni oleh saya sendiri, yang membuatnya terasa seperti bangsal. Tarifnya pun lebih terjangkau, hanya Rp 3.500,- per hari.

Setiap hari saya diisi dengan hingga tujuh kali suntikan. Untungnya, ada sarana yang membuat proses ini terasa lebih mudah. Meski demikian, jarum-jarum itu meninggalkan trauma besar pada masa remaja.

Setiap kali melihat jarum, saya merasakan ketakutan yang membuat saya menangis dan berteriak histeris. Saat ini, yang masih terngiang di pikiran saya adalah harga obat suntik saat itu, yang terbilang mahal, sekitar Rp 67.500 per ampul pada tahun 1993.

Saya menghabiskan 17 hari di rumah sakit untuk perawatan itu. Sambungan pengobatan saya adalah radiasi, sebanyak 30 kali awalnya, ditambah 15 kali lagi untuk memastikan bahwa sel kanker benar-benar mati. Radiasi dilakukan secara manual, dengan saya menggunakan helm dari bahan mika.

Saya dilarang mandi selama sekitar 9 bulan karena tubuh saya tidak boleh terkena air, untuk menghindari risiko terbakar atau menghitam. Meski begitu, saya berusaha mempertahankan pikiran positif, menikmati setiap momen hidup dengan rasa syukur, itulah salah satu kiat saya untuk bertahan.

Pada 19 Maret 1993, saya menjalani operasi kepala hanya untuk memasang PV, selang untuk mengurangi tekanan cairan otak dan mengatasi hidrocephalus.

Meski tumor itu tidak bisa diangkat sepenuhnya, radiasi menjadi langkah selanjutnya dalam perjalanan penyembuhan. Meski penuh tantangan, saya terus bertahan dengan pikiran positif dan rasa syukur yang mengalir dalam setiap langkah saya.

Di tengah perjalanan pengobatan yang penuh liku, saya belajar untuk menghadapi ketakutan dengan Iman, kekuatan yang tulus dari hati.

Di usia 13 tahun saat duduk di kelas 2 SMP, saya menemukan Iman dengan sungguh-sungguh. Dengan keyakinan dan perjuangan yang tulus, saya akhirnya memilih menjadi seorang Katolik dan dibaptis pada 2 Januari 1996.

Lia di depan Lembaga Eijkman.

Di tengah tantangan hidup, saya tetap berusaha mempertahankan Imun yang selalu beriringan dengan Iman Katolik, dengan penuh ketulusan dan ikhlas.

Perasaan ini telah tumbuh sejak 1993, ketika saya dihadapkan pada diagnosa kanker otak stadium 2B. Saya belajar untuk menerima segala hal yang terjadi dan bersiap menghadapi hidup, tak peduli apa pun yang akan datang, sebagai anugerah.

Selanjutnya, Amin menjadi kata kunci yang ingin saya capai. Perasaan ini mulai menguat sejak 2018, ketika saya mulai merasakan panggilan-Nya dan keinginan-Nya untuk saya ikuti, namun saya merasa takut.

Seringkali, saya menolak-Nya, baik melalui doa maupun dalam pengalaman hidup sehari-hari. Ketakutan akan kehilangan, meski pada kenyataannya, mereka yang saya takuti kehilangan pun bukanlah orang yang sangat berarti bagi saya. Namun, hiburan dan kekuatan dari Tuhan selalu hadir dalam hidup saya, meyakinkan bahwa saya sedang dalam proses yang benar.

Kini, setelah bertahun-tahun perjuangan, saya berdiri di ambang sebuah pencapaian besar: menjadi survivor kanker otak stadium 2B selama lebih dari 30 tahun. Saya tengah mengupayakan pencapaian rekor MURI.

Impian saya tidak lagi hanya tentang kesembuhan pribadi. Saya ingin menjadi bagian dari bukti bahwa Indonesia mampu memberikan yang terbaik dan memiliki sistem kesehatan yang unggul.

Cintaku pada negeriku tak akan pernah pudar. Terima kasih, Indonesia, atas segalanya. (*)

Katolikana.com adalah media berita online independen, terbuka, dan berintegritas, menyajikan berita, informasi, dan data secara khusus seputar Gereja Katolik di Indonesia dan dunia.

Leave A Reply

Your email address will not be published.